Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Aaron's Arrival


__ADS_3

Di rumah sakit terbesar kota Tokyo, para dokter dan staf yang bertugas terlihat begitu sibuk dengan tugas mereka masing masing. Tak jauh berbeda dengan yang lainnya, Anna kini juga terlihat begitu sibuk dengan tugasnya.


Dengan jas putih yang melekat di tubuhnya serta satu buah stetoskop melingkari pundaknya. Dengan penuh senyum hangat, Anna memeriksa seorang pasien wanita paruh baya. Anna tersenyum lebar ke pasien tersebut serta menjelaskan perkembangannya saat ini.


" Tetap semangat karena tidak lama lagi Nyonya akan bisa segera keluar dari rumah sakit. Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa makan makanan yang sehat serta obat yang harus rutin di minum. "


" Terima kasih dokter. Aku dengar kau sudah menikah, apa itu benar? "


" Iya benar, aku sudah menikah sekarang. "


" Berarti aku tidak bisa menjadikanmu sebagai menantuku. Kau sangat baik dokter, aku suka dengan sifatmu. Jika saja kau belum menikah, aku pasti akan mengenalkanmu dengan putraku. "


Anna tersenyum mendengar perkataan yang hampir sama dengan pasien lain yang pernah dia tangani. Sama seperti orang lain, wanita paruh baya itu sangat menyukai kepribadian dokter cantik itu, hingga dia pernah berniat untuk memperkenalkan dokter itu dengan putranya, namun rencananya harus di kubur dalam dalam karena dokter cantik di hadapannya kini sudah memiliki seorang suami.

__ADS_1


" Ya sudah, jika tidak ada yang di bicarakan lagi, aku permisi. "


Anna pun segera meninggalkan ruangan itu dan entah sudah berapa ruangan sudah di masuki untuk bertemu atau sekadar menanyakan kabar tentang pasiennya. Anna berjalan menuju lift sembari melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan jam makan siang.


Wanita itu segera naik lift menuju lantai yang ada ruangannya. Anna pun keluar setelah pintu lift terbuka dan segera berjalan ke ruangannya. Membuka pintu ruangannya, namun matanya melotot ketika melihat seorang pria yang tidak pernah dia bayangkan dan berharap untuk bertemu.


Anna ingin keluar kembali, namun dengan cepat tangannya di cekal oleh pria itu. Pria itu menutup dan mengunci pintu itu sehingga kini Anna terjebak di ruangan miliknya dengan pria yang begitu di bencinya.


Anna sangat ketakutan kala ingatannya dengan beberapa hari lalu terngiang di ingatannya. Perlahan Anna memundurkan langkahnya dengan tubuh yang bergetar dan berusaha meraba sesuatu yang bisa membantunya saat ini.


" Aku tidak akan menyentuhmu! "


Pria yang ternyata adalah Aaron mengangkat kedua tangannya dan memundurkan langkahnya menjauhi Anna. Aaron mengerti jika Anna takut dengannya karena dirinya pernah ingin memaksa wanita itu.

__ADS_1


Aaron sendiri bisa berhasil ke ruangan Anna tanpa ada yang mencurigainya. Aaron datang tidak bermaksud untuk melakukan hal kurang ajar dengan wanita yang masih mengenakan jas kedokterannya. Aaron tidak berani mengambil tindakan yang bisa membuat Anna semakin membenci dirinya.


" Keluar! Jika tidak aku akan berteriak sekarang juga. "


Anna masih berusaha mencari ponselnya di meja belakang tubuhnya. Dengan tatapan yang terus berjaga jaga melihat pria yang hampir memaksa dirinya beberapa hari yang lalu. Jujur Anna sangat takut, namun sekarang dia tidak boleh memperlihatkan ketakutannya kepada pria brengsek itu.


" Aku tidak akan melakukan hal apapun padamu Annastasia. Aku datang kesini karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu. "


" Tidak. Cepatlah keluar! "


Anna mengambil sebuah vas bunga dan berusaha menggertak Aaron. Anna mencoba memukulkan vas itu, namun tidak bisa karena tangan Aaron lebih dulu menyangkalnya sehingga vas itu jatuh berantakan di lantai.


" Keluar! "

__ADS_1


Anna mencoba memberanikan diri dengan mendorong tubuh kekar itu dengan sekuat tenaganya. Namun tubuh Aaron tidak beranjak sedikitpun dan hal itu semakin membuat Anna takut dan berusaha untuk berteriak meminta tolong namun tidak jadi karena perkataan Aaron.


" Aku ingin mengatakan siapa pembunuh Ayahmu. "


__ADS_2