
" Tidak! "
Anna berteriak ketika melihat suaminya tertembak di punggungnya. Anna tidak melakukan itu, karena sebelum suara tembakan terdengar dia sudah lebih dulu membuang pistol di tangannya. Bagaimanapun dia membenci Daniel saat ini, tapi tidak pernah terbesit sekalipun di hatinya untuk membunuh suaminya sendiri.
Anna terjatuh menahan tubuh besar suaminya, Anna memangku sang suami yang kini menatap sendu dirinya. Anna histeris sejadinya ketika melihat sang suami seperti ini, sebencinya dirinya kepada Daniel tetapi dia tetap mencintai pria itu. Anna menyentuh wajah tampan itu dengan air matanya kini sudah terjatuh di wajah sang suami.
Daniel tersenyum sendu menahan rasa sakit tembakan di punggungnya, namun tangannya masih bisa membelai lembut wajah istrinya serta mengusap air mata sang istri. Jemari Daniel menyentuh setiap lekuk wajah sang istri, hingga jemari itu terhenti di bibir manis yang sempat menolaknya beberapa saat lalu.
" Jangan menangis sayang. Bukankah ini yang kau inginkan, sekarang sudah terjadi bukan? Jangan menangis seperti itu sayang, hatiku sakit melihatmu menangis. "
Daniel meringis kesakitan karena tembakan itu, Anna sudah sangat histeris apalagi tangannya sudah di penuhi darah kental suaminya. Anna menggeleng sembari menciumi tangan Daniel yang berada di wajahnya.
__ADS_1
" Akhhh... Aa aku mencintaimu sayang. Maafkan aku istriku. "
Anna menangis sejadinya ketika mata elang itu kini terpejam sempurna. Anna menepuk wajah itu berharap sang suami segera bangun. Namun tidak ada hasilnya, Anna berteriak histeris menyadari suaminya sudah tidak sadarkan diri.
" Bangun Daniel, cepat bangun! Jangan membuatku menangis seperti ini. Jika kau memang mencintaiku bangunlah! "
Anna meriksa detak jantung Daniel yang kian lemah, dirinya seorang dokter namun sekarang dirinya tidak bisa berpikir apapun. Tatapan Anna teralihkan kepada Aaron yang berdiri dengan sebuah pistol berada di tangan kanannya. Anna sangat yakin jika itu adalah perbuatan Aaron, karena saat ini hanya ada mereka bertiga di taman tidak terawat itu.
Mata Anna memanas melihat Aaron yang terlihat begitu tenang setelah menembak suaminya. Anna berjalan ke arah Aaron dan menampar keras pipi pria itu, Anna tidak menyangka pria itu berani menyakiti suaminya.
" Bajingan. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi kepada suamiku, Aaron. "
__ADS_1
Anna hendak berlari lagi ke sang suami yang dia baringkan di tanah itu. Namun tangan kekar Aaron menahan tubuhnya, hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
" Kau milikku Anna. Aku tidak akan membiarkanmu bersama dengan Daniel. Susah payah aku merencanakan hari ini, sekarang kau milikku. Daniel akan mati dan lenyap dari dunia ini selamanya. "
Anna terus berusaha melepaskan tangan Aaron dari pinggangnya. Namun Anna terkejut ketika mendengar ucapan Aaron yang ternyata sudah merencanakan ini. Anna mengerti bahwa kejadian hari ini adalah rencana yang Aaron siapkan.
Dengan sisa tenaganya, Anna menendang keras area bawah perut Aaron hingga berhasil membuat berteriak kesakitan. Anna terlepas dari cengkeraman itu karena Aaron yang kini memegangi area sensitifnya yang terasa sangat sakit bahkan kakinya tidak bertenaga hanya sekedar berdiri.
" Annastasia, kurang ajar sekali kau melakukan ini padaku. "
Anna tidak perduli dengan teriakan Aaron itu, dirinya kini sedang bersusah payah membawa tubuh berat itu pergi dari tempat itu. Dengan sisa tenaganya, Anna kini merangkul tubuh tak berdaya itu, perlahan namun pasti kini Anna berhasil membawa Daniel memasuki mobilnya.
__ADS_1
Tak membuang waktu, Anna segera menginjak pedal gas mobilnya hingga mobilnya kini melesat begitu tinggi. Dengan hati yang tidak tenang, Anna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi sesekali tatapannya melihat keadaan Daniel yang tidak sadarkan diri di sampingnya.
" Kumohon bertahanlah! Aku tidak bisa kehilanganmu Daniel. Aku akan berusaha menyelamatkanmu bagaimanapun caranya. "