
Flashback
Aaron yang masih berusia 23 tahun harus menerima kenyataan ketika dia pulang dari luar negeri menyelesaikan sekolahnya, tiba tiba mendapati seluruh orang di rumahnya sudah tergeletak dengan berlumuran darah di tubuh mereka. Lantai yang biasanya bersih kini terlihat begitu kotor dengan noda darah di mana mana serta bau yang begitu anyir.
Aaron yang begitu senang karena ingin memberikan kejutan kepulangannya kepada kedua orangtuanya, harus mengubur dalam dalam rencana itu. Karena ketika dia memasuki rumahnya, dia terpaku tanpa ekspresi ketika melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
Aaron menatap tidak percaya ketika melihat kedua orangtuanya tergeletak dengan bercucuran darah karena terdapat beberapa tembakan di tubuh mereka. Aaron segera berlari ke tubuh kedua orangtuanya yang sudah tidak bernyawa lagi.
" Mom, Dad? Apa, apa yang sudah terjadi? Mengapa kalian seperti ini? "
Lirih Aaron yang mencoba menepuk tubuh orangtuanya namun hasilnya nihil. Aaron menangis sembari memangku sang Mommy yang sudah pucat tanpa nyawa. Aaron berteriak histeris karena ternyata dia yang di berikan kejutan seperti ini.
" Siapa yang melakukan ini kepada kalian? "
" Aku akan membalaskan semuanya kepada orang yang sudah melenyapkan kalian Mom Dad. Aku berjanji akan membalaskan perbuatan kejinya. "
Mata Aaron kini sudah merah padam dengan tangan yang terus memangku sang ibu. Aaron benar benar sangat marah dan air matanya menetes lagi kala melihat kedua orangtuanya meregang nyawa. Aaron menatap sekeliling yang sudah begitu berantakan serta mayat beberapa pelayan di rumahnya juga ikut tergeletak.
***
Aaron terduduk antara nisan Mommy dan Daddy yang sudah di makamkan. Pria berusia 23 tahun itu menyeka air matanya yang lagi lagi turun meskipun sudah di tahan olehnya. Tangannya yang bergetar kini menyentuh gundukan tanah yang masih basah itu, seketika dia menangis apalagi ketika melihat wanita tercintanya kini sudah tidak ada lagi.
Aaron begitu menyayangi sang Mommy, sang Mommy yang selalu ada selama ini, di saat sang Daddy sibuk dengan urusannya, hanya sang Mommy yang selalu ada. Mungkin bisa di katakan bahwa Aaron lebih sayang kepadanya Mommynya daripada sang Daddy.
__ADS_1
" Mom, bagaimana Aaron bisa hidup setelah ini? "
Aaron tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini, Aaron bisa menyelesaikan sekolahnya hanya karena sang Mommy. Aaron kembali terisak di atas makam Mommynya, tak pernah di sangka dia akan kehilangan sosok ibu secepat dan dengan cara seperti ini.
Aaron meremas tanah dengan mata yang sudah memerah. Dendam begitu membara di tubuhnya ketika mengingat bagaimana kedua orangtuanya tewas secara tragis.
" Bajingan. Aku akan membalaskan kematian orangtuaku. "
Aaron kembali menjatuhkan kepalanya di atas makam sang Mommy, padahal dirinya baru semalam bertukar kabar dengan sang Mommy. Sengaja dia rahasiakan kepulangannya hari ini berniat untuk memberikan kejutan kepada sang Mommy. Tetapi ternyata dirinyalah yang mendapatkan kejutan yang tak pernah dia bayangkan.
Aaron tersadar ketika ada seseorang yang kini sudah berada di sampingnya. Pria 23 tahun itu melihat seorang anak perempuan yang begitu cantik dengan balutan kain yang menutupi rambutnya. Anak perempuan itu tersenyum kepada Aaron, Aaron pun menyeka air matanya.
