
Ammo sedang menemani bibinya di kantor polisi. Mereka telah memastikan bahwa korban kecelakaan tak dikenal itu adalah Carl. Berbagai bukti foto wajah, gigi, dan baju yang dikenakannya, dapat dikenali Bibi Harriet.
Mereka sedang memohonkan ijin untuk pembongkaran makam, untuk membawanya ke Giebellinch dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga.
Ammo tak bisa meninggalkan bibinya yang sedang rapuh, sendirian di negara ini. Rencana kunjungan dua hari, mungkin akan mundur. Dengan begini, Ammo terpaksa bekerja ekstra keras dari jarak jauh. Persoalan penyerangan fasilitas kesehatan miliknya, juga masih belum bisa ditangani dengan baik.
Pengacara mengatakan, bahwa pihak tertentu negara itu pasti telah mengetahui bahwa Ammo adalah pemilik fasilitas. Mereka mungkin akan meminta denda yang besar, untuk mengambil lebih banyak keuntungan.
Tapi Ammo masih bersyukur karena Dokter Sarah, Sanders, Oscar dan Nathalie telah tiba di tempat tujuan rahasia dengan selamat.
Lalu tentang Ana. Gadis itu terus membuatnya khawatir. Hanya dua hari setelah melakukan penyamaran, berbagai peristiwa terjadi. Ammo merasa Ana ada hubungannya dengan berbagai kejadian besar belakangan ini. Tapi dia selalu membantahnya.
Ammo merasa Ana merencanakan sesuatu di belakangnya. Mungkin itu sesuatu yang berbahaya. Tapi Ammo belum tahu apa persisnya. Hatinya merasa sangat cemas.
"Ammo, surat ijinnya sudah keluar. Mereka akan menggalinya besok pagi. Kau bisa memesan penerbangan untuk kembali besok sore." Bibi Harriet kembali dengan sebuah amplop. Dibelakangnya, Nick menemani dengan setia. Dia sudah mendapatkan ijin dan berkas-berkasnya lengkap.
"Baik, bibi. Aku akan mengabari Paman Brenton tentang hal ini. Semoga dia bisa membantu menyiapkan pemakaman untuk Carl." Harriet mengangguk.
Ammo langsung melakukan. panggilan dan menjelaskan situasi yang ada. Brenton jelas terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Carl tewas lima tahun yang lalu.
"Ammo, tapi aku masih bertemu dengan Carl setahun lalu di sebuah acara," lapor Brenton.
"Ya, paman. Aku tau ada yang menyamar sebagai Carl. Aku sudah menangkapnya. Dia bekerjasama dengan Paman Jake, Tuan Brook, Tuan Alistair, Rosie dan Aaron. Mereka ingin menghancurkan perusahaan kita!" jelas Ammo.
"Apa?" suara terkejut Brenton terdengar alami, jauh dari kesan pura-pura.
"Kuingatkan paman, jangan sekali-kali berpikir untuk mengkhianatiku. Apalagi ingin menghancurkan usaha keluarga kita. Aku takkan memberi ampunan!" tegas Ammo.
"Tidak! Aku tak pernah berpikir seperti itu," sahut Brenton ngeri.
Dia akhirnya mengerti beberapa kejadian belakangan. Berita kematian Jake dan Brook. Ledakan di rumah Aaron. juga menghilangnya para pekerja di kantor utama.
"Kemana Ammo membawa para pengkhianat itu?" pikirnya.
Sedari awal dia menyadari keponakannya ini berbeda dengan adiknya yang lebih lembut. Itu sebabnya dia menolak ajakan Jake untuk bersama-sama merebut kendali perusahaan dari Ammo.
Meski tidak terlalu cocok dengan Ammo, tapi setidaknya Ammo telah menunjukkan kemampuan mengelola perusahaan. Perusahaan keluarga berkembang pesat. Pendapatan juga meningkat.
Brenton bukan orang yang terlalu ambisius. Dia hanya butuh mempertahankan status keluarga serta penghasilan, untuk menunjang gaya hidupnya yang suka memelihara selir.
"Hallo!" Seruan Ammo, menyadarkan lamunan Brenton.
