
Ana mengerutkan kening, menatap Ammo tajam. "Apa maksudmu?"
"Apa kau mengenali mereka semua?" Ammo balik bertanya.
"George, Adriana, lalu ini dan ini siapa?" tanyanya menunjuk foto James dan dirinya sendiri.
Ammo duduk di kursinya. Dia mempersilahkan Ana duduk di kursi seberang meja. Lalu membalikkan sebuah foto yang ada di meja ke arah Ana.
Di foto itu, ada seorang wanita yang tak dikenal Ana tadi, berfoto bersama dengan George, Ammo, Adriana dan seorang pria lain yang memeluk Adriana. Latar belakang foto itu adalah gedung panti asuhan. Ana mengenali tempat itu. Tapi siapa orang-orang itu? Apakah dua orang tak dikenal itu juga penghuni panti? Ana tak dapat mengingatnya.
Ammo lalu mengeluarkan sebuah recorder kecil dari kancing bajunya. Recorder itu dihubungkan dengan laptop. Setelah menyetel beberapa bagian, maka sebuah tayangan muncul di laptop. Ana memperhatikan.
Rekaman dimulai dari saat Ammo menerima panggilan telepon darinya. Lalu tampak James dikurung dan didesak untuk membuat pengakuan.
Ana sangat terkejut mendengar pengakuan James tentang apa yang dialaminya dua setengah tahun yang lalu. Dia menggeleng tak percaya.
Ammo memperhatikan reaksi Ana. Gadis itu memijit pelipisnya tanpa henti. Wajahnya memerah. Melihat itu, Ammo langsung menghentikan pemutaran rekaman.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Ana marah. Direbutnya laptop di meja. Tapi Ammo menahannya.
"Kau terlihat tidak sehat. Jika dipaksakan melihat lebih lanjut, kau mungkin bisa pingsan atau mungkin juga lebih dari itu." Ammo menolak tegas.
"Tidak. Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya telah kualami!" teriak Ana emosi. Dia memukul Ammo tanpa kendali.
__ADS_1
Ammo mengelak pukulan Ana ke wajahnya, lalu menyambar tangan yang terkepal itu dan menahannya di belakang punggung dan mendorong tubuh Ana menelungkup di meja.
Ammo menekan Ana hingga tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.
"Kau harus belajar menenangkan pikiran dan berkepala dingin. Tanpa hal itu, mereka akan terus memanipulasimu!" kata Ammo pedas.
Anna masih mencoba menggeliat dan bermaksud memukul bagian belakang Ammo dengan kakinya. Tapi Ammo segera menjepit dua kaki Ana lebih erat.
"Jika kau berniat merusak gaun almarhum mama, maka kau harus siap menerima kemarahanku!"
Kali ini nada suara Ammo terdengar dingin. Ana sampai bergidik mendengarnya.
"Ini gaun almarhum ibunya?" batin Ana. Dan dia serta Maya sudah lancang memakainya tanpa permisi.
Ana mengakhiri perlawanannya. Tubuhnya yang semula kaku dan tegang, kini mengendur.
Tapi Ammo tak serta-merta melepaskan kuncian tangannya. Ana bisa saja hanya bersiasat.
"Apa kau menikmati pose ini? Atau kau menyukaiku?" sindir Ana kasar.
Dan itu berhasil membuyarkan konsentrasi Ammo. Dia merasa sedikit malu dan keterlaluan. Lalu Ana dilepaskan.
Ana tersenyum penuh kemenangan. Pria terhormat seperti Ammo akan merasa salah tingkah jika seorang wanita menyerang simbol kesopanan dan harga dirinya.
__ADS_1
Ammo meraih laptop, mengambil kembali recorder dan menutupnya. Dia lalu duduk di kursinya dan kembali bersikap dingin.
Ana juga ikut duduk lagi. Dia memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sangat sakit.
Ammo terus mengawasi keadaannya. Memaksa mengeluarkan ingatan yang dikunci, mungkin akan berakibat buruk. Jadi Ammo tak akan mengambil resiko tersebut. Dia tak ingin kehilangan Ana lagi.
"Sebaiknya kau beristirahat di kamar saja. Mungkin besok sakit kepalamu bisa reda," saran Ammo.
Ammo meraih satu kotak yang ada di rak. Memilih beberapa dan menyodorkannya pada Ana.
"Ini obat sakit kepala. Mungkin bisa se —"
Ana memotong ucapan Ammo. "Apa kau mau meracuniku dengan obat kadaluarsa? Sudah berapa abad kau tak ke sini!"
Ammo tertegun. Dilihatnya kotak obat di meja. Dia menggeleng perlahan dan menyingkirkannya ke samping. Ditatapnya Ana lurus. Lalu berjalan ke pintu dan membukanya.
"Aku tak punya obat seperti yang kau mau!" ujarnya dingin.
Ana tak berkata apapun lagi. Dia keluar dari kamar besar itu. Ammo langsung menutup pintu dan menguncinya.
Di lorong, tepat dibalik pintu yang baru ditutup itu, Ana mengatupkan mulutnya menahan marah. Begitu banyak hal mengejutkan dari rekaman di laptop. Dan itu membuat pikirannya sangat kacau.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa tujuan mereka melakukan itu?"
__ADS_1
Ana tak habis mengerti.
******