Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
137. Jatuh ke Jurang


__ADS_3

Mendaratkan heli di lokasi itu bukanlah perkara mudah. Tempat yang sedikit lapang, telah diisi oleh tiga heli lain.


"Buat sedekat mungkin ke tanah. Kami akan melompat saja. Dan kau, cari tempat mendarat lainnya!" perintah Ammo.


"Siap, Boss!" sahut Sawyer.


Setelah berputar- putar mencari tempat yang memungkinkan untuk terbang rendah.


"Apa di situ tidak bisa?" tunjuk Ammo ke arah kanannya.


"Jika turun dengan tangga tali, bisa!" jawab Sawyer.


"Kalau begitu gunakan tangga saja!" putus Ammo.


"Baik!"


Sawyer mengeluarkan Tangga tali yang tergulung rapi, secara otomatis.


Seorang pengawal turun lebih dulu. Setelah dia berada di tengah perjalanan, Ammo ikutan turun. Sawyer berusaha menjaga heli-nya tetap stabil, demi keamanan Ammo yang sedang bergelantungan turun. menggunakan tali.


Saat Ammo sudah setengah perjalanan, pengawal terakhir bersiap untuk turun.


"Tunggu!" cegah Sawyer. Dia harus memastikan Ammo aman, baru orang lain bisa menyusul turun.


"Sekarang!" ujarnya.


Pengawal itu turun dengan cepat. Tangga tali sudah benar-benar kosong.


Helikopter itu naik lebih tinggi setelah pengawal kedua turun dengan selamat. Sawyer masih berputar untuk memeriksa keadaan sekitar. Dia harus menjadi penjaga jarak jauh jika begini.


Sepertinya tempat itu aman. Tak ada yang mencurigakan. Selain itu, Ammo telah meninggalkan tempat pendaratan dan berjalan menuju lokasi jatuhnya mobil. Sawyer membawa heli itu pergi dari sana. Dia harus mencari tempat pendaratan aman dan tidak terlalu jauh.


"Anda tak boleh masuk. Sudah ada garis polisi!' Seorang petugas kepolisian, mencegah Ammo mendekat ke lokasi.


"Tadi aku terbang di atas. Kelihatannya kendaraan yang jatuh ke jurang itu, mirip dengan mobil kenalanku. Aku harus memastikannya!" jelas Ammo.


"Ada kenalan korban di sini!" teriak petugas itu pada detektif polisi yang ada di lokasi.


"Suruh dia masuk!' Terdengar suara dari dalam.


"Anda bisa masuk! Tapi tidak dua orang itu!" tolak polisi itu lagi.


"Mereka pengawalku!" tawar Ammo.


"Ada banyak polisi di sini. Anda tak butuh pengawal sama sekali!" debat polisi itu, sambil menatap Ammo tajam.


"Hah ... sudahlah! Aku sedang tak ingin berdebat Kalian tinggal saja di sini. Tetap waspada dan hubungi aku jika ada yang mencurigakan!" pesan Ammo.


"Siap, Bos!" Dua pengawal itu menyahut cepat.

__ADS_1


Ammo melewati pita garis polisi. Dia berjalan dengan mata melihat tajam, lekuk roda yang menempel dalam di dalam tanah berlumpur


Dari kejauhan, mobil humvee itu sudah dilihatnya. Pria itu mempercepat langkah. Dia terkejut melihatnya. Mobil itu persis yang pernah dinaikinya. Diperiksanya posisi mobil yang terbalik, mencari sopir Kakek Wilson.


"Di mana sopirny?" tanya Ammo pada polisi yang ada di lokasi.


"Kau mengenal sopirnya? Tidak terlalu kenal. Tapi saya pernah naik mobil ini. Ini milik Kakek Wilson!" jelas Ammo.


"Dari mana Anda mengetahui kejadian ini?" tanya polisi dengan santainya


"Awalnya aku tidak tau. Aku hanya ingin mengunjungi kakek Wilson dan menanyakan tentang cucunya Linday serta temannya Brandy. Saat terbang, kulihat hikopter polisi mendahului, begitu juga heli tim rescue dan ambulans udara."


"Aku hanya mengikuti dari belakang," jawab Ammo.


"Jadi anda yang naik helikopter dan menyorot tempat ini tadi" tanya salah satu polisi.


"Yah, itu saya!" sahut Ammo.


Polisi itu mengangguk. Ammo diijinkan untuk melihat lebih dekat dan memeriksa mobil itu.


"Aku melihat banyak mobil ambulans di jalan. Ada berapa orang korbannya?" tanya Ammo.


"Ada tujuh!" jawab polisi.


