
Namun, sebelum pasukan pendukung Ammo tiba, para pengepungnya sudah memulai serangan. Motornya ditembaki dari berbagai arah
"Harus segera pergi dari sini, sebelum pelindung motor ini rusak akibat sirkuitnya terus ditembaki."
Ammo memainkan gas motor dan menerjang maju. Dia segera berhadapan dengan kendaraan musuh yang juga ikut maju ke arahnya.
Ammo mengeluarkan perangkat senapan otomatis dari kiri-kanan bagian depan kendaraannya. Sambil melaju, senjatanya menyambar motor-motor yang mendekat.
Satu motor depan jatuh dan menghalangi motor lainnya. Mereka saling bertabrakan dan terlontar jauh. Sebuah motor melayang cepat ke arah Ammo.
Dia memiringkan motornya hingga pelindung samping menyentuh aspal, untuk menghindari tabrakan fatal. Namun beberapa peluru lain kembali menghajarnya dari balik pepohonan di tepi hutan.
Ammo berupaya keras untuk bisa mengembalikan posisi motornya agar bisa berlalu dari sana, karena rintangan di depan sudah kosong. Tapi sayang, hujan peluru berikutnya, berhasil melumpuhkan sistem pelindung motornya, serta membuat motornya mengeluarkan asap. Ammo menyalakan tombol senjata lain, kemudian melompat tinggi meninggalkan motornya di tengah jalan.
Dia menggunakan daya dorong dari suit khususnya untuk bisa hinggap di dahan pohon di pinggir jalan. Untuk sekejap hilang dari pantauan.
Namun itu tak lama. Seorang pengepung berteriak memberitahukan posisi Ammo. Ada sekitar sepuluhan orang berlarian keluar dari kerimbunan hutan kecil itu. Mereka mengejar Ammo yang diyakini sudah tak terlindungi oleh motor supernya.
Di atas aspal, motornya mengeluarkan perangkat senjata berupa lempengan bundar yang langsung menembakkan peluru ke sekelilingnya sambil berputar naik. Orang-orang yang sedang berlarian itu tak sempat mengelakkan serangan tak terduga itu. Beberapa diantara mereka jatuh. Yang lain bersembunyi, menunggu tembakan otomatis itu mereda.
Dari atas dahan itu Ammo menarik pistolnya dan menembak beberapa orang yang berada dalam jangkauan bidikannya. Tiga orang lagi jatuh dari pihak musuh.
Hanya saja, dengan menembaki orang-orang itu, berarti Ammo telah membuka posisi persembunyiannya. Sekilas dia melihat benda berkilau melesat ke arahnya. Dengan cekatan dia melompat ke dahan lain. Ammo melihat sebuah Shuriken bermata lima, menancap di dahan tempat dia berdiri tadi.
Keningnya mengerut. "Mereka dari pihak mana?" pikirnya. Tapi Ammo tak bisa bersembunyi lebih lama. Yang datang mengurungnya kini lebih banyak. Mereka menembaki pohon itu membabi-buta.
Ammo menekan tombol pada suitnya. Sebuah pelindung lain, kini melindungi tubuh hingga kepalanya tanpa membuatnya kesulitan bergerak. Ammo melompat keluar dari persembunyian dan berdiri di tengah jalan.
Orang-orang itu kini bisa melihat sasaran mereka mengenakan suit hitam aneh, hingga menutupi seluruh kepalanya. Ammo sudah mirip ninja. Mereka berpandangan, khawatir salah sasaran. Karena sejak tadi, mereka tak melihat wajah pengemudi motor itu.
Suara teriakan terdengar dari arah hutan. Itu seperti suara pemimpin mereka yang membuat semuanya tak lagi ragu untuk mendekat.
Ammo bersiap. Diambilnya dua bilah pisau dari balik punggung dan menggenggamnya erat. Dia tak khawatir tertembak. Tapi harus bisa melumpuhkan siapapun yang berhasil mengenai dirinya.
Orang-orang itu tertawa mengejek.
"Bos melebih-lebihkan dia. Orang pintar, akan tau saatnya menyerah. Bukannya melawan dengan pisau."
__ADS_1
Yang lain tertawa mendengarnya. Kau kira, seberapa cepat pisaumu itu mampu menghalau semua peluru kami?" tambah yang lain.
"Agar kami tidak disebut sebagai orang-orang yang tidak bersikap fair, maka aku akan menghadapimu sendiri. Mari kita duel!"
Seseorang keluar dari balik bayangan pohon. Dua tangannya telah menggenggam dua pisau melengkung yang sangat tajam.
Yang lain membuka jalan untuknya. Tampaknya orang-orang itu menghormatinya. Berarti kedudukannya lebih tinggi.
"Aku tak ingat pernah membuat permusuhan dengan kalian!" Ammo melemparkan ke aspal, senjata Shuriken yang tadi ditemukannya.
"Kami hanya bekerja sesuai bayaran." Orang itu menggerak-gerakkan kedua tangannya agar lebih rilex. Dia terlihat santai dan meremehkan Ammo.
