Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Trying To End Life!


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, yang mana dalam dua hari itu meninggalkan begitu banyak rasa sakit yang mendalam. Sakit hati, jiwa dan raga melebur sempurna bagi seorang gadis yang kini termenung di sandaran brankar rumah sakit. Sekilas dia melirik infus yang masih terpasang di tangannya.


Air matanya masih terus menetes, entah sejak kapan air mata sialan itu mengalir dari matanya. Mata indahnya kini tertutupi dengan sebuah bengkakan, bibir yang merah muda kini terlihat sangat pucat.


Rasanya separuh hidupnya hilang hanya dalam sekejap, jemarinya meremas kuat sprei putih bersih itu. Matanya memejam dan seketika semua kejadian yang berusaha di lupakan kini kembali terngiang ngiang di kepalanya.


" Sakit! " lirihnya sembari memukul pelan dadanya.


Hancur, sungguh hancur berkeping keping hidupnya. Dengan perasaan marah, sedih dan kecewa, Alisya mencabut kasar infus dari tangannya hingga membuat tangannya mengeluarkan darah segar. Dia tidak perduli, dengan langkah tertatih-tatih menahan rasa sakit yang masih terasa di seluruh tubuhnya, gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hanya dia sendiri, sedangkan kakaknya Anin beberapa saat lalu keluar sebentar. Tak lupa menutup pintu dari dalam, Alisya sudah berdiri di depan cermin. Tangannya menyentuh seluruh bagian wajah dengan bergetar, mata yang terlihat memerah dan bengkak. Hingga jemarinya turun ke area bibir yang di ujungnya masih terdapat bekas luka akibat gigitan bajingan itu.


Membuka beberapa kancing di dadanya hingga memperlihatkan banyak sekali noda merah dan bekas luka yang di tinggalkan bajingan itu pada tubuhnya. Detik itu juga dia jatuh ke lantai, meratapi nasibnya yang tidak beruntung. Tangannya mengepal kuat, tak hanya tubuhnya, tetapi hatinya hancur berkeping keping.


" Bunda, Alisya tidak sanggup lagi. Bawa Alisya denganmu, Bunda. " lirihnya mencoba menahan tangisannya.


Sungguh hidupnya berakhir saat kesuciannya di renggut paksa, jadi untuk apa dirinya hidup sekarang. Pikirannya benar benar buntu saat ini, Alisya tidak sadar apa yang sedang di lakukannya saat ini. Dia hanya merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi, bukankah dengan menyusul sang bunda akan membuatnya tenang? Itulah yang ada di pikirannya saat ini.


Memejamkan erat matanya, gunting tersebut sudah siap di tusukkan ke urat nadi pergelangan tangannya. Namun belum sempat gunting tersebut menusuk pergelangan tangannya, gunting tersebut lebih dulu di rebut oleh seseorang.

__ADS_1


Alisya pun segera membuka matanya dan melihat sang kakak, Anna. Dalam detik itu juga Anna segera memeluk sang adik yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Di ikuti pula Anin dan orang terdekatnya yang kini sudah berada di kamar mandi tersebut.


" Apa yang kau lakukan, Alisya? Apa kau sudah Kehilangan akal? "


Anna sedikit berteriak sembari memegang kedua bahu sang adik. Alisya menunduk, tangisannya begitu menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Matanya tidak sanggup melihat siapapun saat ini.


" Jawab Alisya! Jangan melakukan hal gila, jangan pernah berbuat sesuatu yang akan membuat kita menyesal! " Anna kembali merengkuh tubuh lemas adiknya.


Sebagai kakak, begitu sakit ketika melihat sendiri sang adik yang ingin mengakhiri hidupnya seperti beberapa saat lalu. Tidak, hak itulah tidak akan pernah terjadi. Dia akan berusaha membantu sang adik untuk sembuh dari rasa takut dan traumanya.

__ADS_1


__ADS_2