Cinta Hitam Putih

Cinta Hitam Putih
CHP: Restless Heart


__ADS_3

Aaron membuka matanya dan melihat suasana ruangan bernuansa putih serta bau obat yang begitu menyengat. Aaron merasa sedikit pusing dan mencoba menyentuh kepalanya namun dia melihat tangannya yang sudah terpasang infus.



Dia juga melihat pakaian rumah sakit yang kini menempel di tubuh kekarnya. Dia menghela nafasnya kasar ketika dia kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dia tidak tahu siapa yang sudah membawanya ke rumah sakit, tetapi satu hal yang sangat dia ingat.


Dengan sangat jelas dia ingin mengatakan sesuatu kepada Anna namun tidak bisa karena dia lebih dulu tidak sadarkan diri. Aaron merasa sekujur tubuhnya retak dan saat ini dia benar benar lemah tak berdaya. Tak pernah terjadi sebelumnya, namun hari ini dia terbaring di brankar rumah sakit karena Daniel yang sudah membuatnya seperti ini.


" Sialan kau Daniel! Aku tidak akan mengampunimu setelah aku keluar dari tempat ini. "


Pria itu memejamkan matanya namun hanya wajah Anna yang terbayang bayang. Pria itu menahan kekesalannya dengan meremas kuat sprei putih rumah sakit itu. Akibatnya kini tangan kekar yang terpasang infus itu berdarah, namun dia sama sekali tidak mempedulikan hal itu.


Aaron membuka matanya ketika seseorang masuk ke ruangannya, seorang pria dengan setelan jas rapi kini menunduk di depannya. Aaron kembali menghela nafasnya dan memijit sekilas keningnya dengan tangan yang tidak terpasang infus.


" Maaf tuan Aaron. Kami gagal melindungimu hingga saat ini kau di rawat di rumah sakit. "

__ADS_1


" Pergilah aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. "


Pria itu langsung meninggalkan ruangan Aaron tanpa banyak kata lagi. Aaron kembali memejamkan matanya dan merasakan perih di wajahnya. Luka memar serta beberapa bagian yang di perban di wajahnya, namun siapapun yang melihatnya pasti tetap menatap kagum dengan ketampanannya.


" Anna. Apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui siapa pembunuh Ayahmu? "


***


Anna termenung di balkon kamarnya, tatapannya melihat langit yang begitu cerah. Hatinya masih bertanya apa yang akan di katakan oleh Aaron jika pria itu belum pingsan. Semenjak Aaron mengatakan hal itu, Anna selalu memikirkan tentang suaminya yang ternyata adalah pemimpin mafia itu.


Saat dirinya masih melamun, pintu kamarnya di ketuk dan itu berhasil membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Anna segera berjalan dan membuka pintu kamarnya dan melihat ternyata sang adiklah yang datang serta di ikuti juga oleh bunda dan Alisya.


Anna tersenyum dan menyuruh ketiganya untuk masuk. Mereka duduk di atas sofa depan ranjang milik Anna. Anna pun bertanya mengapa mereka datang menemuinya sekarang.


" Kak, aku mau minta izin kakak untuk pulang ke Osaka besok pagi. "

__ADS_1


" Ada apa? Mengapa begitu mendadak? "


" Tidak mendadak. Aku harus mengikuti acara penting di universitasku sebelum wisuda beberapa Minggu lagi. "


" Kami juga akan pulang besok dengan Anin. Lagipula kami sudah lama berada di sini. "


" Mengapa begitu, padahal Anna masih ingin bersama kalian. "


Anna segera memeluk ketiga wanita kesayangannya yang entah mengapa membuat hatinya sedih. Rasanya baru kemarin mereka bisa bersama tetapi sekarang mereka harus terpisah lagi.


" Tidak apa apa sayang. Bukankah kita masih bisa saling menghubungi? Lagipula bunda sekarang tidak khawatir meninggalkan kamu lagi, ada suamimu yang akan menjaga dan melindungimu. "


" Iya Kak Anna, Nanti jika ada waktu pasti kami akan kunjungi kakak. Ataupun kak Anna yang bisa ke Osaka dan tinggal di sana. "


Anna tersenyum melihat ketiga wanita di depannya, sesaat dia kembali mengingat tentang pembunuhan sang Ayah. Anna tidak tahu jika dia mengetahui siapa pembunuh Ayah mereka, apakah nanti dia bisa mengatakan kepada keluarganya.

__ADS_1


" Oia Alisya, bagaimana dengan pendidikanmu, apa sudah ada rencana ingin melanjutkan kemana? "


" Soal itu aku akan segera memberitahu kalian.


__ADS_2