
Di dalam toilet Anna terduduk di atas closet duduk sembari menunggu sesuatu yang dia pegang saat ini. Ya, wanita itu sedang menunggu hasil dari tes kehamilan yang beberapa saat lalu dia lakukan.
Saat merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, apalagi setelah mengingat terakhir kali dia datang bulan. Anna segera membeli sebuah alat tes kehamilan, dan tak menunggu lama dia segera melakukan tes itu.
Air matanya luruh ketika melihat sebuah hasil yang begitu membuatnya terharu. Anna bergetar ketika melihat hasil yang menunjukkan garis dua yang berarti positif. Anna menangis terharu dan tangannya kini mulai membelai lembut perut ratanya.
" Sayang, kau akan segera hadir ke dunia ini. Bunda sangat bahagia sayang, sehatlah di sana. Kami menunggu kehadiranmu, tetapi... "
Anna merintikkan air matanya ketika mengingat keadaan suaminya saat ini. Satu sisi dia sangat bahagia ketika mengetahui dirinya positif hamil, tetapi di sisi lain hatinya hancur mengingat sang suami.
Anna menghapus air matanya dan segera keluar dari toilet menuju brankar suaminya. Wanita itu duduk dan kembali menggenggam tangan suaminya, dan buliran bening itu kembali turun. Selama suaminya di rawat, selama ini pula dia terus menangis kala memandang wajah sang suami.
" Bangunlah! Aku membawa kabar bahagia untukmu. "
Anna menciumi tangan itu begitu lama hingga keningnya berkerut ketika merasakan sebuah gerakan dari tangan suami. Menyeka air matanya, Anna segera memeriksa keadaan sang suami yang memberikan sebuah respon.
__ADS_1
Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum bahagia ketika keadaan sang suami yang sudah jauh lebih membaik. Senyumnya merekah sempurna ketika sesaat kemudian pria yang di cintainya mulai membuka matanya perlahan.
" Ka kau sudah sadar? "
Anna bertanya dengan nada tidak percaya melihat sang suami sadar. Wanita itu terharu tenyata kehamilannya membawa sebuah mukjizat untuk suaminya. Anna membelai wajah pucat sang suami dan tak lupa mencium kening pria itu.
Daniel memejamkan matanya ketika menerima ciuman hangat itu, namun memorinya kembali mengingat kejadian yang sudah membuat keadaannya seperti ini. Tak terasa pria itu meneteskan air matanya mengingat semua kejadian itu.
" Alhamdulillah. Akhirnya kau sadar juga, aku sangat bahagia, suamiku. "
Anna terus mencium tangan sang suami dengan penuh kebahagiaan, kebahagiaannya hari begitu sempurna karena selain dirinya kini sedang mengandung, Ayah dari anaknya kini juga sudah bangun dari tidur panjangnya.
" Maaf! "
" Jangan banyak bicara dulu, kau baru bangun. Istirahatlah! "
Daniel memandangi wajah pucat istrinya begitu dalam, hatinya begitu hancur ketika mengingat wanita yang begitu di cintainya menolaknya waktu itu. Bukan hanya menolak, tetapi Daniel juga melihat sang wanita yang sangat membencinya.
__ADS_1
Masih teringat di benaknya ketika sang istri menampar bahkan yang paling meyakitkan adalah ketika wanita itu menolaknya sentuhannya. Hatinya sangat hancur saat ini, dia tidak bisa kehilangan wanita itu.
" Maafkan aku, Anna. Kumohon maafkan aku! "
Daniel memeluk erat tubuh wanitanya, hatinya merasa ketakutan ketika memeluk sang istri. Dia takut kejadian itu terulang lagi, di mana istrinya menolak pelukannya. Tetapi tidak seperti yang dirinya pikiran, ternyata Anna justru membalas pelukan itu bahkan terdengar tangisan dari wanita itu.
" Aku tidak bisa kehilanganmu, lebih baik aku yang mati daripada aku kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, jika kau meninggalkanku, lebih baik aku mati. "
" Hustt.... Jangan pernah bicara seperti itu, jangan pernah! "
Anna meletakkan telunjuknya tepat di depan bibir sang suami. Anna menggeleng sembari menyeka air mata sang suami, begitu lembut. Daniel segera menarik tengkuk sang istri dan mendaratkan sebuah ciuman. Ciuman yang pernah di tolak oleh sang istri, namun sekarang Anna juga menikmati ciuman itu.
Keduanya saling memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat mereka. Anna berusaha untuk berdamai dengan fakta masa lalu, sedangkan Daniel begitu menyesali semua perbuatannya.
" Jangan tinggalkan aku, sayang! "
" Tidak, tidak ada alasan untukku meninggalkanmu, suamiku. "
__ADS_1
Daniel kembali memeluk sang istri meskipun dia harus sedikit menahan rasa sakit akibat tembakan di punggungnya. Daniel mengelus kepala sang istri sembari mencium pucuk kepala yang terlapisi hijab itu.
" Aku akan menjelaskan segalanya! "