
Tak terasa kini sudah hari ke tiga Anna menemani sang suami, dan selama itu juga dia selalu berada di sisi sang suami. Bahkan Anna tidak cukup waktu untuk tidur, pulang ke rumah hanya untuk mengambil keperluannya saja dan setelah itu dia kembali menemani sang suami yang masih betah memejamkan matanya.
Anna meneteskan buliran beningnya dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan kekar suaminya. Tak pernah absen dirinya berada di dekat sang suami. Meskipun hatinya masih sakit dengan fakta Daniel, tapi dia tidak bisa jauh dari suaminya itu.
" Apa kau benar benar mencintaiku, Daniel? Jika kau memang mencintaiku, mengapa kau terus memejamkan matamu itu. Seharusnya aku yang berhak marah denganmu. Apa kau marah karena aku sudah menolakmu waktu itu? "
" Jika karena itu, aku berjanji akan selalu melakukan apapun yang kau inginkan. Tetapi kumohon bangunlah, aku masih ingin mendengar alasan kau membunuh Ayahku. Aku berjanji tidak akan memukulmu lagi, apapun alasannya aku akan berusaha menerimanya. "
__ADS_1
Anna sudah berusaha berdamai dengan hatinya tentang fakta pembunuhan sang Ayah. Awalnya memang begitu menyakitkan baginya, tetapi setelah Anna berpikir matang, dia sudah seharusnya mengikhlaskan kepergian sang Ayah. Kejadian itu memang memberikan bekas yang begitu mendalam baginya, tetapi dia tidak bisa terus berperang dengan hatinya sendiri.
Anna masih menunggu penjelasan dari sang suami, tetapi hingga saat ini pria itu belum menunjukkan tanda tanda akan segera bangun dari tidur panjangnya. Anna yang terus menatap wajah pucat suaminya teralihkan dengan sebuah suara panggilan masuk dari ponselnya.
" Bunda? "
Anna segera mengangkat ponselnya dan berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya saat ini. Anna tidak memberi tahu keluarganya sama sekali mengenai Daniel. Dia tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkan dirinya dan Daniel, cukup dirinya saja yang bersedih saat ini tidak untuk ketiga wanita kesayangannya.
Anna berusaha menahan tangisannya agar tidak terdengar ke seberang sana. Anna mengambil nafas dalam dalam sebelum menjawab pertanyaan sang bunda.
__ADS_1
" Aku dan suamiku baik bunda. Bunda tidak perlu mengkhawatirkan kami di sini. Seharusnya aku yang mengkhawatirkan bunda di sana, maaf karena kami belum sempat berkunjung ke sana. "
" Alhamdulillah jika begitu. Kami di sini baik baik saja, Anna. Bunda merasa tenang setelah mendengar langsung suaramu. "
Anna mematikan ponselnya ketika mereka menyelesaikan panggilan itu. Anna kembali menatap sang suami yang masih dalam keadaan yang sama. Anna berdiri namun tiba tiba kepalanya pusing, Anna memegang kepalanya dan memejamkan matanya sejenak. Setelah merasa sedikit lebih baik, Anna pun berjalan perlahan ke arah meja untuk mengambil sepotong roti karena perutnya sudah lapar.
Anna membuka bungkus roti, selama tiga hari terakhir pola makan Anna sedikit terganggu. Bahkan kini kantung matanya sudah menghitam akibat dari kurangnya dia tidur. Anna memasukkan sedikit roti ke dalam mulutnya, namun dia segera memuntahkan roti tersebut.
Anna berlari ke kamar mandi di ruangan itu dan memuntahkan segala isi perutnya. Anna merasa pusing serta merasakan mual. Anna memegang kepalanya sembari bersandar di dinding kamar mandi dan melihat dirinya di pantulan cermin. Wajahnya memucat, namun lagi dan lagi dia merasa mual dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
__ADS_1
" Ada apa ini? "