Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
71. Relokasi Lab


__ADS_3

Pintu ruangan itu terbuka. Petugas yang sebelumnya menjaga di luar, masuk, disusul Ammo dan kapten Lance.


Ammo memeriksa Ana dari atas ke bawah. Kemudian dia mengangguk. Lalu pandangannya tertumbuk pada seorang penjaga yang tergeletak di lantai. Ammo menaikkan alisnya dengan heran. Tapi kemudian dia tersenyum samar.


"Kurasa Kau baik-baik saja," ujarnya dengan suara datar.


"Kau, bawa dia keluar!" perintah kapten pada penjaga luar, menunjuk ke lantai.


Dua penjaga memapah tubuh temannya, lalu keluar diiringi perawat.


"Apakah kalian ingin bicara di sini, atau keluar?" tanya kapten.


Ammo menoleh ke arah Ana.


"Aku bosan di sini!" ujar Ana ketus.


"Kalau begitu, kita bisa keluar." Kapten Lance mencoba bersikap ramah. Kemudian dia keluar, diikuti Ammo dan Ana.


"Kenapa kau basah kuyup?" selidik Ana.


"Kenapa kau memukul petugas itu?" Ammo balik bertanya.


"Karena bosan!" sahut Ana cuek.


"Kurasa, dia bukan tak bisa mengalahkanmu. Dia hanya tak ingin dihukum Kapten jika Kau mengalami cedera!" Ammo menyesali perbuatan Ana.


"Salahnya ... menganggap remeh orang lain!" cibir Ana. Dia berjalan dengan santai di lorong panjang.


Ammo menghembuskan nafas. Membuang beban di hatinya.Yang terpenting, semua aman di sini. Sekarang dia harus memikirkan relokasi lab rahasia bawah laut ini.


"Kau kenapa menghembuskan nafas berkali-kali? Apa kau jengkel padaku?" cecar Ana.


"Kau lebih baik bertemu Profesor Stone. Aku harus bicara dengan Kapten lebih dulu!" tegas Ammo.


Seorang petugas mendekat. Siap untuk mengantar Ana ke ruangan lain.


"Hei, pertanyaanku belum Kau jawab!" protesnya.


"Ada waktu untuk itu. Jadi, bekerja samalah untuk saat ini!" Ammo memberi penekanan pada kata-katanya. Kemudian berjalan bersama kapten dan meninggalkan Ana begitu saja.


"Hah! Sikap dinginnya, luar biasa!" kesal Ana di dalam hati. Tak punya pilihan untuknya, selain mengikuti petugas yang ada. Dua orang itu lalu mengambil jalan menuju ruangan Profesor Stone.


*


*


"Selain kerusakan tiga kapal selam, tak ada kerusakan lain." Kapten Lance melaporkan kejadian hari itu, serta kerugian yang mereka alami.


"Tempat ini harus dipindahkan. Mereka takkan berhenti menyerang ke sini," putus Ammo.


"Baik. Kami akan mengikuti perintah," sahut kapten "Berikan kordinatnya, kami akan segera mengaturnya," sambungnya lagi.


Ammo mengangguk, jemudian meraih ponselnya. Memanggil satu nomor yang bahkan tak tersimpan di daftar nama. Ammo memasukkan nomor yang dihafalnya, lalu membuat panggilan telepon.


"Ya!" sahut suara di seberang.


"Ini aku," ujar Ammo.


"Bos! Akhirnya Kau memanggil kami lagi. Apakah ada misi?" Rentetan suara cerewet dari seberang, membuat Ammo menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

__ADS_1


"Bisakah kau diam?" ketus Ammo.


"Siap, Bos!" Terdengar suara riang di ujung sana.


"Siapkan tempat di kordinat yang kukirim!" perintahnya.


"Kordinat? Sebentar." Kemudian hanya ada kesunyian diantara mereka.


Ammo memberi orang di sana kesempatan untuk memeriksa kordinat yang dimaksud.


"Baik Bos. Kami akan membereskannya dalam.satu minggu," ujarnya.


"Selesaikan dalam empat hari!" tegas Ammo.


"Kau memang kejam, Bos!" sahut suara di seberang. Ammo memutuskan sambungan telepon.


Kemudian pria tampan itu menoleh pada kapten Lance. "Buat persiapan. Jangan ada yang tertinggal. Setelah itu bawa lab ini ke titik kordinat yang kutandai."


Ammo menunjukkan ponsel, dimana titik kordinat tertera. Kapten Lance mencatatnya.


"Siap, Bos. Kami akan buat persiapan," ujar kapten Lance.


Ammo berdiri. "Aku harus bertemu Stone," katanya.


Kapten mengangguk. "Kau, antar Bos ke ruang Profesor Stone!" tunjuk kapten pada seorang penjaga di depan pintu.


"Siap!" Penjaga itu menjawab cepat.


"Laporkan persiapannya padaku! Juga perkembangan orang-orang yang cedera!" pesan Ammo.


