
"Kami hanpir sampai. Satu jam lagi," ujar Ammo di telepon.
"Baik, Bos. Perlu aku yang turun, atau Bos yang naik ke sini?" tanya suara di ujung telepon.
"Persediaan yang kuminta, sudah beres?" tanya Ammo.
"Sudah, Bos. Mau diantarkan sekarang?" tanya suara itu lagi.
"Tidak. Biar nanti dari sini yang ambil. Aku akan ke atas bersama mereka," ujar Ammo.
"Siap, Bos!"
"Kapten, ada berapa kapal.selam kecil yang tersedia, sekarang?" tanya Ammo.
"Tinggal tiga, Bos. Yang dia rusak, belum selesai diperbaiki. Kapal selam anda juga belum diperbaiki," jawab kapten.
"Aku memesan logistik. Jadi, keluarkan kapal selam kecil itu untuk memuatnya. Aku ajan ikut bersama mereka ke darat," putus Ammo.
"Baik, Bos. Sesuai pengaturan Anda.
"Oh ya, aku akan membawa pasien itu bersamaku. Keberadaannya di sini, bisa membahayakan kepentingan kita yang lebih besar," tandasnya.
"Tapi Bos, bukankah itu akan membahayakan nyawa Anda?" cegah kapten Lance.
"Satu hal lagi yang tak kumengerti. Entah kebetulan atau tidak, tapi ... kenapa di manapun dia disembunyikan, musuh bisa mengetahui keberadaannya? Tidakkah Anda mencurigainya? Mungkin ada semacam pemancar yang ditanam di tubuhnya?" Kapten mengatakan kecurigaannya.
Ekspresi Ammo berubah. "Kenapa aku tak berpikir ke sana?" pikirnya.
"Terima kasih peringatanmu. Akan kubereskan sekarang!" Ammo bergegas pergi. Kakinya melangkah panjang-panjang menuju ruangan Ana.
Ammo mengetuk pintu kamar Ana.
"Apa kau di dalam?" tanya Ammo.
Terdengar jawaban dari dalam ruangan itu. "Ya, masuklah."
Ammo membuka pintu dan segera masuk. Dia langsung duduk di kursi dan menghadap tempat tidur. Di sana Ana duduk tenang, menunggu pria itu bicara.
"Aku mau bilang, apakah sebuah kebetulan belaka, jika tempat persembunyianmu selalu ketahuan?" ujar Ammo.
"Kau menuduhku sedang memata-mataimu?" Suara Ana meninggi.
Ammo menggeleng. Saat di hutan, kukira, karena mereka memang terlalu dekat mengejarmu. Saat di kastil, kukira Maya yang nenjadi mata-matanya. Tapi, kejadian di sini, aku tak bisa menjelaskannya." Ammo membeberkan pemikirannya.
"Apa menurutmu, aku dipasangi penyadap atau pemancar?" Ana terkejut mendengar ucapannya sendiri.
"Bagaimana jika ya?" desak Ammo.
"Kita harus buang benda itu!" ujar Ana marah. "Hal itu menjelaskan kenapa Adriana bisa ketahuan. Juga saat aku akan pergi ke hutan!" ujarnya geram.
"Ayo kira ke Profesor Stone," ajak Ana.
"Mau apa?" tanya Ammo heran.
__ADS_1
"Minta dia mengeluarkan benda itu dari tubuhku!" seru Ana mulai jengkel.
"Itu bukan bidangnya. Kita harus ke klinik. Butuh tindakan dokter yang berpengalaman, jika itu ditanam di bawah kulitmu!" saran Ammo.
"Ayo!" Ana langsung membuka pintu dan berjalan cepat menuju klinik. Ammo mengikuti dengan langkah cepat pula.
"Dok?" panggil Ana begitu masuk ruangan dokter.
"Ya ... Nona Ana," sahutnya heran. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya lagi.
"Apa kau punya alat untuk mendeteksi benda asing di tubuhnya?" tanya Ammo cepat.
"A-apa-kah dia dipasangi penyadap?" dokter itu jelas terkejut. Jika itu benar, maka tak geran jika lab bawah laut mereka diketahui pihak musuh.
"Mungkin kita bisa gunakan Xray?" usulnya.
"Itu bagus! Yang terlihat hanya tulang dan benda asing lain." Ammo setuju.
"Mari ... tempatnya ada di sebelah," ajaknya. Ana dan Ammo mengikuti dokter itu keluar, menuju ruangan Xray.
"Berbaringlah di sini. Tutup matamu dengan ini!" dokter menyerahkan penutup mata pada Ana.
Ammo dan dokter berada di bilik sebelah, untuk menjalankan alat pemeriksaan itu.
"Lihat itu! Apakah itu memang biasa di situ?" tunjuk Ammo pada layar di depannya.
