
" Jangan mendekat! "
Teriak Anna mengangkat satu tangannya menghentikan langkah sang suami yang berusaha mendekatinya. Daniel memejamkan matanya sejenak ketika sang istri berteriak kepadanya. Tak pernah terjadi sebelumnya, tidak pernah wanita itu mengeluarkan suara seperti itu terhadapnya. Tetapi sekarang, wanita yang berstatus sebagai istri dan wanita yang begitu di cintainya berteriak terhadapnya.
Anna menyeka kasar air matanya, kini tatapan matanya begitu tajam melihat sang suami dan Aaron yang berdiri di dekat mereka. Anna melihat kedua pria itu secara bergantian dan dia bisa melihat dengan jelas tanda memar dan darah yang mengering di wajah tampan kedua pria di hadapannya.
" Sayang, aku bisa.... "
" Diam Daniel! "
Anna kembali berteriak kepada sang suami bahkan kini menyebut sang suami dengan namanya langsung. Wanita itu sadar jika itu salah, tetapi sekarang otaknya tidak bisa berpikir jernih. Anna seketika merasa sakit di kepalanya mengingat kejadian beberapa saat lalu yang tanpa sengaja dia mengetahui siapa yang sudah membunuh Ayahnya 13 tahun silam.
__ADS_1
Berbeda dengan Daniel yang sudah tidak mengerti harus bagaimana, Aaron tersenyum devil sembari menyentuh wajahnya yang sakit karena pukulan Daniel. Namun rasa sakit itu hilang ketika sesuatu yang membuatnya begitu berbinar. Aaron tersenyum senang karena rencananya berhasil untuk menjebak Daniel datang ke sini.
Semua itu adalah rencana Aaron yang ingin mengungkapkan kebenaran kepada Anna mengenai Daniel. Dan sesuai rencana, Daniel sendiri yang sudah mengatakan kebenaran itu walaupun secara tidak langsung. Tidak sia sia rencana dan ancamannya hingga membuat Daniel datang ke tempat yang sama dengan yang di berikan kepada Anna.
Aaron mengancam Daniel dengan membawa nama Anna, satu jam yang lalu bertepatan Anna pergi dari rumah dengan alasan pergi ke rumah sakit, Aaron mengirimkan sebuah foto Anna yang seakan sedang berada di tangannya kepada Daniel. Dan Daniel yang tidak bisa berpikir tenang langsung pergi ke alamat yang Aaron berikan tanpa berpikir dua kali karena dia tidak ingin wanitanya berada dalam bahaya.
" Saatnya aku menikmati pertunjukan ini. Bersiaplah untuk berpisah Daniel, karena setelah itu Anna akan menjadi milikku. "
" Jangan berbicara Daniel, jangan bicara! "
Lirih Anna menatap nanar pria di hadapannya, Anna memejamkan matanya dengan kedua jemarinya sudah dia genggam begitu erat. Anna mengatur nafasnya yang menjadi tidak teratur itu. Perlahan mata indahnya terbuka, terlihat jelas mata indah itu masih memerah serta buliran bening yang masih turun itu.
__ADS_1
Daniel memeluk erat tubuh sang istri meskipun mendapatkan penolakan keras dari wanitanya. Dia tidak melepas pelukannya itu, tetapi malah semakin merengkuhnya erat.
" Aku bisa menjelaskan semuanya sayang. Jangan tinggalkan aku! "
" Lepaskan! "
Anna menampar keras pipi sang suami setelah berhasil terlepas dari rengkuhan hangat itu namun terasa menyakitkan untuk saat ini. Daniel menoleh ketika menerima tamparan itu, sama sekali tidak ada balasan darinya meskipun pipinya memanas.
" Kau pembunuh. Mengapa kau membunuh Ayahku Daniel, apa alasan yang sudah membuatmu tega melenyapkannya? "
Anna berteriak sembari menarik kerah kemeja sang suami. Matanya memerah, buliran bening itu terus turun bersamaan dengannya berteriak depan wajah Daniel. Pria itu hanya terdiam menerima perlakuan kasar Anna, Daniel tidak tahu harus berkata apa melihat sang wanita yang terus menyebutnya pembunuh. Hatinya sakit ketika mendengar kalimat itu, bukankah dia memang seorang pembunuh? Tetapi mengapa saat Anna yang menyebutnya pembunuh hatinya terluka.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka bahwa suamiku sendiri yang sudah membunuh Ayahku. Kau kejam Daniel, kau sangat kejam. Apa kau tahu, hatiku sakit mendengar kenyataan pahit ini. Aku menikahi pembunuh Ayahku sendiri, kau pembunuh. "