
Linda masuk ke dalam kamar dan mulai menenangkan luci.
Alex kemudian mendekati melodi, yang masih pingsan.
Diangkat nya tubuh melodi, dan di bawa ke dalam kamar.
Alex mulai melepaskan semua ikatan melodi.
Saat alex selesai membuka semua ikatan melodi, melodi langsung bangun dan beranjak lari. Ternyata dia sudah siuman. Hanya terus berpura pura pingsan, untuk mencari cela agar bisa lepas.
" Mau kemana kau?"
" Argh...."
Alex menjambak rambut melodi, melodi terjatuh ke lantai. Membuat hidung nya kembali berdarah.
" Kau mau apa?" Tanya melodi, saat melihat alex meninggalkan baju, dan melonggarkan celana nya.
" Mau apa?, tentu saja bersenang senang."
Alex mendekat, dan mulai menciumi rambut melodi.
" Aku suka wangi rambutmu." Bisik alex.
Secepat kilat, melodi mendorong tubuh alex, dan mencoba berlari. Alex segera mencengkram pergelangan kaki melodi.
" Mau lari kemana kau..."
Alex menarik kaki melodi, membalikan tubuh nya. Dan langsung menindih tubuh melodi.
" Laki laki baj*ngan."
Plak !!
" Diam lah j*lang. Aku tau, kau sudah kama tidak mendapat sentuhan hangat. Aku yakin kau merindukan nya. Jadi, biarkan aku mengobati kerinduan mu itu."
Alex langsung menciumi melodi,
" argh..."
Melodi mengigit bibir alex.
" Kurang ajar. Berani nya kau."
Plak !! Plak !!
Pipi melodi memerah, ujung bibir nya berdarah. Melodi terus mencoba melawan.
Ting Tong..
Suara bel apartemen kembali berbunyi.
" Tolong" Teriak melodi, yang mendengar suara bel.
" Diam..."
" Emmmpphh.."
Alex membungkam mulut melodi.
" Linda, cepat keluar dan periksa. Siapa yang datang." Teriak alex.
" Hah, menyusahkan saja." Gerutu linda.
" Sayang, tunggu disini ya.. Mama akan segera kembali." Ucap nya pada luci.
Linda melihat dari layar kecil, seorang pegawai apartemen membawa pakaian.
" Siapa?" Tanya linda melalui mikrofon kecil, yang biasa digunakan untuk mengirim suara ke luar.
" Saya membawa laundry untuk kamar 1042 atas nama bapak alex wijaya."
" Alex.. apa kau mencuci pakaian mu?. Ada yang mengantar pakaianmu." Teriak linda.
" Ya, kau saja yang ambilkan." Teriak alex.
Melodi berusaha melepaskan diri. Namun alex menindihnya dan tetap membungkam rapat mulut melodi.
Linda masukan password untuk membuka pintu, dan saat pintu terbuka. Linda langsung di lumpuhkan oleh beberapa mafioso.
" Kevin?" Linda terkejut.
__ADS_1
" Linda, kenapa kau ada disini?, jangan bilang kau yang menculik melodi." Geram kevin.
" Bukan aku, alex.."
" Alex?, kau masih berhubungan dengan nya lagi?"
" Tidak.. tidak, aku..aku.."
Plak!!
Kevin menampar linda.
" Kevin, kau menamparku?"
" Katakan, dimana luci dan melodi."
" Luci ada di kamar depan, dan..."
Kevin langsung menuju kamar, di buka nya pintu, dan melihat luci sedang ketakutan.
" Dady..."
Luci berlari ke arah kevin.
" Dady, luci takut. Paman itu, dia memukuli momy."
" Sttt... luci tenang ya. Momy akan baik baik saja."
Kevin membawa luci keluar.
" Kevin tunggu, jangan tinggalkan aku." Teriak linda yang dipegangi oleh mafioso.
Kevin berbalik.
" Linda dengar, jika kau ada hubungan nya dengan penculikan ini. Jangan harap kau mendapat maaf dariku." Tegas kevin.
" Kevin.. aku tidak bersalah.. Kevin.."
Linda terus berteriak dan meronta-ronta. Berusaha melepaskan diri. Sekuat apapun linda berusaha, dia tak kan bisa. Akhirnya dia hanya bisa pasrah, dan menatap kepergian kevin bersama luci.
Sementara ryan dan daniel langsung mendobrak pintu.
Brak !!
Ryan terkejut saat melihat, alex akan menodai melodi.
" Alex !!!!"
" Oh hai, kau datang ingin melihatku bersenang senang."
" Lepaskan adik ku." Teriak ryan.
" Melepaskan nya?. Uh, tidak semudah itu. Kau sudah membuatku di pecat dengan tidak hormat. Tidak ada pesangon. Kau membuat hidupku hancur. Dan kau berharap aku melepaskan adik kecil mu ini, JANGAN HARAP !!!"
" Itu semua kesalahan mu. Jadi kau harus menanggung akibatnya."
" Tetap saja. Semua gara gara kau.!"
" Dengar, lepaskan adik ku. Dan aku akan mengampuni mu."
" Persetan dengan omong kosong mu. Kau pikir aku takut pada mu ?"
Ryan dan daniel mendekat.
" Jangan mendekat., atau aku akan menghabisi adik mu."
" Eegh eeegh..,"
Alex mencekik melodi.
" Jangan.." Teriak ryan dan daniel secara bersama.
" Bagus. Diam di sana."
Sekelompok mafioso datang.
" Uh, membawa pasukan rupa nya.." Sinis alex.
" Apa mau mu?" Tanya ryan.
" Mau ku?"
__ADS_1
Crakk !!
Alex merobek baju yang dikenakan melodi.
Ryan sudah tidak tahan lagi. Dia melempar belati, dan belati itu tepat mengenai lengan alex.
" Argh..."
Daniel langsung menendang tubuh alex. Alex tersungkur. Daniel segera menggendong melodi. Sebelum nya dia langsung menutupi melodi dengan jas yang dia kenakan.
Ryan datang dan langsung menghajar alex.
Plak
Plak
Bug
Bug
" Berani nya kau melakukan ini pada adik ku."
Bug
Bug
Bug
Ryan menyerang alex dengan membabi buta. Setelah puas menghajar alex.
" Bawa dia.." Seru ryan pada mafioso.
Baru saja ryan berbalik. Alex mencabut belati yang ada di lengan nya. Dan melempar ke arah ryan.
" Tuan, awas.." Teriak mafioso.
Ryan menoleh dan langsung menghindar. Ryan gagal menghentikan laju belati,
" Daniel, awas..." Teriak ryan.
Namun terlambat.
Jleb ...
Belati itu menusuk bahu kanan daniel.
" Argh."
" Cepat bawa dia." Perintah ryan.
Daniel yang sedang berjalan sambil mengendong melodi, langsung terjatuh dengan posisi duduk.
" Daniel, kau tidak apa apa?" Tanya melodi.
" Aku, aku baik."
Daniel menahan sakit. Melodi tau, jika belati itu cukup dalam menancap di bahu daniel.
" Daniel, look at me.."
" Ha?"
" Look at me now.."
Daniel menatap melodi, dan siapa sangka, melodi mencium daniel. Hal itu membuat ryan terkejut.
Mendapati daniel mulai merespon ciuman melodi, dengan cepat melodi mencabut belati pada bahu daniel.
" Argh.."
Daniel kembali kesakitan. Melodi tersenyum, dan mengakhiri sesi ciuman mereka.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...