
Di sebuah restoran cepat saji serta tak lupa ada label halal, terlihat begitu banyak pengunjung untuk mengisi perut mereka setelah lelah bekerja seharian. Di waktu makan siang seperti ini, restoran menjadi tempat paling ramai di datangi. Muda ataupun tua banyak menghabiskan waktu istirahat mereka dengan cara seperti itu.
Begitu juga dengan seorang perempuan cantik serta dengan pakaian sopan dan sebuah penutup kepala yang tak pernah lupa dia gunakan ketika berada di luar. Matanya tak teralihkan dari ponsel di tangannya, jemarinya pun terlihat sibuk mengetik.
Setelah mengirimkan sebuah pesan, gadis itu kembali meletakkan ponsel tersebut di atas meja. Matanya sesekali melirik ke arah depan seperti sedang menunggu seseorang. Hingga tak lama kemudian seseorang datang dan berjalan ke arahnya.
" Maaf Nona Anindhita, karena sudah membuatmu menunggu. "
" Tidak apa apa. Silahkan duduk! "
Keduanya pun duduk saling berhadapan, namun Anin hanya menunduk tidak berani menatap pria yang berada di depannya. Di bawah sana kakinya gemetar bahkan kedua tangannya kini saling meremas.
Gadis itu begitu gugup ketika pria di hadapannya terus menatap dirinya. Christian, pria itu kini sedang menatap gadis yang bisa dia lihat begitu gugup. Bibirnya pun terangkat ketika melihat wanita pujaannya.
__ADS_1
Christian datang dengan pakaian formalnya, dirinya begitu bersemangat untuk bertemu. Bahkan, ini adalah hari pertama baginya mendapatkan kesempatan untuk makan berdua dengan Anin. Pria yang sudah mulai mengikuti jejak Daniel berusaha menetralkan nafasnya. Hatinya senang ketika pesan dan ajakan yang selama ini di tolak Anin, kini berhasil.
Ya, sudah beberapa hari ini Christian terus menghubungi gadis berkerudung itu. Tetapi tak ada satupun balasan dari Anin, bahkan Christian sudah hampir putus asa. Tetapi entah mengapa hari ini Anin menerima ajakannya untuk makan siang bersama. Dan hal itu berhasil membuat Christian senang bukan main.
Sudah cukup dirinya memendam rasa cintanya untuk Anin. Hari ini, Christian sudah memutuskan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada gadis yang masih menunduk itu.
" Bagaimana kabarmu? "
" Alhamdulillah. Kau sendiri? "
Christian di buat gemas dengan tingkah Anin. Baru kali ini dia melihat wanita yang menundukkan pandangannya ketika bersamanya. Dan hal itu semakin membuat Christian jatuh hati kepada gadis itu. Meskipun di lubuk hatinya, dia merasa sangat tidak pantas mendapatkan mutiara itu.
" Seperti yang kau lihat, Anindhita. "
__ADS_1
Seketika Anin memejamkan matanya mendengar ucapan pria itu. Dirinya tersenyum tipis, mungkin ini hal salah karena sudah menaruh perasaan kepada pria yang berbeda keyakinan dengannya. Tetapi jujur, dia juga tidak mengerti mengapa perasaan itu hadir begitu saja.
" Aku mencintaimu, Anindhita. "
Anin yang sedang meminum air setelah menyelesaikan makannya seketika tersedak ketika mendengar ucapan pria itu. Anin menatap manik Christian tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapnya.
Sedangkan pria itu berusaha bersikap tenang meskipun kini jantungnya berdetak lebih cepat. Dirinya bukan pria romantis dan bisa merangkai kata kata manis untuk seseorang. Dia bukanlah tipe pria seperti itu, jika dia ingin mengatakan sesuatu, maka dia akan langsung ke intinya.
" Kau sedang bercanda? "
Anna menatap tidak percaya pria di hadapannya. Apa dia salah mendengar, apakah dirinya tidak mencintai seorang diri? Dengan wajah terkejutnya, Anin masih menatap manik hitam milik Christian.
" Aku tidak bercanda. Aku memang mencintaimu, Anindhita. Entah sejak kapan perasaan itu hadir, tetapi sekarang aku hanya ingin kau bersamaku. Aku tahu bahwa diriku hanyalah seorang penjahat, tetapi tidak bolehkah penjahat sepertiku mempunyai sebuah perasaan? "
__ADS_1
" Jika kau menganggapku bercanda, maka kau salah besar, Anindhita. Aku sungguh mencintaimu. Dan sekarang aku ingin melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Bersediakah kau menerima lamaranku, Anindhita Wilson?