"Ya!" jawabnya gugup.
"Apa paman bisa siapkan pemakaman untuk Carl?" tanya Ammo memastikan.
"Tentu saja. Dia masih keluarga kita. Terima kasih Ammo, sudah meluangkan waktumu untuk mengurusi hal ini. Seharusnya kau bisa meminta bantuanku menemani Harriet untuk menjemput Carl ke sana," sesal Brenton.
"Tidak, Paman. Kau justru dibutuhkan di sana sebagai anggota keluarga tertua dan mengatur yang lainnya," harap Ammo.
"Tentu. Aku akan mengatur yang di sini. Kau jangan khawatir!" jawab pria tua itu cepat.
"Oke. Terima kasih, Paman." telepon terputus.
Brenton masih termangu, tak mengira bahwa sebenarnya Ammo mengakuinya sebagai yang tertua di keluarga, memintanya mengatur yang lainnya.
Bukankah sebenarnya dia baik? Terbukti dia bahkan yang mencari tau tentang Carl dan membantu Harriet untuk membawanya pulang dan memakamkan dengan penuh penghormatan.
__ADS_1
"Mungkin dia hanya tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan cara yang bisa kumengerti," pikirnya lega.
Ammo masih harus memesan penerbangan khusus untuk membawa penumpang khusus, besok sore. Kemudian dia membaca pesan Ana. Dia segera membalasnya, dan senang bahwa Candie sudah menghubungi Ana.
"Bibi, persiapan pemakanan diurus Paman Brenton. Tiket kembali untuk sore hari juga sudah ada. Apa bibi puas?" tanya Ammo.
"Terima kasih, Ammo. Tanpa bantuanmu, maka aku akan terus ditipu orang tak dikenal itu," ujar Harriet.
Ammo mengangguk. "Mari kita makan malam, lalu kembali ke hotel," ajak Ammo.
"Hemm...."
Bersama Nick, Ammo dan Harriet menaiki mobil yang mereka sewa sejak tiba di negara itu. Senja yang menggantung cantik di negara penuh matahari, benar-benar berbeda. Terasa lebih eksotis dengan jejeran pohon penuh bunga di sepanjang jalan raya.
"Tak heran Carl ke sini. Tempat ini memang sangat indah," gumam Harriet.
Ammo menggenggam kedua tangan bibinya yang ditutupi sarung tangan hitam. Tangan itu sedikit gemetar, yang jelas bukan karena kedinginan.
Ammo tak tahu harus menghibur seperti apa. Karena tak ada siapapun yang bisa menghibur kesedihan seorang ibu yang kehilangan putra.
Mobil berhenti di sebuah restoran yang direkomendasikan oleh supir tua mobil itu.
"Mari kita coba masakan baru, Bibi," ajak Ammo. Dia turun lebih dulu. Lalu memutari belakang mobil dan membukakan pintu untuk bibinya.
Tangannya terulur untuk membantu Harriet keluar. Tanpa canggung, digandengnya wanita paruh baya cantik berpakaian hitam itu. Nick mengikuti dari belakang.
Mereka berhasil mendapatkan tempat duduk dengan pemandangan paling leluasa di lantai dua restoran.
Ammo memesan beberapa makanan menarik, sesuai promosi yang disebutkan pelayan. Harriet hanya mengikutinya. Dia sedang tak berselera untuk makan.
Sesekali Ammo berhasil memancing tawa kecil Harriet. Setidaknya, dalam waktu dua jam itu, makanan lezat yang dipesan, telah habis mereka nikmati sambil mengobrol tak tentu arah.
Harriet mengangguk. Kemudian berdiri dan digandeng kembali oleh Ammo, untuk berjalan keluar.
Nick ikut berdiri dan mengawasi keduanya dari belakang.
Mobil kembali membelah jalanan. Lampu berwarna-warni semarak menyambut geliat genit kota di malam hari.
"Apa anda ingin berkeliling kota dulu, Tuan?" tanya supir.
"Apakah bagus?" tanya Ammo lagi.
"Saya akan bawa Anda dan keluarga ke icon kota yang gemerlap saat malam hari," ujar supir itu.