Dokter mengambil beberapa gambar untuk memperjelas posisi benda asing di tubuh Ana.
"Bagaimana? Apakah ada sesuatu?" tanya Ana tak sabar.
"Lihatlah ke sini," panggil Ammo. Ana berjalan ke arah bilik kecil. Tempat itu terasa sempit untuk diisi tiga orang.
"Lihat ini!" tunjuk Ammo di layar.
"Itu ... di bahuku," ujar Ana tercengang.
"Apa kau pernah merasa nyeri atau sakit di tempat itu?" yanya dokter.
"Sesekali, iya. Tapi, kupikir itu hanya karena pegal-pegal atau kelelahan saja," jawab Ana.
"Jadi bagaimana?" tanya Ammo.
"Ya cabutlah. Buang! Untuk apa Kau tanya lagi!" dengus Ana kesal.
"Kapan mau dilakukan?" tanya dokter.
"Sekarang!" Ana benar-benar emosi sekarang.
"Ayo, ke ruang bedah."
Dokter itu tak ingin membuat pasien istimewa itu terus marah-marah. Apa lagi, bos tak mencegah. Jadi, memang tujuannya membuang alat penyadap itu.
Tiga orang itu beranjak ke ruang bedah di sebelahnya. Dia memanggil seorang perawat dan seorang asisten untuk membantunya di ruang bedah.
__ADS_1
Ammo menunggu di luar ruangan. Dia merasa sangat ceroboh. Kenapa hal sekecil itu tak diperhatikannya!.
"Nathalie!" pikirnya tiba-tiba.
Ammo langsung menelepon Dokter Sarah dan mengatakan apa yang terjadi di sini. Jadi, Ammo mau Sarah memeriksa juga Nathalie, Oscar dan Sanders, untuk menjaga segala kemungkinan.
Ammo juga menelepon ke tempat perawatan George. Tapi dia bisa bernafas lega, karena George telah melewati pemeriksaan menyeluruh, akibat luka bakar yang dideritanya. Dan tidak ditemukan satupun benda asing, kecuali implan giginya.
"Tidak! Implan gigi juga bisa berarti sesuatu!"
Diteleponnya lagi dokter yang merawat George, dan mengatakan kecurigaannya. Dokter akan melakukan tindakan pencabutan implan gigi dan menghancurkannya.
Ammo mengirim pesan pada dokter Sarah dan mengatakan tentang implan gigi seperti yang terjadi pada George.
Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang bedah.
"Bagaimana?" kejar Ammo.
Dokter mengisyaratkan agar Ammo tutup mulut. Dia menulis pesan pada ponselnya dan memanggil Kevin. Engineer dan ahli IT itu paling pas untuk melakukan penyelidikan tentang benda itu.
Setelah Kevin datang, ketiganya berdiskusi dengan cara menulis di kertas. Akhirnya Kevin mengerti harus apa. Dia kembali ke ruangannya sebentar. Lalu kembali lagi dengan peralatan dan laptop canggihnya.
Alat yang diambil dari bahu Ana, diletakkan pada tempat khusus miliknya. Lalu dihubungkan denfan komputer. Dia mengotak-atik komputer, dan kemudian menekan enter dengan rasa puas.
Ammo dan dokter itu hanya bisa terdiam melihat kelihaiannya menggunakan komputer yang dihubungkan dengan perangkat lain buatannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ammo di kertas.
"Mengirim virus ke komputer mereka!" Kevin menyeringai lebar. Terlihat sangat puas dengan pekerjaannya.
"Apakah masih lama?" tanya Ammo. Kevin mengangkat satu jarinya. Dia terlihat menunggu garis merah pengiriman virus itu selesai seluruhnya.
"Ini. Sudah selesai. Mereka tak dapat lagi mendeteksi lokasi ini. Ataupun mendengarkan pembicaraan kita." Kevin menyerahkan alat kecil sebesar kuku ibu jari itu pada Ammo.
"Bagaimana menghancurkannya?" tanya dokter.
"Benda elektronik mudah rusak jika terendam air," jawab Kevin enteng.
Dokter bergegas mengambil air di gelas. Ammo mencemplungkan alat itu ke dalamnya.
Semua merasa lega sekarang.
"Kau hebat!" puji Ammo.
"Untuk itulah dulu Anda merekrutku, bukan?" Kevin tersenyum lebar. Dia bangga berhasil melakukan tugasnya.
Ammo menganggukkan kepala dan tersenyum padanya. Kalian di sini, adalah orang-orang hebat. Terima kasih," ujar Ammo.
"Biar kubawa gelas ini, dan menunjukkan pada Ana." Ammo bangkit, dan menuju ke tempat Ana beristirahat.
"Satu persoalan, selesai!" batinnya lega.
******
__ADS_1