CINTA SEGITIGA CEO

CINTA SEGITIGA CEO
Siapa Dia ?


__ADS_3

Ryan segera memacu kendaraan nya, dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit. Tempat di mana melodi di bawa.


Brak !!


Ryan membanting pintu mobil, dan masuk ke dalam rumah sakit. Ryan langsung menuju ruang IGD.


" Luci.."


Ryan menghampiri luci yang tengah tertidur di pangkuan salah seorang polisi wanita.


" Anda keluarga nya?" Tanya polisi itu.


" Ya. Saya adalah paman gadis ini, dan dimana adik ku?"


" Adik anda sedang diobati di ruang itu." Menunjuk sebuah ruangan.


Ryan langsung masuk kesana.


" Mel..."


Tanpa menghiraukan dokter dan perawat yang tengah menjahit luka melodi, ryan segera memeluk adik satu satu nya itu.


" Maafkan aku yang lalai menjaga mu." Bisik ryan.


" Bukan salah abang.."


" Tidak, tentu saja ini kesalahan ku. Aku terlalu larut dalam dunia ku sendiri. Hingga tidak mengawasi mu." Ucap ryan penuh sesal.


" Sttt, bang ryan tidak boleh bicara begitu. Sekarang aku disini, dan aku baik baik saja kan." Melodi tersenyum.


" Ya, aku bersyukur kau baik baik saja."


" Tapi daniel tidak sedang baik baik saja bang. Dia terluka terlalu banyak demi melindungi ku dan luci."


Ryan melepas pelukan nya, dia menatap melodi. Seakan ingin mengatakan semua akan baik baik saja.


" Bagaimana luka adik saya?, apakah parah?" Tanya ryan.


" Tidak, kami sudah mengeluarkan peluru yanga ada di dalam nya, serta menjahit luka."


" Bagaimana keadaan pasien satu lagi?."


" Dia masih di ruang operasi. Luka nya cukup parah. Satu peluru menebus bahu kiri nya."


" Apa dia akan selamat?, tolong selamatkan dia." Ucap melodi sendu.


" Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kami akan pergi sekarang." Ucap dokter itu, lalu pergi setelah perawat selesai memasang perban di bahu melodi.


Ryan menatap melodi, melodi menangis. Ryan kembali memeluk melodi.

__ADS_1


" Tenanglah, daniel pasti akan baik baik saja. Dia punya nyawa lebih dari satu."


" Benarkah?"


" Ya.., sekarang ayo kita tunggu diluar bersama luci."


Mereka menunggu daniel di luar ruang operasi. Karena luci tertidur, jadi ryan minta di siapkan ruang VIP agar luci bisa tidur dengan nyaman.


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ryan dan melodi menoleh.


" Ara?"


" Kak ara?"


Ucap melodi dan ryan bersama.


Ara menghampiri ryan, dan langsung memeluk nya. Ryan mencium bibir ara.


" Maaf, aku meninggalkan mu sendirian di sana." Sesal ryan.


" Tidak apa. Aku mengerti. Bagaimana keadaan daniel dan melodi."


" Daniel kenapa?"


" Daniel..., dia..."


Ting....


Belum sempat ryan menjelaskan. Dokter keluar dari ruang operasi. Melodi segera bangkit dan menghampiri dokter.


" Bagimana keadaan nya dok?"


Dokter melepas masker bedah dan juga sarung tangan.


" Operasi nya berjalan baik. Kami berhasil mengangkat peluru yang ada di dalam tubuh nya. Namun, pasien kehilangan banyak darah. Jadi..."


" Daniel...."


Seseorang berlari sambil menangis dan memanggil nama daniel.


" Dokter, dimana daniel. Apa dia baik baik saja?, aku ingin bertemu dengan nya." Ucap wanita tadi.


" Tenang, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat. Baru kalian bisa menjenguk nya. Kondisi pasien masih belum stabil sekarang."

__ADS_1


Tak lama kemudian, dua perawat keluar dengan brankar dorong. Daniel terbaring lemah di atas nya.


" Daniel..." Wanita itu menangis.


" Bawa pasien ke ruang.." Ucap dokter


" VVIP. Pastikan dia mendapat pelayanan terbaik." Ucap ryan.


" Baik."


Perawat dan dokter berjalan bersama mendorong brankar, menuju salah satu ruang VVIP. Wanita tadi terlihat mengikuti daniel, sambil terus menangis.


" Siapa wanita itu?" Tanya ara.


" Aku tidak tahu. Mungkin teman atau kerabat daniel." Ucap ryan.


" Bukankah dia adalah patner mu dalam segala hal. Bagaimana bisa kau tidak tahu."


" Aku tau semua keluarga nya. Hanya tidak mengenal wanita itu, mungkinkah dia...?". Ryan menggantung ucapan nya, saat melihat melodi yang terus saja diam.


" Siapa?" Tanya ara.


" Kita tanya daniel saja nanti. Sekarang lebih baik kita pulang dan istrihat. Kasihan melodi." Ucap ryan.


Ara menghampiri melodi.


" Ayo kita pulang." Ara merangkul melodi.


" Tapi daniel?"


" Ada dokter dan perawat. Lagipula kerabat nya juga sudah datang untuk menemani nya, bukan?"


Ara menatap melodi. Melodi mengangguk.


" Ayo kita pulang, kau perlu banyak istirahat." Ucap ara.


" Baiklah..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2