
Di sebuah gurun, di pinggir jalan.
"Hei, kau sudah selesai belum?" teriak seorang pria yang berdiri di samping sebuah mobil dengan tak sabar.
"Iya, iya. Sebentar ... aduuhhh."
Suara seorang wanita menjawab dari gelapnya gurun.
"Ya ampun, baunya sampai ke sini. Kau makan apa tadi?" gerutu si pria dengan kesal.
"Aaaahhh ... legaa rasanya," ujar si wanita tak peduli.
"Astagaaa. Aku seperti sedang membawa anak-anak saja," cemoohnya.
"Hei, kau jangan salahkan aku. Bukankah sudah kubilang sedang sakit perut? Tapi kau memaksaku. Lihat akibatnya. Dan kau sekarang mengejekku? Menyebalkan!"
Suara manja gadis itu terdengar makin dekat.
Pria itu melihat gadis itu cemberut dan berjalan membungkuk sambil memegang perutnya. Wajahnya pias.
"Kau benar-benar sakit ya?" tanya pria itu berusaha mengurangi tinggi nada suaranya.
"Kau pikir, sakit itu bisa main-main? Kau sangat menjengkelkan malam ini. Aku mau pulang saja," rajuknya sambil melangkah ke arah belakang mobil.
"Hei, mau ke mana? Ini di tengah gurun. Tengah malam. Dan kau tak punya kendaraan. Bagaimana kalau kau dirampok orang di jalan?"
Gadis itu berhenti berjalan.
"Kau menakutiku!" serunya kesal.
"Baik, aku tidak akan membuatmu kesal lagi," bujuk pria itu dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Gadis itu masih menoleh ke sekitarnya. Dan memang tidak terlihat satu kendaraan pun yang bisa ditumpanginya. Dengan terpaksa dia berjalan ke arah mobil lagi dengan terseok-seok. Tanpa diduga tubuhnya jatuh di jalanan.
"Nathalie!" teriak pria itu tak percaya. Dengan segera dia berlari menuju si wanita yang tergeletak di tepi jalan.
"Nathalie ... apa yang terjadi? Kenapa kau pingsan? Apa kau salah makan?"
__ADS_1
Pertanyaan pria itu beterbangan bersama angin. Gadis di pelukannya tak merespon sama sekali.
"Kita tak usah pergi. Kubawa kau ke rumah sakit yaa. Bertahanlah." Pria itu tampak menyesal memaksa gadisnya ikut serja ke acara perjamuan malam itu.
Dengan sigap, diangkatnya tubuh ramping itu dari aspal dan membawanya ke arah mobil.
Duaaarrr!
Mobilnya di depan sana meledak dan terbakar. pintunya terbang entah ke mana. Kejutan dan getaran saat ledakan itu membuatnya jatuh di aspal, sambil memeluk Nathalie.
Mulutnya terbuka matanya membeliak lebar. Dadanya terasa bergemuruh. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mobil itu meledak begitu saja?
Dilihatnya gadis yang sejak petang tadi telah merepotkannya dengan diarenya. Dipeluknya gadis pingsan itu ke dadanya.
"Kau menyelamatkanku," bisiknya haru. Terima kasih Natalie. Dan maafkan kata-kata kasarku tadi. Kau malaikatku ... kau malaikatku," ujarnya berulang kali.
"Biar ku telepon ambulans," ujarnya setelah bisa menenangkan diri.
Tangannya meraba ke arah sisi tubuhnya, tapi dia tak menemukan saku jas. Tapi dia tak menemukan ya. Dia hanya mengenakan kemeja. Jas dan ponsel tersampir di belakang kursi kemudi mobil yang kini meledak Pria itu kembali terdiam bingung.
Diperiksa ya tas gadis itu. Dia menemukan ponsel cantik berhias batu permata yang dulu dibelikannya.
Dibukanya ponsel dengan mencoba kode-kode yang mungkin dipakai Nathalie. Dan setelah mencoba berulang kali, dia jadi tak bisa berkata-kata.
"Masa kode ponselmu adalah namamu sendiri? ujarnya menggelengkan kepala.
Dibukanya ponsel dan memasukkan nomer darurat ambulans. Tapi panggilan itu tak bisa tersambung. Diperiksanya layar ponsel. Tak ada jaringan. Dan baterai sudah mendekati mati.
"Haahh ... ya ampuuunn!" Dia mengeluh sambil menarik rambutnya kesal.
Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya beberapa kali, pria itu kembali tenang.
"Oke, ini bukan salahmu. Harusnya aku tidak pergi sejak awal. Mari kita ke rumah sakit."
Sambil membopong Nathalie, pria itu berjalan di sepanjang jalur sepi luar kota. yang jarang dilalui mobil umum.
"Hahh ... kenapa tadi aku memilih jalur ini? Menyulitkan diri sendiri saja akhirnya." Pria itu terus bicara sendiri selama perjalanan.
__ADS_1
Jalanan menjadi makin terang, dan bayang-bayang tubuhnya terlihat memanjang di jalan. Lalu terdengar suara klakson khas dari arah belakang. Pria itu berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.
Sebuah truk besar mengurangi kecepatan dan menyalakan lampu sein untuk menepi. Pria itu menunggu truk raksasa itu berhenti. Dia ingin menumpang, jika bisa.
"Apa kalian pemilik mobil yang terbakar itu?" tanya sopir dari balik jendela .
"Ya. Apakah kau akan melewati klinik atau rumah sakit? Bolehkah kami menumpang? Dia harus dirawat segera," jelasnya.
"Ada klinik kecil di sana, jika kau mau," ujar sopir truk.
"Ya, tak apa. Bisa tolong bantu aku mengangkatnya?" pintanya.
"Tunggu sebentar." Sopir truk itu menggeser duduknya ke arah pria dan wanita di tepi jalan. Dibukanya pintu truk, membantu pria itu mengangkat tubuh si gadis ke atas truk.
"Kenapa kau tidak menelepon ambulans saja?" tanya sopir truk sambil mengemudi.
"Ponselku ikut meledak di dalam mobil," jawabnya polos.
"Apa gadis itu tak punya ponsel?" tanya sopir itu lagi.
"Ada, tapi di sana tak ada jaringan. Nanti akan ku telepon polisi dari klinik," jawab pria itu sopan.
"Beruntung aku lewat sini. Atau kau harus berjalan sejauh dua kilometer baru menemukan klinik itu," ujar si sopir lagi.
"Sejauh itu?"
Pandangan pria itu sedikit memburam. "Kenapa aku mengantuk?" gumamnya.
"Mungkin kau kelelahan berjalan sambil menggendongnya. Istirahatlah. Nanti kubangunkan saat sampai."
Pria itu tak lagi mendengar ucapan si sopir truk. Dengkuran halusnya mulai terdengar.
"Sopir truk itu merebahkan kursi yang diduduki dua penumpangnya, agar bisa tidur lebih nyaman.
Suara musik dengan beat sedang, terdengar sepanjang perjalanan dari area gurun ke arah tol.
*******
__ADS_1