Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
111. Kekacauan di Pasar


__ADS_3

Malam sudah turun, saat keduanya sampai. Sementara Alexei menyiapkan makan malam, Ana memeriksa informasi di layar birunya. Dia mengutak-atik keyboard untuk mencari informasi tentang Bobby.


"Di mana kau. Berikan aku satu pertanda, untuk menemukanmu!" gumamnya gelisah.


"Apa kau menemukannya?" Alexei menyajikan hidangan di meja.


Ana menggeleng lesu. Ditatapnya hidangan sederhana itu, sambil terus berpikir.


"Makan dulu, nanti cari lagi!" desak Alexei. "Sudah saatnya kau belanja. Kulkasmu nyaris kosong!" kritiknya.


Ana mengangguk. Disendoknya makanan itu masuk ke mulut. Sejujurnya dia tak terlalu lapar. Tapi seperti kata Ammo, bahwa otak juga butuh asupan agar bisa terus berpikir.


Alexei menyiapkan apa yang ada di kulkas. Hanya ada beberapa kentang manis yang dipanggangnya dengan sedikit merica dan garam. Lalu menumis sayur dan jamur kalengan ditambah irisan daging asap dan taburan keju. Dua potong sosis goreng dan telur mata sapi.


"Enak," puji Ana jujur.


"Besok aku akan belanja isi dapur. Kau di rumah saja!" putus Alexei.


"Tidak. Aku harus keluar. Sudah lama aku tak melihat lingkungan ini. Aku harus memeriksa kemungkinan sekecil apapun! Jika kita takut dengan tejanan Biro, artinya mental kita sudah kalah!" bantah Ana.


"Baiklah ... akan kutemani," Alexei tak ingin berdebat.


Hingga larut malam, keduanya berdiskusi dan memikirkan segala kemungkinan yang mungkin diambil Bobby. Tapi semua pelacakan itu menemui jalan buntu.


"Haaahhhh!" teriak Ana kesal.


"Sudah pukul satu dini hari. Istirahatlah! Besok kita lanjutkan lagi pencariannya," saran Alexei.


Ana memasang pelindung rumahnya. Lalu menata sofa di ruang tamu. "Sofa ini bisa ditarik lebih panjang. Jadi paman bisa tidur lebih nyaman," ujarnya.


"Good night!" ujar Alexei.


"Good night!"


*


*


Pagi itu, Ana dan Alexei memutuskan untuk sarapan di luar setelah belanja keperluan rumah. Saat akan membayar di kasir, Ana mengeluarkan kartunya untuk digesek. Tapi Alexei langsung mencegahnya.


"Biar ku traktir!" ujarnya cepat.


"Oh? Baiklah." Ana mengangguk senang.


Mereka duduk di foodcourt yang ada di pasar itu. "Apa kau tak punya uang tunai?" tanya Alexei.


Ana menggeleng sambil menggigit roti sarapannya.

__ADS_1


"Yang mengejarmu pasti akan langsung tahu, jika kartu itu kau gunakan! Mereka pasti sudah mengantisipasi hal ini! Menunggu kau lengah, atau kehabisan uangtunai!" prediksi Alexei.


"Paman benar, aku lengah tadi. Terima kasih sudah mengingatkan," ujar Ana.


Sembari makan, matanya mengawasi keramaian. Dia melihat beberapa hal-hal yang umumnya dilakukan seorang mata-mata saat mengamati. Tapi orang-orang itu terlihat tak tertarik padanya. "Sepertinya penyamaranku berhasil," batinnya.


"Tapi, siapa yang sedang mereka awasi?" batinnya lagi. Ana mengeluarkan cermin kecil dari tas tangannya. Dia pura-pura sedang bercermin. Namun matanya mencari tau hal-hal di belakangnya.


Alexei menyadari hal itu. "Apakah ada yang menarik perhatianmu, di belakang sana?" tanya Alexei tertarik.


"Aku melihat tiga orang di sekitar kita, dan seorang wanita sedang mengawasi sesuatu di belakangku. Aku ingin tau, apa yang membuat orang-orang berpenampilan necis itu masuk ke pasar rakyat.


"Biar kusebutkan!" ujar Alexei. Seatu pasangan kasmaran duduk di meja dekat toko bunga, di sebelah kanan punggungmu. Tapi mereka terlalu santai dan natural, untuk dijadikan target mata-mata!"


Alexei menjelaskan apa yang matanya lihat. Pandangannya lepas ke arah belakang Ana.


Ana menggeser cermin kecilnya, melihat pasangan yang dimaksud Alexei. Dia mengangguk samar, setuju dengan penilaian pria itu. "Bukan mereka!"


"Di punggung kirimu, ada seorang nyonya tua, berbincang sopan dengan seorang kakek tua. Dia terlihat bosan dengan obrolan itu, tapi tak ingin menyakiti pria tak tau diri itu!" komentar Alexei lagi.


Ana terkikik mendengar ulasan itu. Dialihkannya arah cermin ke sana. Dan Ana salut pada Alexei. Pria tua itu benar-benar membuat si nyonya tidak nyaman.


"Apa kau ingin menyelamatkan seorang nenek?" tanya Ana dengan senyum lebar. Wajah Alexei cemberut mendengarnya.


"Aku hanya merasa tidak tega melihat nyonya tua yang sopan itu tak bisa menolak mendengarkan obrolan seseorang. Itu pemaksaan namanya!" gerundelnya.


