CINTA SEGITIGA CEO

CINTA SEGITIGA CEO
Ingatan Kevin


__ADS_3

Sementara pemberkatan akan segera di mulai. Linda yang sudah sangat bahagia, karena rencana nya sebentar lagi akan berhasil. Menikahi kevin dan mengambil alih semua harta, dan perusahaan milik kevin.


Melodi yang mulai lelah, mencari ke segala penjuru gedung. Namun nihil, dia masih belum bisa menemukan anak anak.


" Apa ke dua mempelai sudah siap?." Tanya pendeta.


" Sudah." Jawap linda mantap.


" Bagaimana denganmu?"


Pendeta bertanya pada kevin. Namun kevin terlihat melamun.


" Sayang..," bisik linda. Kevin masih tidak bergeming.


" Kevin.!!" Bisik nya lagi, kali ini setengah berteriak.


" Ah ii..iya, ada apa?" kevin kelagapan.


" Saya bertanya, apa anda sudah siap?"


" Iy..ya. sudah"


Kenapa aku seperti pernah melakukan ini?, tapi bukan dengan linda. Melainkan dengan melodi. Dan kenapa aku sangat gelisah. Batin kevin.


" Baiklah, sekarang ikuti kata kata saya.." Ucap pendeta.


" Mam, dimana kakak ipar?" Gwen mulai gelisah


" Mama juga tidak tau." Ucap jenny


" Apa aku menyusul saja?" Usul gwen.


" Ide bagus, cepatlah."


Gwen mulai berlari menuju gedung yang tak jauh dari acara berlangsung. Gedung semi permanen, yang dibangun hanya untuk keperluan pernikahaan. Dan menyimpan segala yang diperlukan untuk pernikaahan dengan tema out door. Juga tempat bagi para koki memasak hidangan, untuk jamuan para tamu yang hadir.


" Ruangan apa ini?".


Melodi menemukan satu ruangan, yang seperti nya belum ia periksa.


" Halo, luci?, kenan?. Twins??"


Melodi, mengintip dari jendela, yang memang cukup tinggi. Jadi ia berpijak pada sesuatu yang bisa menjangkau nya menuju jendela.


" Anak anak??"


Ceklek Ceklek...


" Terkunci."


Dok


DoK


Dok


" Anak anak..." Teriak melodi.


Dilihatnya anak anak sedang tertidur. Sungguh aneh bukan. Mereka tertidur disini. Di dekat dapur. Pantas saja, saat melodi bertanya pada semua orang yang ada, mereka tidak mengetahui nya. Di sini juga terlalu berisik dengan suara dari dapur.


Melodi segera mencari seseorang, agar bisa mendobrak pintu.



" Hai tuan, bisa membantu ku." Ucap melodi tergesah gesah.


" Iya nona. Apa anda butuh kudapan? kue? jus? atau yang lain." Ucap pria yang memakai pakaian khas koki.


" Tidak tidak.., Aku ingin minta bantuanmu."


" Bantuan apa, tapi aku sedang sibuk nona."


" Aku mohon. Anak anak ku. Mereka terjebak di dalam ruangan."


" Dimana?"


" Disana, aku mohon."


" Baiklah ayo."


Setelah melodi menemukan orang yang dirasa bisa mendobrak pintu, mereka pun kembali ke tempat dimana anak anak tadi.


Brak..


Brak...


" Tidak bisa.." Ucap laki laki bertubur besar dan sedikit kekar.


" Coba lagi.. aku mohon." Ucap melodi.


"Minggir Lah." Perintah laki laki tadi kepada melodi.

__ADS_1


Brak..


Brak...


Brak...


Pintu terbuka, melodi segera berlari menuju anak anak nya.


" Sayang bangunlah."


Melodi menepuk pipi mereka secara bergantian.


" Seperti nya mereka pingsan, tertidur. Atau semacam nya." Ucap laki laki tadi.


" Lalu bagaimana?"


" Kita harus membawa nya keluar. Setidaknya ke ruangan yang lebih baik kan."


" Ya kau benar."


" Momy.." Kenan terjaga.


" Hai sayang, kau baik baik saja?"


Kenan mengangguk.


" Apa yang terjadi denganmu dan adik adik mu?." Tanya melodi sambil memeluk kenan.


" Dia.. dia memberi kami susu. Karena lelah, jadi kami tertidur." Terang kenan.


" Ya sudah. Ayo kita keluar dari sini."


Tak lama kemudian...


Duar...!!!!


Suara ledakan berasal dari dapur.


" Api api..." Suara teriakan dari arah dapur.


Bummmm....!!


Ledakan keras terjadi. Membuat api cepat membesar dan berkobar.


