
" Sayang? "
Ucapan lembut Daniel kembali sia sia. Dari tadi dia berusaha berbicara kepada sang istri, namun Anna hanya bersikap dingin kepadanya. Bahkan Anna hanya menatap keluar jendela mobil tanpa memperdulikan sang suami yang terus berusaha berbicara kepadanya.
Dirinya terisak dalam diam kala mengingat kejadian beberapa saat lalu ketika tiba tiba seorang wanita asing datang dengan membawa kabar yang menyakiti hatinya. Wanita mana yang tidak sakit hati ketika mendengar wanita lain sering tidur dengan suaminya bahkan kini sedang hamil anak suaminya sendiri.
Hatinya sesak setiap mengingat hal itu, mungkin di hadapan wanita itu dia bisa bersikap tenang. Tetapi sekarang, tangisannya pecah. Bahkan mereka tidak sempat menyantap makanan yang mereka pesan tadi karena Anna segera meninggalkan tempat itu.
" Aku bisa menjelaskan semuanya, Anna. Jangan dengarkan perkataan omong kosong wanita itu. "
Namun tetap sama, Daniel hanya bisa menghela nafasnya berat ketika sang istri masih bersikap dingin kepadanya. Bahkan sampai mobil Daniel berhenti di depan mobilnya, Anna segera turun tanpa memperdulikan Daniel yang mengejarnya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat serta di penuhi kekecewaan, Anna sedikit berlari menuju kamarnya. Dia berusaha menutup pintu kamarnya, namun kalah cepat dengan tangan Daniel yang berhasil menarik dan masuk bersamanya. Daniel masih berusaha bersabar menghadapi sikap sang istri yang sering berubah ubah karena efek dari kehamilannya.
" Aku ingin sendiri dulu, kumohon! "
Anna berusaha memberontak dari pelukan sang suami yang begitu erat bahkan tenaganya hanya terbuang sia sia. Daniel sama sekali tidak melonggarkan pelukan eratnya. Pria itu merasa bersalah kepada sang istri.
" Tidak. Aku akan menjelaskan segalanya! "
" Menjelaskan apa? Apa kau akan mengatakan bahwa kau sering bercinta dengan wanita itu? Ah tidak, bukan hanya wanita itu, tapi entah berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri. "
Tetapi Daniel masih bisa bersikap tenang karena dia tidak mau menyakiti wanitanya hanya karena kemarahan. Dengan wajah memerah menahan amarahnya, Daniel membungkam mulut Anna dengan ciumannya. Namun Anna malah mendorong tubuhnya hingga Daniel terpaksa melepaskan ciuman itu.
__ADS_1
" Aku kecewa kepadamu! Aku sangat kecewa! "
Anna menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dirinya menangis sesenggukan hingga membuat perutnya tiba tiba kram. Daniel yang melihat sang istri meringis kesakitan segera berjongkok di hadapan sang istri. Meskipun mendapat penolakan, Daniel tetap bersikeras mengelus perut sang istri. Dan entah mengapa, di saat tangan sang suami mengelus lembut perutnya, rasa sakit itu berangsur menghilang.
" Kau kesakitan, kita ke dokter sekarang! "
" Tidak perlu, sakitnya sudah mereda. Aku ingin sendiri dulu, kumohon mengertilah! "
Tanpa melirik sang suami yang masih berjongkok di samping ranjang, Anna segera membaringkan tubuhnya. Dengan posisi membelakangi sang suami, Anna kembali terisak. Hatinya masih enggan menatap wajah Daniel, karena ketika menatap wajah itu hatinya kembali teriris.
" Sayang? "
__ADS_1
Daniel mencoba menyentuh bahu Anna namun Anna malah menarik bahunya. Daniel pun tidak bisa berbuat apa untuk saat ini, dia pun mencoba memberikan waktu sendiri dulu kepada istrinya. Dia pun keluar dari kamar itu, tangannya mengepal kuat ketika mengingat sebuah nama yang membuat istrinya seperti ini.
" Kurang ajar kau, Celine! Sudah kuperingatkan jangan pernah menunjukkan wajahmu itu di hadapanku lagi. Tetapi sepertinya kau lupa, jangan harap aku akan mengampunimu kali ini, ja**ng! "