"Siapa yang membayarmu?" tanya Ammo dingin.
"Kau tidak menghargai profesionalitas kami dengan menanyai hal itu, Tuan!" tegurnya tajam.
"Sudahi basa-basinya. Mari kita mulai," ujar orang itu. Dia telah bersiap untuk berduel dengan Ammo.
Ammo ikut memasang kuda-kuda. Orang itu menyerang bagian kanan Ammo dengan tangannya yang memegang pisau melengkung. Ammo mengelak dan mencoba mengait kaki musuhnya agar jatuh. Tapi pria itu sangat lincah. Dia melenting tinggi sambil menendang ke arah wajah Ammo.
Wajahnya selamat, tapi bahu Ammo tidak. Ternyata ada senjata rahasia lain lagi pada sepatunya. Dan itu sudah menggores bahu Ammo.
Sekarang keduanya kembali berhadapan. Tapi pria itu sudah meningkatkan kewaspadaannya. Ammo ternyata bukan orang bodoh yang berdiri di tengah pengepungan tanpa persiapan matang. Dia pasti punya keyakinan dengan persiapannya.
Pria itu kembali menyerang. Kali ini dia melayang tinggi di depan Ammo sambil menendang berkali-kali. Gerakannya yang cepat itu, membuat dia seperti sedang terbang di udara.
Tangan Ammo dengan cekatan menangkis setiap tendangan maut yang diarahkan padanya. Dalam satu celah kecil, Ammo berhasil melesatkan satu jarum rahasia pada pria di depannya. Jarum itu menancap pada kakinya. Itu membuat tubuh pria itu limbung saat mendarat lagi di aspal.
"Licik!" dengusnya marah, setelah menemukan sebuah jarum tipis menempel di kakinya.
"Tak ada hal yang disebut licik, jika itu untuk mempertahankan nyawa!" balas Ammo pedas.
Pria itu langsung melompat ke arah Ammo. Dua tangannya menyerang dengan cepat. Tak memberi Ammo kesempatan membalas sedikitpun.
Ammo hanya bisa mengelak dan mengambil langkah mundur berkali-kali. Dia cukup terdesak sekarang. Ammo mengelak memutari tubuh pria itu dan memukul ounggung pria itu dengan tinju sekuat tenaga.
Krakkk!
__ADS_1
Terdengar suara tulang berderak diikuti suara jerit tertahan. Ada rasa ngilu ketika mendengar suara tulang punggungnya mengalami pukulan sekeras itu. Pria itu jatuh membungkuk di tanah.
Ammo langsung menendang wajah pria itu sebelum dia sempat bangkit dan berdiri.
Krakkk!
Kali ini rahang pria itu dicium mesra oleh sepatu boot Ammo. Dia terhuyung ke belakang. Wajahnya memar dan hidungnya berdasar.
Pria itu berdiri cepat, meskipun masih limbung dan pandangannya memburam.
Cuihhh!
Dia meludahkan darah kental ke aspal. Gejolak amarahnya telah membuat otaknya mendidih. Pria itu sangat marah sekarang. Marah pada kebodohannya sendiri yang menganggap enteng Ammo.
Harusnya dia suruh saja bawahannya menembaki Ammo hingga mati. Tapi sekarang dia merasa telah dipermalukan di depan semua bawahannya.
"Kalian semua, tidak perlu lagi memberi kesempatan padanya. Kita habisi bersama-sama!" perintahnya.
Tapi tak ada satupun jawaban dari bawahannya. Dia menoleh ke sekeliling dengan heran. Lalu tertegun. Semua bawahannya telah tertelungkup di aspal. Entah masih hidup atau sudah mati, dia tak tau.
Saat dia berbalik kembali ke arah Ammo, sebuah pukulan keras pada dadanya tak dapat lagi dielakkannya. Pukulan itu seperti hantaman palu seberat satu ton. Tubuh pria itu langsung terbang ke belakang. Dan berhenti setelah menabrak pohon, 20 meter di belakang sana.
"Huh. Lemah!" cela Ammo sambil meludah.
Seseorang berlari ke arahnya. Ammo menoleh dengan pandangan dingin.
"Maafkan kami terlambat, Tuan. Mereka sepertinya telah memperkirakan posisi kita semua. Kami harus bertarung dulu, baru bisa menyusul Anda ke sini," lapor pria itu.
"Bereskan ini. Bawa yang selamat untuk ditanyai. Kita batalkan rencananya. Ini jebakan!" perintah Ammo.
"Kami akan melindungi anda kembali, Tuan." Orang itu memanggil bawahannya. Dan sebuah kendaraan taktis, muncul tak lama kemudian. Orang-orang yang masih hidup diangkut untuk ditanyai.
Tak lama sebuah helikopter muncul dan mendarat di tengah jalan.
"Mari, Tuan," ajak pengawalnya.
Ammo menuju ke helikopter dengan dilindungi oleh beberapa orang lainnya. Lalu helikopter itu segera mengudara, untuk menyelamatkan Tuannya.
__ADS_1
*****