Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
75. Brandy dan Lindsay.


__ADS_3

Lab bawah laut Ammo telah berada di lokasi baru yang diharapkan bisa lebih aman.


"Aku berangkat, Kapten Lance. Profesor Stone. Terima kasih untuk bantuannya," pamit Ammo.


"Aku pamit, Profesor Stone. Terima kasih atas bantuannya," Ana ikutan berpamitan.


"Kalian bisa kemari kapan pun," balas kapten Lance.


Tiga kapal selam mini, keluar dari gerbang dermaganya. Di dalamnya ada Ammo, Ana, Nick, Sawyer..Dan beberapa petugas di kapal selam yang lain. Mereka menuju lokasi dimana teman-teman Ammo menunggu.


Tiba di kordinat yang ditentukan, kapal selam itu naik ke atas menuju permukaan. Dari dinding kaca tebal, orang-orang di dalam dapat melihat dermaga kayu sederhana. Kapal selam itu dibawa mengarah ke sana.


Pintu palka dibuka. Ammo mengeluarkan tubuhnya lebih dulu. Matanya belum sempat mencari, sudah terdengar sapaan riang. dari belakangnya.


"Bos! Akhirnya Kau sampai juga!"


Lima orang dengan wajah berseri-seri, menunggu di dermaga kayu.


Ammo melempar tali untuk menambatkan kapal selam itu. Salah seorang diantaranya, menarik kapal lebih dekat, dan membantu mengaitkannya pada tiang kayu yang ada di dermaga.


Kapal selam lain muncul dan ikut bergabung dengan Ammo. Semuanya merapat ke dermaga. Lalu turun bergantian.


"Ahh ... sudah berapa bulan aku tak melihat matahari," ujar seorang awak kapal selam mini.


"Kita turun ke darat bukan untuk cuti. Tapi mengambil persediaan. Ayo, bekerjalah denfan serius!" hardik yang seorang lagi.


"Apa kabar Bos!' Seorang pria tinggi tegap berkulit cokelat, memeluk Ammo tanpa sungkan.


"Ukhh!" keluh Ammo saat dua pria lain melompat dan ikut memeluknya. Empat orang itu akhirnya tumbang di lantai dermaga. Bukannya mengeluh kesakitan, mereka justru tertawa gembira.


"Ehem...."


Ana berdehem di dekat keempat orang yang sedang asik tertawa dan saling mengganggu.


"Ahhh ... Kau tak bilang akan membawa bidadari le sini." protesnya.


"Abaikan dia, Nona. Ariel itu mata keranjang!" seorang lain mendekati Ana dengan percaya diri.


Dua alis Ana terangkat. Dia bisa menerka sikap iseng teman-teman Ammo ini. Mereka orang yang sikapnya bertolak belakang dengan Ammo yang dingin dan sekaku batu gunung.


"Kenalkan, aku Donny," ujarnya sembari mengulurkan rangan.


Ana bergeming. "Kalian menghalangi jalan. Minggir!" sentak Ana kasar. Tangannya menepuk keras tangan Donny yang terulur.


Tentu saja Donny tersentak kaget. Dingin dan kakunya Ammo masih kalah dengan kasar dan kejamnya gadis di depannya ini.


Mimik Donny yang terbengong, memancing tawa teman-temannya. "Rasain kau. Kebiasaan menggoda para gadis sih!" ejek teman-temannya.


Ammo berdiri dari duduknya di kayu dermaga. "Ayo, tunjukkan jalannya," perintah Ammo.

__ADS_1


"Mari, Bos," ajak seorang gadis manis yang terlihat imut dan polos.


"Bagaimana kabarmu, Lindsay?" sapa Ammo.


"Kabar baik, Bos. Dan jadi lebih baik lagi ketika Ariel menghubungiku dan mengatakan Bos akan datang." Penjelasannya santai, hingga tak tampak kesan ingin memuji dalam kata-katanya.


"Bagus kalau begitu. Hai Brandy! Aku mungkin ada permintaan untuk kalian berdua, nanti," papar Ammo.


"Akhirnya.... Setelah setahun vakum, kita mendapatkan misi lagi!" terisk Brandy kencang.


"Terima kasih, Bos!" Lindsay ikut-ikutan mengucapkan terima kasih.


"Ariel, apakah pesananku sudah sekesai?" tanya Ammo.


"Sudah, Bos. Tinggal diangkut sana," jawab Ariel.


"Kita bereskan yang itu lebih dulu," ujar Ammo.


Ariel membawa tombongan kecil itu ke halaman belakang sebuah rumah besar yang mirip penginapandengan banyak pintu serta jendela.