"Ada pemain biola sedang ngamen di dekat toko barang antik." Ana menggeleng.


"Ada seorang wanita sedang menyuapi bayi, tepat di meja belakangmu!" kata Alexei lagi.


Ana masih menggeleng. "Adakah yang lain?" tanya Ana.


"Ada seorang pria mengenakan hoodie, duduk sendirian minum segelas kopi. Kurasa, dia menyadari ada mata yang mengawasinya. Dia duduk tegang dan kaku seperti patung taman!" komentar Alexei.


"Itu dia!" ujar Ana. Dia temanmu?" tanya Alexei heran. "Bagaimana kau tau itu temanmu tanpa melihat?" tanyanya lagi.


"Aku tidak tau dia temanku atau bukan. Tapi kalau tingkah lakunya seperti yang kau katakan, aku rasa, dialah orang yang diincar empat orang itu. Dia sengaja tetap berada di keramaian, berharap para pengintai tak bertindak gegabah dengan mulai menembaki orang-orang!"


"Analisamu boleh juga!" puji Alexe.


Ana tak menanggapi. Dia menggeser cermin kecilnya ke samping, untuk melihat siapa orang itu.


"Aku tidak yakin, tapi posturnya mirip Bobby," lirih Ana.


"Apa kau ingin melindunginya?" tanya Alexei. Ana menggeleng cepat dan segera menyimpan cerminnya ke dalam tas.


"Kita harus segera pergi dari sini!" ujar Ana.

__ADS_1


Dia berdiri dan berjalan terbungkuk dengan bertumpu pada tongkat. Dilewarinyavmeja pria bertudung itu untuk melihat sesuatu di etalase toko seberang. Tapi kemudian dia menggeleng, dan berlalu dari sana. Satu tangannya bertumpu pada tongkat, satu tangan lagi mengepal di belakang pinggang.


Meskipun belum mengetahui persis, tapi Alexei mulai mendapat gambarannya. Dengan cekatan dibantunya Ana dengan membawa tas belanja mereka.


Mereka segera masuk ke mobil.


Alexei duduk di depan kemudi. "Cepat pergi dari sini!" ujar Ana tegas.


"Ya!" Alexei mulai menjalankan mobil. "Ambil jalan di kiri!" perintah Ana. Dia membuka laci dashboard dan mengambil sebuah pistol. Diperiksanya peluru yang ada. Dia menggenggam pistol itu erat dan mengawasi sekitar.


"Kenapa kita kembali ke pasar?" tanya Alexei heran.


"Tunggu saja!" kata Ana datar.


Sekonyong-konyong terdengar suara ledakan dari dalam pasar. Suaranya bersahutan, seperti rangkaian petasan orang hajatan. Alexei jelas terkejut. Tadi mereka di sana, pasar itu biasa saja.


Asap tebal, menggumpal ke angkasa dari jalan-jalan keluar food court. Para pedagang yang mengelilingi food court segera berlarian keluar dengan panik. Disusul orang-orang lain, ikut keluar juga. Jalanan itu jadi padat dan dipenuhi orang.


"Suara sirine pemadam kebakaran dan mobil polisi, mulai terdengar dari kejauhan. Waktu Ana hanya sedikit, untuk bisa melakukan rencana ini.


"Dekati wanita itu!" tunjuk Ana pada seorang wanita yang berjalan terhuyung-huyung. Alexei mengemudi ke arah sana. Itu tak mudah, karena jalanan pasar hampir penuh dengan orang yang menyelamatkan diri.


Tepat di depan wanita yang sedang berusaha bernapas itu, mobil berhenti. Ana turun dan langsung menodongnya. Memaksanya masuk mobil dan langsung menembaknya.


Alexei terkejut. "Apa yang kau lakukan!" serunya tertahan.


"Aku hanya menbiusnya!" ujarnya datar. Alexei terdiam.


Ana ikut masuk di kabin belakang, dan menutup pintu. Matanya masih mengawasi ke arah jalan keluar.


"Di mana kau!" gumamnya tak sabar. Mobil polisi dan pemadam terdengar makin dekat. Mungkin tinggal berjarak satu blok lagi.


"Apa kau menunggu pria dengan hoodie?" tanya Alexei sambil menunjuk satu arah.


"Dia menang pintar! Ayo ke sana!" ujar Ana cepat. mobil itu kembali berjalan ke arah seorang pria berhoodie yang berjalan terbungkuk-bungkuk sambil batuk beberapa kali.


"Apakah aku keterlaluan melepaskan asap-asap itu?" pikir Ana.


Dia merasa hanya mengeluarkan sedikit asap untuk menimbulkan kekacauan. Asap akan segera hilang jika mencapai sensor asap yang kemudian menyiramkan air secara otomatis.


Mobil berhenti di depan pria itu. Ana keluar dengan cepat, dan mendorong orang itu masuk di kursi depan.


"Ahhh! Huk ... huk...." Pria itu terbatuk terus menerus. Ana menarik hoodie di kepala orang itu.


"Kukira kau keponakanku Bobby. Ternyata bukan!" Ana menggeleng kecewa. "Kau bisa turun di depan sana!" ujar Ana datar.


"Aku tau di mana Bobby!" ujarnya terbatuk-batuk.

__ADS_1


********


__ADS_2