
Daniel menghentikan mobilnya ketika sudah berada di depan rumahnya. Keluar dari mobil namun ketika dia hendak melangkahkan kakinya tiba tiba ponselnya berdering. Dia melihat yang menelpon adalah Christian dan langsung mengangkatnya.
Daniel mendengar setiap perkataan yang di katakan oleh Christian melalui ponselnya, seketika dia menyunggingkan senyumnya kala mendengar ucapan yang membuat hatinya bahagia.
" Baiklah aku akan datang nanti malam. "
Setelah mengatakan itu Daniel kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Melepaskan jas dan sedikit melonggarkan ikatan dasinya sembari terus melangkahkan kakinya memasuki rumah itu.
Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari dapur, dan tanpa membuang waktu dia langsung berjalan ke dapur. Dia melihat wanita yang sudah menjadi istrinya kini sedang memeluk seorang pelayan. Daniel terus melihat dan mendengar setiap pembicaraan mereka tanpa berniat mengganggu mereka.
Daniel bersandar dengan pandangan terus menatap sang istri, hingga ketika istrinya tertawa begitu lepas entah mengapa hatinya juga ikut bahagia. Sebenarnya dia tidak pernah melihat sang istri tertawa begitu lepas, berbeda saat dengan dirinya.
Anna yang sedang tertawa mendengar perkataan Bu Ratih tidak sengaja melihat keberadaan Daniel di belakang mereka. Seketika dia berhenti tertawa sedangkan para pelayan sudah menunduk sebelum akhirnya mereka pergi dari sana.
__ADS_1
Melihat para pelayan pergi, Daniel pun melangkahkan kakinya mendekati sang istri yang kini menunduk. Anna meremas kedua tangannya karena takut jika Daniel marah kepadanya. Padahal dirinya hanya melakukan yang dia inginkan tidak bermaksud untuk membuat sang suami marah.
" Aku merasa lapar, apa makanan ini boleh aku makan? "
Seketika mata Daniel teralihkan kepada beberapa menu makanan yang tersaji di atas meja panjang itu. Meletakkan jasnya di atas kursi dia pun langsung mendudukkan dirinya di atas kursi.
Anna mengangguk dan dengan cepat menyajikan makanan ke dalam piring Daniel. Daniel terus melihat sang istri yang sedang melayaninya, tidak pernah terjadi sebelumnya.
" Not bad. Apa kau yang memasak ini? "
" Hm iya, aku yang memasaknya. "
" Aku suka, sajikan kepadaku setiap hari. "
__ADS_1
Anna hanya mengangguk sembari berdiri di samping sang suami tanpa berniat duduk di dekatnya. Daniel terus memakan masakan sang istri yang benar benar begitu pas di lidahnya. Entah sudah berapa lama lidahnya tidak pernah menikmati masakan rumahan seperti ini.
Anna kembali melamun melihat sang suami yang begitu lahap memakan masakannya. Anna memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengatakan keinginannya untuk bisa kembali bekerja sebagai dokter di rumah sakit.
Sejak semalam dia terus memikirkan hal ini, namun belum ada keberanian dan kesempatan untuk mengatakan kepada Daniel suaminya. Dia terus meremas kedua tangannya sesekali menggigit bibirnya.
" Katakan apa yang mengganggu pikiranmu? "
Seolah dia sudah tahu ada sesuatu yang di pikirkan oleh istrinya itu. Apalagi saat melihat Anna mengigit bibirnya, itu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Ingin sekali dia melu**t bibir merah muda itu.
" Apa aku boleh kembali bekerja sebagai dokter di rumah sakit? "
Daniel yang sedang membersihkan mulutnya pun melihat ke arah sang istri. Dia berdiri tepat di hadapan Anna yang kembali menunduk karena takut Daniel akan marah karena permintaannya saat ini.
__ADS_1
Daniel bisa melihat bagaimana wanita yang sudah berhasil membuat hatinya porak poranda, sangat mengharap jawaban yang bisa membuatnya bahagia. Daniel juga tidak bisa egois untuk tidak membiarkan istrinya itu melakukan hal yang dia inginkan.
" Baiklah kau boleh kembali bekerja. Kau akan bekerja di rumah sakit kota ini, bukan di kotamu dulu. Tapi ingatlah, jangan macam macam denganku, kau mengerti? "