"Bagaimana Bibi? Apa kau mau kita keliling kota malam ini? Besok kita sudah harus kembali," tawar Ammo.
"Baiklah. Aku juga butuh sedikit udara segar," jawab Harriet.
"Baik, mari kita keliling kota dulu!" ujar Ammo gembira.
"Kenapa kau seperti anak kecil? Kurasa, kau yang paling ingin keliling kota." Harriet tertawa kecil.
Ammo hanya tersenyum. Mereka menikmati suasana malam kota itu.
"Di sini menyenangkan," komentar Harriet.
"Apa Bibi senang?" tanya Ammo. Dia telah mengambil cukup banyak foto sebagai kenang-kenangan untuk bibinya.
__ADS_1
"Sangat senang. Tapi ini sudah malam. Aku masih harus mengepak kopor agar besok semua tinggal diangkut," kata Harriet.
"Baiklah. Mari kita kembali." Ammo setuju untuk kembali. Yang penting baginya, adalah menghibur Harriet.
Mobil kembali melaju meninggalkan taman dengan icon kota. Jalanan mulai sedikit sepi. Supir melajukan sedikit kendaraannya. Hotel yang mereka tempati tinggal dua blok lagi.
"Perlahan saja pak, Nyonya sudah tidur," tegur Nick pada supir di sebelahnya.
"Baik." Sopir mengangguk dan menginjak pedal rem. Tapi rem itu tak berfungsi.
"Remnya tak berfungsi!" ujarnya panik
"Apa?" tanya Nick dan Ammo terkejut.
"Ada apa?" tanya Harriet yang terbangun dari tidurnya.
"Bibi, kita harus keluar!" putus Ammo.
"Apa maksudmu?" Harriet panik.
"Ada yang menyabotase mobil. Sepertinya ada yang tidak senang, kita membongkar kasus Carl!"
"Pak Supir, arahkan mobil ke jalan yang sedikit sepi dan menanjak. Jangan injak pedal gas lagi!" ujar Ammo.
"Oke!"
Supir itu berbelok tajam ke kanan, menuju jalan ke arah bukit. Tapi tak disangka kecepatan mobil justru bertambah.
"Aku tidak melakukannya!" seru supir itu takut.
"Berarti mobil ini sudah dikendalikan orang lain," pikir Ammo.
"Nick, lakukan gerakan ketiga!" Ammo memberi kode.
"Ya!"
Ammo memeluk bibinya, kemudian mendadak menbuka pintu dan melompat keluar. Nick juga melakukan hal yang sama. Ketiganya bergulingan di sisi jalan sunyi.
Namun supir yang tidak mengetahui kode Ammo, terlambat keluar dari mobil. Sekarang dia berteriak-teriak ketakutan, karena pintu mobil telah dikunci oleh entah siapa.
Ammo memandang mobil yang melesat cepat itu mengarah lurus ke atas tebing. Mobil itu melompati udara, sebelum jatuh di balik tebing. Ammo bisa mendengar suara ledakan dari balik tebing. Matanya terpejam, membayangkan supir tua yang baik hati itu.
"Nick!" panggilnya.
Tak ada sahutan. Tempat itu sunyi.
"Di mana Nick?" suara Harriet nyaris tak terdengar. Dia sedang gemetar ketakutan.
Ammo berdiri dan membantu Harriet berdiri. Matanya mengawasi sekitar. Harusnya Nick berguling ke kiri tadi. Ammo memperhatikan tempat remang-remang di bagian kiri jalan.
Tak ada Nick di sana. "Kita harus segera pergi dari sini." Ammo menggenggam tangan Harriet dengan kuat. Mengalirkan kekuatannya pada wanita paruh baya itu.
Harriet mengangguk. Dia menyadari kegentingan situasi. Dilepaskannya sepatu yang mungkin akan mengganggunya lari.
Ammo memasang perangkat di atas kepalanya. bersambungan dengan alat pendengar dan kaca mata khusus.
"Ariel, kami masuk jebakan di sini dan kehilangan Nick. Tolong jadi mataku!" panggil Ammo.
__ADS_1
*********