
Pagi hari, Kegiatan Ana tak banyak. Bersama Gan, dia keluar untuk belanja keperluan rumah. Tak ada hal mencurigakan sepanjang mereka keluar. Ana kembali mengenakan topeng wanita tua di wajahnya.
"Bukankah lebih baik anda kembali ke klan, Pemimpin. Anda tak perlu menyembunyikan wajah cantik itu lagi!" komentar Gan.
"Aku belum bisa memikirkan untuk tinggal di sana, jika maslah di sini belum ku selesaikan. Itu sama saja dengan sikap pengecut dan melarikan diri dari masalah. Mungkinkah ada banyak anggota klan yang pulang kampung jika mendapat masalah?" tanya Ana.
"Yah, beberapa," jawab Gan.
"Termasuk ayahku?" tanya Ana lagi.
Gan menggeleng dengan cepat. "Pemimpin lama memang dicari-cari oleh anggota klan. Dalam keadaan sakit dan tak berdaya, dibawa pulang. Tapi Beliau kembali meninggalkan klan, untuk mencari Anda berdua!" Gan meluruskan tuduhan Ana.
"Nah, sekarang Kau tahu aku tak mungkin meninggalkan negara ini dan pulang begitu saja! Siapa yang akan menghormatiku jika seperti itu?" jelas Ana.
"Saya kini mengerti, Pemimpin. Anda memikirkan tanggung jawab besar lebih dulu, sebelum diri sendiri!" puji Gan.
"Jangan memujiku, nanti aku sombong!" Ana mengingatkan.
Gan sedikit terkejut mendengar kata-kata itu. Seperti gurauan, tapi jelas merupkan peringatan untuknya. Ana tak suka melihat orang memujinya.
"Maaf, aku akan mengingatnya!" angguk Gan.
"Sekarang, mari kita kembali. Bahan-bahan makanan ini harus segera dibersihkan dan masuk ke lemari pendingin!" ajak Ana.
Gan mengemudi dengan hati-hati. Begitu hati-hati hingga membuat Ana gemas. "Apa kau baru belajar menyetir?" tanya Ana.
"Tidak, pemimpin! Tapi dalam aturan baku, aku harus menjaga Anda tetap aman. Itu sebabnya aku berhati-hati menyetir," jawab Gan.
"Bagaimana jika ada yang membuntuti, lalu mengejar kita?" tanya Ana.
"Aku juga bisa ngebut!" sahut Gan percaya diri.
"Kalau begitu, mulailah ngebut!" perintah Ana.
Dia menoleh ke arah belakang. Gan juga ikut melihat dari kaca spion. Ada sebuah mobil pick-up yang membuntuti dan berkali-kali mengedipkan lampu depannya.
"Mungkin pengemudinya memiliki urusan dengan Anda?" tanya Gan ragu.
"Aku jarang tinggal di sini. Tak mungkin ada yang kenal!" sangkal Ana.
"Tetapi, lampunya itu menandakan dia punya urusan. Kita harus menepi, untuk mencari tahu apa maksudnya," bantah Gan.
__ADS_1
"Terserah kau sajalah!" Ana menyerah. :Kau yang turun dan menemuinya. Waspadalah!" pesan Ana.
"Baik!" Gan menepikan mobil, membiarkannya dalam keadaan menyala, lalu keluar mobil setelah menutup pintu.
Ana mengeluarkan pistol dari tasnya dan mengarahkannya le orang yang juga keluar dari mobil.
Gan terlihat bicara dengan pria gendut itu. Kemudian pria itu kembali ke mobil, sementara Gan menunggu di tengah-tengah, antara kedua mobil.
Ana sangat berhati-hati. Dia tak ingin Gan mendapat masalah selama mengawalnya. " Harusnya aku yang turun tadi." Dia merasa menyesal sekarang.
Dilihatnya pria itu kembali dengan satu tas jinjing di tangan. Tas itu diserahkan pada Gan yang menerimanya sambil mengangguk dan tersenyum. Pengemudi mobil pick-up itu kembali ke mobilnya lagi. Gan kembali dengan membawa tas jinjing di tangan.
"Apa itu?" tanya Ana waspada.
"Barang belanjaan kita ada yang tertinggal di toko. Jadi, penjual itu mengejar kita untuk menyerahkannya kembali!" Gan mengangkat tas yang dipegangnya.
"Mobil pick-up itu melewati mobil mereka sambil membunyikan klakson. Gan mengangguk dan tersenyum. Orang di mobil juga tersenyum.