"Tujuh? Banyak sekali!" ujar Ammo.


Ammo memperkirakan, jika ini mobil Kakek Wilson dan dia pergi dengan Lindsay serta Brandy, harusnya hanya ada empat orang bersama sopir. Tujuh orang bukankah agak terlalu penuh? "Apakah semua pengawal diajak serta?" batin Ammo.


"Ikut saya!"


Polisi itu berjalan ke arah lain. Dari jauh sudah terlihat kantong jenazah berjejer. Wajah Ammo memucat. Kekhawatirannya bertambah. 'Mereka mati?" tanyanya.


"Sayangnya, iya! Yang terakhir sedang coba diangkat dari jurang oleh tim rescue," sahut polisi itu.


"Orang ini mengenali mobilnya. Dia sedang mencari kerabatnya," ujar polisi tadi pada petugas forensik.


"Siapa pemilik mobil tadi?" ulang polisi.


"Kakek Wilson!" sahut Ammo.


Polisi itu mencatatnya. Kemudian Ammo diperkenankan untuk melihat wajah jenasah yang sudah berada di dalam kantong plastik.


Ammo mengernyit melihat wajah pertama. Meski terdapat banyak luka gores, tapi dia tak ingat pernah melihat pria itu di mana.


Ammo menggeleng. "Aku tak mengenalnya!"


Satu persatu kantong jenasah dibuka dan dilihat. Semuanya pria. Dan tak seorangpun yang dikenal Ammo.


"Aku tak mengenal satu pun dari mereka!" keluh Ammo.

__ADS_1


"Korban terakhir yang sedang diangkat itu, pria atau wanita?" tanya Ammo.


"Pria!" sahut polisi di sebelahnya.


"Lalu di mana Lindsay dan Brandy?" gumamnya sangat khawatir. "Apakah mobil ini dicuri? Atau Kakek Wilson menjualnya?" gumamnya lagi.


"Apa maksud Anda?" tanya polisi itu.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir saja. Jika tak ada wanita di sini, maka Brandy dan Lindsay ada di tempat lain!" ungkap Ammo.


Ammo menghubungi Ariel. "Apakah kau sudah bisa menemukan jejak Lindsay dan Brandy?"


"Belum!" sahut Ariel.


"Bagaimana dengan Kakek Wilson?" tanya Ammo tak sabar.


"Belum ada tanda-tandanya!" jawab Ariel gugup. Ammo sudah mulai marah sekarang.


"Kau terus coba hubungi ponsel Lindsay dan Brandy!" perintah Ammo kesal.


"Siap!" sahut Ariel.


Ammo memutuskan komunikasi. Kemudian mencoba menelepon Kakek Wilson. Telepon itu tersanbung, tapi tak pernah diangkat. Ammo dengan khawatir, mencoba menelepon sekali lagi.


"Hallo! Ini siapa? Sejak tadi berdering terus!" sahut suara dari seberang.


Wajah Ammo yang semula senang karena teleponnya diangkat, sekarang jadi keheranan. "Anda siapa? Kenapa telepon Kakek Wilson ada padamu?" tanya Ammo balik.


"Kau mengenal pemilik telepon ini? Kami sedang mengangkatnya dari jurang!" jawab Orang di seberang.


"Apa!" Keterkejutan Ammo mengagetkan polisi dan petugas forensik.


"Di sebelah mana korban terakhir yang sedang diangkat?" tanyanya cemas.


"Sebelah sana. Ayo saya antar!" ujar polisi itu bergegas menuju lokasi rescue.


"Kenapa? Apakah ada oetunjuk?" tanya polisi itu sembari jalan bersisian dengan Ammo.


"Telepon Kakek Wilson diangkat tim rescue!" kata Ammo.


Polisi itu kini mengerti keterkejutan Ammo tadi. Mereka sampai di lokasi. Tapi korbannya belum sampai di atas. Lokasi jatuh itu sangat terjal. Dan sekarang sudah malam. Jika bukan karena penempatan beberapa lampu darurat, maka para petugas ini tak mungkin bekerja.


"Apakah masih jauh?" tanya Ammo. pada petugas derek. Mereka menjaga tali pengaman para penyelamat di bawah.


"Sudah setengah jalan," sahut petugas itu.


"Apa tak bisa membawa korbannya dengan helikopter saja?" tanya Ammo tak sabar. Kecemasannya sedang memuncak saat ini. Khawatir terjadi sesuatu pada Kakek Wilson!


"Semoga itu bukan kakek Wilson!" harapnya dengan kecemasan yang makin bertambah di setiap detiknya.

__ADS_1


********


__ADS_2