Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
207. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Persiapan pernikahan Pemimpin Klan Khaan sudah rampung. Ammo bahkan sudah menempati kediaman sementara yang disediakan keluarga Ana.


Ruangan pernikahan sengaja dibuat outdoor agar dapat dilihat oleh semua anggota klan. Ana ingin seluruh anggota klannya bisa menikmati suasana pesta yang akan diselenggarakan selama tiga hari.


Dan kebijakan Ana menempatkan anggota klan di kaki gunung, dan melakukan pembangunan, sangat membantu para tamu undangan dari berbagai negara. Di kaki gunung sudah tersedia beberapa hotel besar dan kecil yang semula untuk menunjang wisata, sekarang untuk sarana menerima para tamu menginap sebelum naik ke puncak gunung untuk mengikuti acara pernikahan.


Para anggota klan menjadi sangat bersemangat. Pemasukan mereka bertambah sejak beberapa waktu sebelum acara. Penginapan, makanan, hingga souvenir khas klan laris dibeli oleh para tamu. Kegiatan wisata meningkat drastis.


Ana yang mendapatkan laporan positif seperti itu, merasa puas. "Tapi ingat untuk lebih meningkatkan keamanan. Makin banyak orang asing, maka kita harus makin meningkatkan keamanan, agar mereka tetap merasa aman dan nyaman selama berada di sini!" Ana menekankan hal itu pada petugas yang melapor.


"Baik, Pemimpin," sambutnya.


"Jika mereka puas dengan pelayanan kita, maka mereka akan membawa cerita yang baik saat kembali ke negaranya. Hal itu akan meningkatkan kedatangan turis lain di bulan-bulan selanjutnya," tambah Ana.


Pria itu mengangguk mengerti. "Baik!"


Pintu ruangan Ana diketuk dari luar. Gan membukakan pintu, setelah mendengar bahwa yang datang adalah utusan Ammo. Gan memeriksa orang itu dengan cermat.


"Apakah Ammo punya keperluan lain?" tanya Ana setelah hanya tinggal dirinya saja di situ.


"Tidak, Pemimpin. Saya datang ke sini karena diminta untuk mengantarkan kotak ini pada anda," jelasnya sambil menyodorkan kotak kayu yang dibawanya.


Ana mengangguk dan melambaikan tangannya, meminta orang itu meletakkan kotak yang dibawanya. "Kotak apa ini?" Dahi Ana mengerut melihat kotak besar di atas meja.


Pria itu membukakan kotak yang dibawanya. Ditunjukkannya isinya pada gadis itu.


Mata Ana terbelalak. Dia merasa familier dengan perhiasan di dalam kotak. Kepalanya sampai sedikit miring untuk mengingat tentang perhiasan yang diantarkan Ammo kepadanya.


Ana meraih ponsel dan langsung menelepon Ammo. Panggilan itu segera tersambung. "Perhiasan yang kau minta antarkan kepadaku, bisa kau jelaskan apa maksudnya?" tanya Ana.


"Itu perhiasan warisan mama. Karena kau akan menjadi istriku besok, maka kau bisa mengenakannya," jawab Ammo.


"Oh, pantas saja aku merasa familier saat melihatnya. Kurasa aku pernah melihat ibumu mengenakan perhiasan anggun ini." Ana akhirnya menemukan jawaban yang dicarinya.

__ADS_1


"Mungkin saja. Itu perhiasan favorite mama. Paling sering dikenakannya semasa hidup." Suara Ammo terdengar sedikit hilang. Angannya pasti sedang melayang pada almarhum mamanya.


"Setelah menikah, kurasa sebaiknya kita mengunjungi makam kedua orang tua dan juga kakekmu," kata Ana.


"Tentu saja. Jika itu yang kau minta, maka akan kukabulkan dengan senang hati!" sahut Ammo cepat. Suaranya kembali bersemangat.


"Baik. Akan kukenakan perhiasan ini besok, sebagai penghormatan untuk mamamu," putus Ana.


"Terima kasih. Aku sangat menghargainya." Ammo terdengar puas dengan keputusan yang dibuat Ana.


"Oh iya, Aku barusan bertemu dengan Paman Yuri. Dan Paman Alexei juga tentunya. Ucapan-ucapan mereka membuat telingaku panas," gerutu Ammo.


Ana tertawa mendengarnya. "Mereka hanya menasehatimu, agar tidak sampai menyakitiku," Ana membela kedua pamannya itu.


"Yang dikatakannya bukan cuma masehat, tapi juga ancaman! Bayangkan ... calon keponakannya diancam dengan pistol!" Ammo sedikit mengadu.