"Ini, Bos!" tunjuknya.


Di dalam gudang, ada banyak kardus berisi bahan makanan segar dan kering.


Ammo puas melihat semua itu. Dia mengangguk, mengucapkan terima kasih.


"Bawa ke kapal!" perintah Ammo.


"Siap, Bos!"


Enam orang krew, memindahkan isi gudang ke dalam kapal selam yang ada di bawah laut.


Urusan di tempat itu, selesai. Ariel, Donny dan ivan masuk ke dalam bangunan, menghindari matahari yang terik membakar. Brandy dan Lindsay mengikuti.


Ana hanya bisa menggeleng. Ini komunitas Ammo. Dirinya tidak termasuk di dalamnya. Jadi, Ana berjalan bersama Nick dan Sawyer. Keduanya sejak tadi bingung harus bersikap seperti apa.


"Ini Anastasia. Temanku sejak kecil." Ammo memperkenalkan Ana pada teman-temannya.


"Itu Nick, pengawal pribadi, dan Sawyer, adalah seorang pilot."


Nick dan Sawyer sedikit membungkuk, untuk memulai perkenalan.


"Orang-orangmu begitu sopan!" puji Lindsay.


"Saatnya untuk fokus membahas rencana Bos." Kali ini, ruangan kembali senyap, menunggu Ammo berbicara.


Ammo menceritakan masalah yang dihadapinya. Semua, tanpa terkecuali. Kelompok kecil itu tak menyangka jika kehidupan Bos justeru lebih sulit dari hidup mereka


"Jadi, kami ditugaskan ke Slovstadt?" Lindsay mengkonfirmasi perintah.

__ADS_1


"Ya. apa kalian bersedia?" tanya Ammo. Dia tak ingin memaksa bawahannya untuk langsung menerima perintah, tanpa penjelasan.


Brandy dan Lindsay saling pandang. "bersedia, Bos!" jawab keduanya serempak.


"Tugasnya, akan ku kirimkan pada ponsel kalian," tandas Ammo.


"Siap!" Wajah dua gadis muda itu berseri-seri. "Kita liburaaannn!" seru keduanya ramai.


"Ammo, aku ingin pergi bersama mereka!" cetus Ana tiba-tiba.


"Tidak!" tolak Ammo. "Kau itu sudah seperti buronan. Hanya tidak mereka umumkan saja ke dunia!" sambung Ammo tegas.


"Tapi, aku harus tau apa yang terjadi di sana, sebenarnya!" bantah Ana.


"Itulah sebabnya Brandy dan Lindsay berangkat ke sana!" Suara Ammo tajam dan meninggi. Dia tak ingin Ana membantah keputusannya.


Tujuh orang lain yang ada di situ, menunggu dengan tegang. Mereka mengerti sifat Ammo yang tidak ingin dibantah jika sudah membuat keputusan. Tapi Ana, bukanlah bawahan Ammo. Dia gadis mandiri yang tidak dibawah perintah siapapun.


"Aku sedang mengatur pertemuanmu dengan Nathalie. Tidakkah menurutmu, dia lebih penting?" Ammo kembali dapat menguasai emosinya.


"Tapi, tempat itu sangat berbahaya. Mereka—"


"Kau meremehkan kami?" Brandy terlihat tak senang. Lindsay juga ikut menatap mata Ana dengan tajam.


"Hah ... ya sudahlah. Aku akan mengikuti keputusanmu kali ini. Ingat, hanya kali ini!" Ana menekankan maksudnya.


"Oke. Lain kali, kita diskusi dulu, sebelum membuat keputusan," Ammo menganbil jalan tengah.


"Tidak ada, lain kali!" tegas Ana tajam. Setelah menghela nafas dan menghembuskannya, akhirnya Ammo mengangguk setuju.


"Siapa sebenarnya gadis itu? Dia berani sekali menentang Bos." Ivan tak mempercayai kejadian barusan.


"Dan Bos tak berkutik!" komentar Donny.


"Aku mencium aroma cinta, di sini," sindir Ariel.


"Bos, barang-barang di gudang itu sudah dimuat semua. Kami akan kembali ke kapal."


Seorang awak kapal selam, datang menemui Ammo di bangunan satu-satunya di tempat itu.


"Oke. Kalian bisa kembali," perintah Ammo.


"Anda bagaimana?" tanya orang itu lagi.


"Mereka yang akan mengantarku," jawab Ammo. "Katakan pada Kapten Lance untuk berhenti khawatir."


"Siap, Bos. Kami berangkat!" ujar petugas itu, sebelum pergi.


*******

__ADS_1


__ADS_2