Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Hugging


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan jam 6 malam dan Anna tersenyum ketika melihat menu masakan yang dia masak. Tak hanya sendiri, dua orang pelayan juga turut membantunya dengan janji Anna yang akan bertanggung jawab nanti jika Daniel marah.


Anna tidak memikirkan kemarahan Daniel, sekarang dia hanya ingin melakukan keinginan memasak saat ini. Meskipun dia sudah memiliki sebuah ponsel namun tetap membuatnya merasa bosan.


Dan untuk menghilangkan rasa bosan di istana tetapi dia merasa di penjara di sini, Anna melakukan sesuatu yang bisa melupakan rasa sedihnya sesaat. Berada di sini tidak membuat Anna bahagia, menikah dengan pria sempurna tetapi tidak membuatnya merasa bahagia dengan pernikahan ini.


Terkadang Anna merasa dia bukan seperti seorang istri pada umumnya yang mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya. Anna merasa suaminya hanya menginginkan tubuhnya untuk di nikmati, tetapi Anna tidak merasa heran karena pernikahan ini di lakukan hanya untuk itu.


" Sudahlah Anna. Ini takdirmu sekarang, terimalah dan bersyukur karena sampai saat ini suamimu tidak melakukan kekerasan padamu. "


Anna menghembuskan nafasnya kasar dan berusaha untuk tersenyum walau kini air matanya sudah jatuh ke pipi mulusnya. Dengan cepat dia menyekanya agar para pelayan yang masih berada di sana tidak mengetahui dia sedang menangis.

__ADS_1


" Nona, apa kau menangis? "


Ternyata tanpa Anna sadari seorang pelayan wanita yang sudah berumur itu melihat dirinya menangis. Dia adalah pelayan yang paling lama bekerja dengan Daniel dan pastinya dia sudah mengetahui sifat tuannya itu.


" Ah tidak. Aku tidak menangis Bu Ratih, tadi ada debu yang masuk ke mataku. "


Anna tersenyum seperti tidak terjadi apa apa, namun pelayan wanita berumur yang bernama Ratih tahu bahwa nona muda cantik itu sedang berbohong. Dari sekian banyak wanita yang pernah di bawa oleh Daniel ke rumah itu hanya wanita di depannya yang di sukai.


Selain cantik, Anna juga sangat ramah dan rendah hati meskipun kepada para pelayan. Dan hal itulah yang dia bahkan para pelayan di sini sangat menghormati Anna. Terkadang mereka kasihan dengan Anna yang harus terpaksa terjebak di rumah besar namun seperti penjara.


" Bu Ratih bolehkah aku memelukmu? "

__ADS_1


Anna sudah menganggap wanita paruh baya itu sebagai ibunya sendiri tanpa membedakan status mereka karena bagi Anna mereka hanya manusia yang sama di hadapan Tuhan.


Anna memeluk wanita paruh baya itu dan dia pun menangis terisak dalam pelukan itu. Dia teringat kepada bundanya, dia tidak tahu apakah dia akan bisa kembali bertemu dan memeluk sang bunda.


" Menangislah nona! Apa kau tahu nona, tuan Daniel pria yang sangat baik. Dia tidak pernah bersikap kasar kepada para pelayan di sini kecuali jika dia sudah di khianati. Tuan Daniel sangat membenci pengkhianatan tetapi terlepas dari itu tuan Daniel adalah pria yang sangat baik. "


Anna hanya mendengar perkataan dari wanita paruh baya itu tanpa melepaskan pelukannya, wanita itulah yang sekarang menjadi tempatnya bersandar ketika dia bersedih.


" Mungkin kita tahu tuan Daniel memang kejam yang terkadang membunuh semua musuhnya. Sering bermain dengan wanita malam, tetapi aku yakin suatu saat nanti tuan Daniel akan berubah. "


Anna melepaskan pelukannya dan menatap wanita di depannya, sembari menyeka air matanya. Entah mengapa hatinya sakit ketika mendengar suaminya sering bercinta dengan wanita lain yang padahal dirinya juga sudah mengetahui hal itu bahkan sebelum mereka menikah.

__ADS_1


" Kau juga mengetahui perbuatannya yang kejam? "


" Benar nona. Kami di sini mengetahui hal itu, tetapi tidak ada yang berani dengan tuan Daniel. Kami tidak pernah ikut campur dengan urusan pribadi tuan Daniel, kami di sini hanya bekerja. "


__ADS_2