Ana kembali tertawa. "Kau hanya ingin mengobrol. Jadi kuputuskan dulu panggilan ini. Pekerjaanku masih banyak dan harus diselesaikan hari ini, agar aku bisa mengambil cuti selama seminggu!" jelas Ana.


Panggilan telepon langsung diputusnya tanpa menunggu persetujuan Ammo. Kemudian Ana menoleh pada orang yang diminta mengantarkan kotak itu.


"Saya undur diri." Pria itu membungkuk sebentar, lalu keluar ruangan.


Ana menutup kotak perhiasan itu dan menyimpannya di dalam laci. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia harus menuntaskan semua hal penting, agar adik lelakinya Sacha Vadim, dapat melanjutkan urusan klan selama dia mengambil cuti.


Karena pengangkatan Wakil Pemimpin Klan belum disetujui oleh pertemuan Uulzat. Maka Ana membuat keputusan sementara sendiri yang menjadi haknya sebagai Pemimpin Klan.


Ana yakin, adik lelakinya ini akan mampu mengatasi berbagai masalah, dibantu oleh Nathalie serta ayah dan paman mereka. Dan keputusan Pemimpin Klan tidak dapat dibatalkan oleh Uulzat. Jadi Ana merasa tenang.


"Di mana Sacha?" tanya Ana pada Nathalie.


Dia sudah menyelesaikan beberapa masalah penting yang masuk hari ini. Jadi sekarang waktunya serah terima tugas dengan adiknya itu. Ana sudah harus fokus menghadapi hari pernikahannya yang tinggal hitungan jam.


Nathalie belum sempat menjawab, tatkala pintu ruangan terbuka dan adik lelaki satu-satunya itu masuk, diiringi ayah dan paman mereka.

__ADS_1


"Ah, akhirnya kau sampai juga. Apa sudah cukup melihat-lihat semuanya?" tanya Ana.


"Apa aku terlambat?" pria muda itu malah balik bertanya.


Ana menghembuskan napas kasar. "Jangan biasakan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga! Dan, ya. Kau terlambat sepuluh menit dari jadwal!" kata Ana tajam.


"Maafkan aku!" Sacha menunduk, merasa bersalah.


"Lupakan!. Ayo ke sini. Biar kujelaskan tugas-tugaasmu setelah ini!" Ana memintanya mendekat ke meja.


Adiknya mendekat dan berdiri di sebelah meja Ana. Kemudian mendengarkan uraian kakaknya dengan serius.


"Jadi, itu saja kok tugasmu selama aku pergi. Jika ada hal darurat, kau bisa menghubungiku. Dan satu hal lagi. Tugasmu hanya sementara. Anggap saja sebuah pelatihan. Kau akan dibimbing oleh Ayah dan Paman. Dibantu oleh Nathalie dan semua staf. Tapi tidak bisa membuat keputusan penting. Hal-hal selain yang tertulis disini, tetap harus aku yang memutuskannya. Apa kau paham?" tanya Ana.


"Aku mengerti," adiknya mengangguk.


"Aku sangat berharap agar Uulzat segera mengesahkan aturan tentang Wakil Pemimpin Klan yang kuusulkan. Jadi kau bisa bekerja secara resmi untuk mendampingiku!"


"Tidak apa. Masih banyak yang harus kupelajari sebelum menempati posisi itu," ujarnya rendah hati.


"Apakah serah terima tugas kalian sudah selesai?" tanya ayahnya.


"Ya. Aku akan membereskan barang0barangku lebih dulu, sebelum pulang." Ana mengeluarkan barang-barang pribadinya dari dalam laci. Dia juga membawa kotak perhiasan yang tadi dikirimkan Ammo padanya.


"Aku pulang duluan. Selamat bekerja!" pamit Ana. Gadis itu keluar ruangan dengan dikawal oleh Gan dan dua pengawal lain yang dipilih oleh Khouk sebelumnya.


Di kediaman sore hari.


Ana masih bermalas-malasan di tempat tidur. Dia sudah tertidur selama satu jam. Sekarang seharusnya dia melakukan ritual mandi. Tapi para pelayan itu tak berani mengganggu waktu istirahatnya.


"Baiklah ... mari kita mulai!" Suara Ana memanggil dua pelayan yang terus duduk disamping tempat tidurnya. Keduanya saling pandang sejenak, untuk kemudian menunjukkan wajah berseri-seri.


Ana menikmati pijatan yang dilakukan oleh dua orang terampil itu. Hingga jam tujuh malam, dia masih berendam di air hangat. Setelah itu melanjutkan perawatan lainnya. Petang ini, dia sangata menikmati dimanjakan oleh para pelayan itu.

__ADS_1


*******


__ADS_2