Namun Ana curiga, senyum itu bukan seperti senyum tulus. Matanya langsung terarah ke tas yang dipegang Gan. Seketika matanya terbeliak. Satu sinar merah kecil dan redup, menembus keluar dari dalam tas.
"lemparkan tas itu jauh-jauh!" perintah Ana. Gan bingung sedetik, tapi kemudian tersadar setelah Ana memencet klakson panjang.
Gan melemparkan tas yang tadi diterimanya, jauh tingg ke udara, di tengah jalan.
Urang-orang berlarian menyingkir dari jalan raya. Semua mata mengarah pada tas yang sedang melayang di udara. Tas itu meledak, sebelum mendarat di atas aspal.
Orang-orang ramai dan panik. Beberapa jendela kaca rumah sekitar, pecah akibat getarannya. Tapi tampaknya tak ada korban jiwa. Ana sangat geram.
"Gaaaann!" teriaknya emosi.
"Dengan ekspresi terkejut yang belum hilang, Gan datang menghadap. "Ya, Pemimpin," ucapnya.
"Biar aku yang menyetir. Kita pergi dari sini!" ujar Ana tanggap. Gan sedang shock. Dia tak kan bisa diharapkan untuk menyetir mobil di saat seperti ini.
Gadis itu mengangguk patuh. Dia ,memutari mobil dan duduk di bangku yang sebelumnya diduduki Ana. Sementara Ana hanya berpindah dari bangku yang satu, ke bangku lainnya.
"Savebelt!" Ana mengingatkan. Gan mengikuti perkataannya seperti robot.
Sambil mendengus kesal, Ana mengemudikan mobilnya. Meninggalkan tempat yang sekarang kacau balau. Suara sirine polisi mulai terdengar nyaring, Dia harus segera pergi dari sana dan mengejar mobil pick-up yang tadi.
"Ma-maafkan a-ku!" gagap suara Gan membuat Ana iba. Gadis ini bisa jadi adalah pengawal yang terbaik di klan. Tapi dia belum memiliki pengalaman lapangan.
__ADS_1
"Bisakah lain kali kau tidak membantah kata-kataku?" tegur Ana lembut.
"Aku akan mengingatnya. Maaf, sudah membahayakan nyawa Anda, Pemimpin," ujarnya penuh penyesalan.
"Bagaimana jika tas itu tadi sempat dibawa masuk ke miobil? Habis kita!" jelas Ana.
Perkataan Ana itu membuat tubuh Gan menggigil.
"Saya tak akan mengulanginya."Gan mengucap janji dengan yakin.
"Bagus! Sekarang kita harus mencari mobil tadi!" ujar Ana.
"Mereka pasti sudah menghilang!" duga Gan.
"Betul. Itu sebabnya kau harus membantuku memeriksa sekitar, halaman rumah yang kita lewati, maupun tempat parkir umum!" kata Ana sambil terus menyetir.
Baik!"
Mata Gan menyapu ke kanan dan kiri jalan. Memastikan tak ada yang lolos dari pengamatannya kali ini. Sebuah pengalaman berharga, karena tidak waspada, sudah diterimanya. Dan itu merugikan orang lain.
"Jika mereka menyasar mobil kiya, artinya penyamaranku sudah terbongkar! Aku butuh penyamaran baru!" gumam Ana.
"merepotkan sekali!" gerutunya lagi.
"Sekarang kau lihat, kan? Masih ada urusan mendesak untuk kuselesaikan, sebelum memutuskan pulang ke Klan!' jelas Ana.
"Aku mengerti," sahut Gan patuh,
"Lihat mobil pick-up itu!" tunjuk Ana pada sebuah mobil yang persis sama dengan yang tadi memberikan tas pada Gan.
"Mobilnya seruupa. Tapi warna dan nomor pelatnya berbeda!" ujar Gan cepat.
"Bagaimana jika itu ada;ah mobil yang kita cari?" tanya Ana.
"Merubah pelat mobil, bisa saja dilakukan dengan cepat. Tapi merubah cat mobil, rasanya tak mungkin!" Gan memberikan argumennya.
Ana terkekeh kecil. Dia menghentikan mobilnya di bawah pohon peneduh pinggir jalan.
"Kau perhatikan mobil kita!" perintahnya.
Gan melakukan yang diperintahkan, tanpa bertanya. "Ana memencet tombol dibalik kemudi. Tak lama cat mobil mereka berubah menjadi warna merah terang membara.
__ADS_1
Gan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Dia baru pertama kali melihat hal seperti ini. "Ajaib!" katanya.
**********