
Ketiga pasang mata indah itu seketika silau ketika seorang pria misterius itu tiba-tiba menghidupkan lampu yang sekilas membuat mata mereka sakit karena cahaya masuk ke mata mereka. Di saat lampu di hidupkan, ketiganya bisa melihat jelas seorang pria yang kembali duduk di hadapan mereka begitu tenang. Mata mereka pun tak luput memperhatikan pria itu yang menuangkan sebuah wine ke dalam gelas.
Sembari melihat ke arah ketiga gadis itu, Aaron meneguk minumannya hanya dalam satu kali tegukan. Gelas yang sudah kosong itu dia taruh begitu keras di atas meja hingga membuat gelas itu pecah. Hal itu membuat ketiga gadis itu ketakutan melihat pria yang sepertinya sudah gila di hadapan mereka.
" Brengsek! Kau siapa? Mengapa kau melakukan ini kepada kami? "
Agatha berteriak dengan begitu berani, gadis itu terus berusaha memberontak namun tetap tidak berpengaruh apapun. Hal itu pun yang juga coba di lakukan oleh Alisya dan Anin, namun hasilnya sama tidak ada perubahan pada ikatan di tubuh mereka.
Alisyalah yang paling ketakutan saat ini, hatinya sangat yakin jika pria di hadapannya adalah orang sama dengan orang yang menerornya selama ini. Alisya sama sekali tidak mengenal Aaron, tetapi mengapa pria itu menerornya. Berbeda dengan Anin, dokter gigi itu sedikit familiar dengan wajah pria menakutkan itu.
Anin mengingat ternyata pria itu adalah pria yang sama dengan yang dia tolong dulu. Namun setelah hari itu, dia sama sekali tidak pernah bertemu lagi dengannya. Dan sekarang, untuk apa pria itu menculik dan menyekap mereka seperti ini?
__ADS_1
Arghh...
Agatha meringis kesakitan saat tangan kekar pria itu mencengkeram kuat dagunya. Aaron begitu marah ketika gadis itu berani meneriakinya. Dengan begitu keras, Aaron menghempaskan begitu saja dan hal itu membuat wajah dan leher Agatha keram kesakitan.
Alisya dan Anin membulatkan matanya ketika melihat perbuatan kejam Aaron. Namun ketika melihat pria menakutkan itu, bibir keduanya tertutup rapat tidak berani mengeluarkan sepatah katapun lagi.
" Jangan berani berteriak kepadaku! Atau kalian akan menyesal dengan apa yang aku lakukan kepada kalian. "
Alisya tersentak kala dagunya di cengkeram oleh pria gila itu. Gadis itu meringis kesakitan dengan wajah yang mendongak melihat wajah menyeramkan Aaron. Air matanya kembali menetes kala pria itu tersenyum devil kepadanya. Ketakutan dalam dirinya semakin bertambah, memejamkan matanya agar tidak melihat pria yang begitu dekat dengannya.
" Lepaskan adikku, brengsek! "
__ADS_1
Anin berteriak kala sang adik di cengkeram oleh Aaron. Namun Aaron sama sekali tidak mengindahkan teriakan Anin karena matanya kini tak teralihkan dari wajah cantik gadis kecil di hadapannya. Cukup lama menatap gadis itu, Aaron melepaskan cengkeramannya. Pria itu menarik kursi dan duduk tepat di hadapan ketiga wanita itu.
" Seperti yang kau inginkan, sekarang aku sudah menunjukkan wajahku, Nona kecil. "
Tepat seperti dugaannya, ternyata benar pria di hadapannya adalah orang yang sudah menerornya selama ini. Anin dan Agatha mengerti ucapan pria itu, ternyata pria itu yang sudah mencoba meneror Alisya.
Namun melihat aura kekejaman Aaron, membuat bibir mereka tertutup rapat tidak berani bersuara. Ketiga gadis itu hanya menangis dalam diam ketika melihat pria itu keluar dari ruangan mengerikan itu.
" Alisya, tenanglah! Kita pasti akan segera bebas dari sini. Jangan takut! "
Meskipun dirinya juga merasa ketakutan, tetapi dia tidak melupakan sang adik yang lebih ketakutan darinya saat ini. Dengan menahan kesedihannya, Anin berusaha menghibur sang adik yang sudah berantakan itu. Bagaimana tidak, karena sang adik kini sudah terlihat semakin pucat, matanya semakin membengkak. Belum lagi pakaian yang sudah semakin lusuh, membuat hatinya tercabik melihat adik kesayangannya.
__ADS_1