" Mom.." Kenan menatap melodi.


" Ayo kita bawa mereka cepat." Ucap laki laki tadi, langsung meraih luci, dan menggendongnya.


Melodi mengendong riana di punggung nya. Dan mulai berjalan keluar. Menerobos kepulan asap yang sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru gedung.


..


" Dengan ini.. saya menyatakan ka..."


" Api .."


" Kebakaran.."


" Lihat, gedung nya terbakar."


" Kebakaran?"


Kevin langsung menoleh ke arah gedung. Saat hendak pergi, linda mencekal lengan kevin.


" Ken, kau mau kemana?, pendeta cepat lanjutkan." Ketus linda


" Ta..tapi.." pendeta gugup karena api cepat membesar.


" Ma.., kakak ipar masih ada disana. Aku.. aku tidak bisa menemukan nya." Ucap gwen.


" Kevin.. Melodi dan anak anak ada di sana." Teriak jenny pada kevin.


Kevin kembali merasakan dejavu. Seketika ingatanya berputar cepat. Kebakaran ini, mengingatkan nya pada kecelakaan yang menimpa keluarga melodi.


" MELODI...."


Kevin berteriak, dan langsung berlari menuju gedung.


" Kevin... Ah sial."


Sementara di dalam gedung.


" Ayo cepat.." Ucap laki laki tadi.


" Iya..iya.."


Melodi yang mulai sempoyongan karena asap yang semakin tebal.


" Itu jalur evakuasi.."


" Tunggu.." Ucap melodi.

__ADS_1


" Ada apa...?"


" Kita melupakan satu anak lagi."


Melodi baru sadar, jika briana masih tertinggal disana.


" Sebaiknya kita keluar dulu, lalu kita akan mengambil yang satu lagi."


" Tidak tidak...."


" Momy, uhuk uhuk.. ada apa?"


Riana terbangun, melodi langsung menurun kan nya.


" Sayang, kau pergilah bersama paman ini dan kak kenan oke." Ucap melodi pada riana.


" No..." Riana mulai menangis


" Sayang, dengar. Paman ini adalah teman momy. Jadi kalian akan baik baik saja. Momy akan membawa briana. Dan secepat nya menemui kalian. oke" Melodi mencium pipi riana.


" Baiklah."


Riana memeluk melodi, begitu juga kenan.


Siapa wanita ini?, kenapa aku jadi tertarik ingin mengetahui semua tentang dia. Batin laki laki tadi.


" Momy harus segera kembali." Ucap kenan.


" Sekarang pergilah. Go go go.."


Melodi kemudian segera berlari kembali menuju ruang, dimana anak anak tadi berada.


Sesampai nya disana. Melodi melihat briana terbangun dan menangis.


" Momy.." briana berlari begitu melihat melodi.


" Sayang.." Memeluk briana.


" Mom.. aku takut."


" Tenanglah, momy akan membawa briana keluar dari sini oke."


Api dengan cepat menghanguskan properti yang ada di sana. Termasuk menutup akses melodi untuk keluar dari ruangan itu.


" Mom.. Apa kita terjebak?"


" Tidak sayang.."


Melodi terlihat berpikir. Lalu dia melihat ventilasi udara dari kayu, dengan ukiran indah.


Tanpa pikir panjang, melodi mencari apa apa saja yang bisa ia temukan untuk mendobrak ventilasi itu.


" Seperti nya itu cukup."


" Sayang.. kemari lah ayo."


Melodi mengintruksi kan kepada briana, agar dia naik ke atas pundak melodi, dan melompat keluar, supaya dia bisa mencari bala bantuan.


" Momy.. aku takut."


" Dengar, bri adalah anak yang kuat. Kau bisa melakukan nya. Sekarang bri harus keluar dari sana. Seperti yang biasa briana lakukan saat olahraga. Lalu secepatnya mencari dady, atau siapapun yang ada di luar sana. Dan meminta bantuan. Oke?."


" Tapi.."


" Sudah.. uhuk uhuk.. cepet sayang."


" Aku.. akan segera kembali mom."


Melodi sedikt menanjak tembok dan bergelantung, melihat melalui ventilasi udara, guna memastikan briana baik baik saja.


" Uhuk..uhuk.. asap nya semakin tebal. Aku harus bisa keluar dari sini"


Melodi berupaya menyingkirkan kayu besar yang menghalangi pintu masuk, dengan cara mendorong pintu sekuat mungkin. Namun apalah daya, tenaga melodi sudah terkuras habis.


Dan dia kini menjadi sangat lemah.


Brug...


......................


...----------------...


...****************...


...Jangan lupa like...


...komen...


...Vote...


...Hadiah...

__ADS_1


__ADS_2