"Siap, Bos!" sahut kapten Lance sigap.


*


*


Ammo hanya diam sepanjang perjalanan menuju ruangan profesor Stone. Kepalanya dipenuhi berbagai hal. Dan dia diharuskan membuat keputusan secara cepat dan tepat.


"Sudah sampai, Bos!"


Suara petugas itu mengembalikan kesadaran Ammo ke tempat itu. Mereka telah sampai di ruang kerja Profesor Stone. Ada namanya ditempel pada pintu. Ammo mengangguk.


Pintu diketuk petugas tiga kali. Kemudian terlihat handel pintu bergerak. "Ya?"


Seorang perawat muncul dari balik pintu. Tetapi dia segera terkejut ketika melihat Ammo. Pintu lalu dibuka lebar-lebar untuk membiarkannya masuk.


"Di mana Profesor Stone?" tanya Ammo yang tak melihat Ana dan Stone di tempat itu.


"Profesor dan pasien Ana belum lama ini menuju ke ruang terapi," jawab gadis perawat dengan takut.


"Kita ke sana!" perintah Ammo pada petugas yang masih menunggu di pintu.


"Siap, Bos!"


Keduanya kembali berjalan menuju ruang terapi profesor Stone. Tempat itu hanya selisih dua ruangan dari ruang kerja Profesor Stone.


Ammo mencegah petugas yang ingin mengetuk pintu lagi. Tangannya segera meraih handel pintu dan membukanya.


Di dalam ruangan, Ana duduk di kursi santai, sementara profesor Stone duduk pada sofa single yang biasa didudukinya. Kedua orang itu segera menoleh ke arah pintu, saat pintu terbuka.

__ADS_1


"Kebetulan Kau juga ada di sini." Ammo menoleh pada Ana.


"Ada apa?" tanya Ana.


"Aku punya kabar untukmu," ujar Ammo.


"Kabar baik atau buruk?" tanya Ana malas.


"Baik atau buruk itu, relatif. Aku tak tau bagaimana pandanganmu dengan kabar ini," sahut Ammo.


"Kau selalu berteka-teki," sungut Ana tak suka.


Ammo bergeming. Dia menunggu respon yang lebih baik dari Ana. Tatapannya datar dan dingin, seakan hal itu bukanlah hal penting baginya.


"Baiklah ... baiklah. Katakan kabar apapun yang ada. Kau sukses membuatku penasaran!" Akhirnya Ana menyerah pada sikap dingin Ammo.


Ammo mengangguk pada Profesor Stone. "Apakah berita terakhir itu sudah kau katakan?" tanya Ammo.


"Belum," jawab Stone. "Informasi itu kuterima setelah sesinya selesai. Hari ini rencanaku menyampaikannya," sambungnya lagi.


"Berikan berkas itu padanya!" perintah Ammo tenang.


Profesor Stone membuka berkas yang dibawanya dan mengulurkan selembar kertas pada Ana.


Dengan penasaran, dibacanya tulisan yang tertera. Ekspresinya langsung berubah. Dadanya terlihat turun naik dengan nafas memburu. Matanya membesar dan mulutnya terbuka. Ana terlihat shock.


Di-dia a-adikku?" gagapnya tak percaya.


"Entah adik atau kakak. Tetapi hasil tes menunjukkan kalian bersaudara," jawab Ammo.


"Ya Tuhan, aku punya saudara," gumamnya lirih.


"Tunggu dulu!" Ana menatap Ammo dan profesor Stone dengan pandangan tajam menusuk.


"Bukankah katamu dia diculik orang tak dikenal? Bagaimana bi—"


"Biar aku yang jelaskan," potong Ammo.


"Dia memang diculik orang tak dikenal. Aku melihat beritanya di tivi. Tapi wajahnya membuatku tergerak untuk membantu. Karena kukira, dia mungkin ada hubungannya dengan masa lalumu," jelas Ammo.


"Benarkah?" Ana tak mudah percaya.


"Kau bisa mencari beritanya di tivi ruang hiburan," timpal profesor Stone.


"Baiklah. Lalu bagaimana dia sekarang? Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Ana.


"Aku sudah coba bicara dengannya dua hari yang lalu. Tapi dia bahkan tak tau tentangmu!" jawab Ammo.


Mata Ana terbeliak. "Apakah dia juga mengalami cuci otak sejak kecil?" tanyanya tak percaya.


"Doktor Sarah sedang menanganinya," imbuh Ammo.


"Oh, itu sebabnya Dokter Cantik itu tak ada di sini," gumam Ana. "Kenapa tak bawa ke sini saja? Profesor Stone bisa merawat kami bersama-sama," protes Ana.


"Aku punya pertimbangan sendiri!" Suara Ammo terdengar dingin. Wajahnya terlihat kaku dengan rahang mengatup rapat.


Ana melihat perubahan itu. "Apakah berbahaya untuknya, jika aku bertemu dengan keluargaku" pikirnya sedih.


******

__ADS_1


__ADS_2