" Kakak baik baik saja? "
Anak perempuan tersebut memperlihatkan keluarganya yang juga sedang berziarah di salah satu kuburan yang cukup jauh dari mereka berdua. Anak perempuan itu tersenyum kepada Aaron, dia tidak sengaja melihat Aaron yang sepertinya tertidur di gundukan tanah itu, dia pun berniat untuk membangunkan Aaron yang sebenarnya tidak tertidur.
" Aku pikir kakak tertidur, jadi aku berniat membangunkan kakak. Jika kakak mengantuk, pulanglah! Tidak baik tidur di area pemakaman bukan? "
" Siapa namamu? "
" Panggil aku Anna saja kakak. Oia apa ini makam orangtua kakak? "
Anak perempuan itu bertanya sembari tersenyum dan hal itu membuat Aaron tenang melihat senyuman gadis kecil itu. Aaron seakan merasa damai ketika dekat dengan gadis kecil di depannya padahal mereka tidak saling kenal satu sama lain.
__ADS_1
" Pasti kakak sedih bukan? Kalau begitu sama, aku juga sedih saat ayahku pergi meninggalkan kami selamanya. Tetapi bunda bilang kepadaku bahwa Allah lebih sayang kepada Ayah, makanya Allah mengambil Ayah. Bunda juga bilang, kita harus mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayangi, karena Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. "
Aaron tertegun mendengar perkataan anak kecil yang jauh dari umurnya berkata seperti itu. Aaron merasa dirinya sangat kalah jauh dengan gadis manis di depannya. Aaron tersenyum ketika melihat gadis manis itu tersenyum kepada dirinya.
" Tetapi mereka di bunuh oleh seseorang, bagaimana mungkin aku bisa mengikhlaskan kepergian mereka. Bukankah aku harus membalaskan kematian mereka kepada para pembunuh itu? "
" Ayahku juga di bunuh. "
Aaron terkejut mendengar ucapan gadis kecil itu, ternyata mereka tidak berbeda. Aaron melihat gadis kecil itu yang sekilas terlihat seperti tidak terjadi apapun. Sesaat Aaron tertarik dengan gadis manis itu yang kini sudah ikut duduk di tanah dengan ,memeluk kedua lututnya.
" Aku melihat sendiri bagaimana ayahku di bunuh di depan mataku sendiri. Aku bahkan selalu bermimpi buruk ketika tidur malam. "
" Tetapi kata bunda aku harus bisa mengikhlaskan kepergian Ayah, kata bunda aku tidak boleh terus bersedih. Kakak juga jangan bersedih lagi, nanti orangtua kakak akan bersedih di sana. Kakak harus mengikhlaskan mereka, percayalah nanti Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik lagi. "
Gadis kecil itu tersenyum dan hal itu membuat Aaron tenang yang seakan melupakan kesedihannya sejenak. Aaron menatap wajah cantik gadis kecil itu, yang entah mengapa membuat hatinya tenang.
Aaron tidak mengerti dengan gadis di hadapannya, dia tidak percaya bahwa gadis kecil nan manis itu begitu kuat. Aaron bisa membayangkan bagaimana seorang anak melihat kejadian yang tidak seharusnya dia lihat. Aaron begitu takjub dengan gadis yang berpakaian begitu sopan, sangat jarang dia menemukan anak kecil berpakaian seperti itu.
" Kakak jangan sedih lagi, aku janji nanti kita pasti akan bertemu lagi. Bagaimana kalau aku menjadi teman kakak? "
Aaron tertawa ketika mendengar ucapan gadis kecil itu. Aaron pun mengangguk mengiyakan perkataan gadis kecil itu, Aaron bisa melihat bagaimana gadis tersebut tersenyum senang sebelum akhirnya dia meninggalkan Aaron di sana. Aaron terus menatap kepergian anak kecil yang sudah membuat hatinya tenang, tanpa di sadari olehnya Aaron tersenyum melihat anak kecil itu berlari ke arah keluarganya.
" Anna, kau sangat cantik. "
__ADS_1
" Akhh... Sadarlah Aaron, dia hanya seorang anak kecil. "