
Setelah melewati begitu panjang kehidupan yang lebih banyak membutuhkan kesabaran dan keikhlasan, tak terasa sudah satu Minggu berlalu. Tak mudah melewati hari hari itu, banyak sekali rintangan yang harus mereka lewati. Dengan penuh suka duka, kesabaran dan keikhlasan di lewati oleh mereka.
Tak terkecuali dengan sepasang pasangan suami istri yang begitu bahagia. Bukan berarti mereka melupakan segalanya, tidak. Hanya saja mereka tidak ingin terlarut dalam kesedihannya.
Dalam malam yang begitu sunyi, di saat semua orang terlelap dalam mimpi indah. Sepasang suami istri itu terlihat baru saja menyelesaikan ibadah malam yang hampir setiap malam mereka lakukan bersama. Tak terkecuali malam ini, keduanya sedang berdoa dalam hati masing masing.
Aamiin...
Keduanya begitu serentak mengucapkan kata itu saat mengakhiri doa mereka. Saling melemparkan senyum satu sama lain serta tak lupa Anna menciumi tangan sang suami. Begitu pun Daniel yang mencium begitu lama kening wanitanya.
Seorang mantan pria bengis, brengsek dan kejam kini telah berubah total menjadi seorang manusia yang begitu dekat dengan sang pencipta. Menjadikannya sebagai seorang pria yang dulunya memiliki sikap berandal kini sudah menjadikannya sebagai seorang yang mencintai pencipta dan ciptaannya.
" Kapan bayi kita lahir? "
Ujar Daniel setelah merebahkan kepalanya di paha sang istri dan berhadapan langsung dengan perut buncit Anna. Tak lupa sesekali menciuminya serta tangan yang terus mengelus lembut perut sang istri.
" Masih lama. Bersabarlah! "
__ADS_1
Anna begitu bahagia ketika melihat suaminya sekarang. Tak terhitung sudah berapa banyak ujian dan cobaan yang mereka hadapi dalam membangun rumah tangga ini. Tetapi dengan kesabaran dan keikhlasan mereka berhasil menghadapi segalanya.
Bagi Anna ini adalah hal terindah yang Tuhan kasih untuknya. Meskipun di awal pertemuan dirinya dengan Daniel adalah kutukan baginya, tetapi sekarang itu merupakan sebuah anugerah.
" Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah, kau berikan hamba suami sepertinya. Berikanlah keberkahan dalam hidup kami, Ya Rabb. "
" Sayang, ku harap kau jangan terlalu stress ke depannya. Ingat, kemarin dokter mengatakan bahwa kau jangan terlalu stress. Untuk masalah Alisya biar aku yang urus, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Maksudku.... "
" Iya aku mengerti. Terima kasih karena selalu ada untukku. " ujarnya seraya mengecup kening sang suami sekilas.
" Tidak. Aku yang harus berterima kasih kepadamu karena sudah menerima segala kekuranganku. Bahkan setelah kau tahu bahwa aku yang sudah membunuh Ayahmu, kau tetap mau menerima ku. Terima kasih, sayang. "
***
" Rasanya aku tidak ingin pergi ke manapun, sayang. Aku ingin selalu berada di dekatmu dan calon anak kita, tetapi tidak bisa. "
Anna hanya tersenyum kala memandang wajah sang suami yang begitu cute di matanya. Tak lupa tangannya yang sedang sibuk mengikat dasi di leher Daniel suaminya.
__ADS_1
" Bukankah kau harus bekerja untukku dan anak kita. Jadi, lebih baik kau tersenyum sekarang, jangan seperti itu. " Anna terkekeh melihat raut wajah suaminya.
Tidak seperti seorang pria dewasa yang berumur 35 tahun, Daniel sungguh sangat tampan. Di depannya Daniel menjadi sosok pria manja dan posesif. Sedangkan ketika berada di luar, Daniel pasti akan berubah menjadi pria dingin. Itulah yang membuat Anna tidak takut jika ada wanita yang mendekati suaminya di luar sana.
" Bahkan jika aku tidak bekerja, uangku tidak akan habis. "
" Hustt... jangan bicara seperti itu. Bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan segalanya untuk kita. "
Daniel tersenyum mendengar ucapan sang istri. Jujur sejak dirinya menikah dengan istrinya, entah berapa banyak perubahan dalam dirinya. Dan dia sungguh beruntung mendapatkan seorang wanita seperti Annastasia.
Dulu tidak pernah mengenal Tuhan, hidup seperti yang di inginkan, merasa semua yang ada pada hidupnya adalah kerja kerasnya sendiri. Tetapi sekarang, dirinya semakin dekat dengan Tuhan, menjalani kehidupan sesuai syariat, serta bisa mengetahui bahwa segala yang di milikinya adalah titipan sang pencipta. Semua itu tidak terlepas dari doa dan dukungan Anna istrinya.
" Aku mencintaimu, istriku. "
Daniel menarik tengkuk sang istri dan memberikan sebuah ciuman hangat untuk istrinya. Rasa bahagia mereka salurkan dengan saling membagi Saliva. Sebuah rutinitas yang sudah di lakukan hampir setiap pagi.
" Aku juga mencintaimu, suamiku. "
__ADS_1
...----------------...