
Anna membuka pintu kamarnya setelah dari dapur untuk membuatkan sarapan. Namun dia heran dengan suaminya yang masih tertidur di balik selimut itu. Dengan atasan yang polos tanpa mengenakan apapun, Anna bisa melihat bagaimana tubuh kekar suaminya.
Dengan terus tersenyum Anna pun berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping tubuh sang suami. Tangannya membelai lembut wajah tampan yang sedang tertidur itu, menurutnya wajah itu seperti seorang anak kecil polos ketika sedang tidur.
Anna kembali mengingat tentang tentang identitas suaminya yang menjadi pemimpin mafia besar itu. Mata Anna berhenti di dada sang suami yang seakan mengingatkan dirinya dengan sesuatu di masa lalu saat melihat lukisan tatto itu. Jemari Anna perlahan turun ke dada dan meraba lukisan tatto tersebut.
Daniel yang merasa terganggu pun membuka matanya dan melihat wanita cantik di hadapannya. Anna tidak menyadari sang suami yang kini sedang menatap dirinya karena fokusnya kini kepada tatto itu.
" Sayang? "
Anna tersadar ketika jemari Daniel menyentuh tangannya yang masih betah di dada bidang itu. Anna pun tersenyum melihat sang suami yang baru bangun tidur, pun dengan Daniel yang kini kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang istri. Daniel terus menggeliat di dada sang istri dengan kedua tangan yang kini mengunci tubuh sang istri.
" Tidak biasanya kau seperti ini, sejak semalam sikapmu berubah. Apa ada sesuatu? "
Anna merasakan gelengan dari Daniel yang masih betah dengan posisi tadi. Daniel semakin memeluk erat dirinya, dan itu semakin membuat Anna penasaran dengan sikap Daniel yang tiba tiba berubah seperti ini.
__ADS_1
" Jangan tinggalkan aku! "
" Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu! "
Anna melepaskan pelukan Daniel dan menyentuh kening sang suami yang ternyata panas yang berarti suaminya saat ini demam. Daniel, pria itu kini terlihat lesu bahkan kini dirinya terlihat pucat.
" Kau demam. "
Anna pun hendak berdiri namun Daniel malah menarik tangannya, Anna kembali terduduk di depan sang suami. Anna heran ketika sang suami yang semakin aneh, dirinya hanya ingin mengambil sarapan dan obat untuknya tetapi Daniel tidak mengizinkannya.
" Tidak. Aku hanya ingin mengambil sarapan dan obat untukmu. "
" Baiklah. "
Anna pun segera keluar dari kamar meninggalkan Daniel yang kini bersandar di ranjangnya. Pandangan Daniel tidak terlepas dari sang istri yang kini sudah menghilang di balik pintu. Matanya teralihkan ke arah jendela yang sudah di sinari oleh sinar matahari yang menembus jendela kamarnya.
__ADS_1
" Maafkan Anna. Aku tidak bisa memberitahumu segalanya, aku tidak ingin kau meninggalkanku saat kau mengetahui bahwa akulah yang sudah membunuh Ayahmu. "
Lamunan Daniel buyar ketika sebuah notifikasi dari ponselnya masuk. Pria itu pun segera mengecek pesan yang beberapa saat lalu masuk ternyata dari Christian yang menanyakan dirinya. Christian pun juga berpesan bahwa hari ini ada klien penting yang akan bertemu dengannya.
Daniel menghela nafasnya ketika membaca pesan singkat itu. Setelah membalasnya, dia pun kembali menaruh ponselnya di atas nakas samping ranjangnya. Bersamaan itu pula Anna kini kembali memasuki kamar dengan sebuah nampan berisi sarapan dan obat demam untuk Daniel.
" Aku ingin kau menyuapi aku! "
Tanpa berpikir panjang Anna segera menyuapi sang suami dengan perlahan lahan. Dengan penuh kebahagiaan serta senyuman di wajah cantiknya, Anna begitu sabar menyuapi sang suami.
" Aku tidak ingin kehilanganmu. Maaf aku tidak bisa memberitahumu tentang diriku Anna. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. "
Beberapa saat kemudian Daniel menyelesaikan sarapannya dan tak lupa meminum obat yang sudah Anna persiapkan. Daniel menyadari raut wajah sang istri yang seolah sedang memikirkan sesuatu.
" Kau memikirkan apa? "
__ADS_1
" Hm apa aku boleh bertanya? "