Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
153. Genius Klan


__ADS_3

Khouk terdiam. Kata-kata Ammo seakan ada benarnya. Dia sendiri merasakan, bahwa klan punya banyak aturan yang membuat klan terlihat sangat hebat. Tapi kenyataan tak bisa dipungkiri. Makin banyak juga warga yang memutuskan untuk tinggal di luar, karena merasa kebebasan mereka terkekang. Sebab, untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya legal, tapi jika itu bersinggungan dgn pihak lain, maka akan butuh diskusi lama dari para penasihat yang sangat kolot.


"Apa mungkin itulah kisah sebenarnya dari kakek buyut Ammo turun gunung dan hidup di Slovstadt sebelum memutuskan pindah ke Giebellinch?" pikirnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ana.


"Tidak ada, pemimpin," elak Khouk.


"Yang dikatakan Ammo ada benarnya. Bukankah nama baikku, harga diriku juga menjadi cermin nama baik dan kebesaran klan? Lalu kenapa aku harus mengemis pada para penasehat itu? Mereka yang seumur hidupnya duduk manis di kursi megah, tidak akan memahami apa yang ku alami!" geram Ana.


"Kau harus mereformasi struktur, aturan rumit, serta orang-orang tua yang sudah ketinggalan jaman itu!" Ammo memanas-manasi.


"Pasti! Itulah yang pertama kulakukan saat kembali!" Ana memandang tajam pada Khouk.


Pria itu terkejut, mundur selangkah dan berjongkok. "Saya tidak akan mengkhianati Anda. Yang kita bicarakan di sini, akan tetap tinggal di ruangan ini!" sumpahnya.


"Bagus!" Ana mengangguk.


Sekarang Ammo bisa melihat bagaimana tegasnya Ana jika dia punya sedikit power. "Aku akan selalu jadi pendukungmu!" janji Ammo dalam hati.


"Aku ada pekerjaan. Kalian pikirkan saja cara untuk menggunakan sumber daya klan!" Ammo berlalu dari kamar Ana.


*


*


"Kalian bertiga dapat tugas khusus," ujar Ammo pada Ariel, Donny dan Ivan.


"Bagus sekali. Sudah beberapa waktu kami tak punya pekerjaan," sambar Ivan.


"Aku senang melihat semangatmu!" Ammo tersenyum.


"Kalian berdua bekerja di kantor. Bantu rekrutmen karyawan baru. Tapi aku mau semua yang akan diwawancara sudah melewati seleksi ketat," ujar Ammo.


"Oke. Berikan pada kami posisi apa saja yang dibutuhkan dan kriterianya," ujar Ivan.


"Ini!" Ammo mengirim file pada Ariel. " Kau bantu buat berita lowongan kerjanya dan bertindak sebagai penyalur. Jadi jangan langsung katakan bahwa perusahaanku yang membuka lowongan kerja!" tekan Ammo.


"Oke!" Ariel mengangguk. "Kami harus menyewa satu kantor kecil sebagai tempat wawancara dan alamat surat!" tambah Ariel.


Ammo mengangguk. "Kau hitung dan katakan saja berapa yang kau butuhkan untuk hal ini." Ammo setuju.


Akan kukerjakan!" Ariel menyikut dua kawannya untuk berlalu dari ruang kerja Ammo. Ketiganya keluar dan menutup pintu.


Ammo langsung berjalan menuju ruang lab rahasia dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai tadi malam.


*

__ADS_1


*


"Khouk, apa kau bisa menghubungi orang-orang klan yang tersebar di kota ini?" tanya Ana.


"Bisa! Aku mengenal semua mereka yang ada di lima kota sekitar," jelasnya.


"Bagus!" Ana mengangguk.


"Boleh saya tahu untuk apa menghubungi mereka?" tanya Khouk.


"Bertemu denganku!" jawab Ana lugas.


"Anda ingin mengumpulkan mereka?" ulang Khouk.


"Apakah aku juga tidak boleh mengenal anggota klan yang kupimpin?" tanya Ana tajam.


"Tentu saja boleh. Itu krsempatan bagus bagi mereka untuk bertemu pemimpin klan yang baru."


"Jadi kau setuju?" desak Ana.


Khouk mengangguk. "Ya. Anda hanya perlu memerintah saya. Akan langsung saya kerjakan!" jawab pria itu.


"Tapi tiap kali aku ingin melakukan sesuatu, kau pasti bertanya. Dan itu memberi kesan kau keberatan, tidak setuju, atau tidak sependapat denganku!" tuduh Ana.


"Saya tidak berani. Maafkan jika Anda jadi merasa seperti itu. Saya hanya ingin mengantisipasi, jika Anda membuat rencana keliru," ujarnya meluruskan.


Khouk berjongkok dan menundukkan kepala. "Saya sudah melampaui kewenangan saya saya. Maafkan!" ujarnya dengan suara rendah.


Ana mengangguk. "Lakukan tugasmu! Undang mereka ke sini, dua hari lagi!" perintah Ana.


"Ke sini?" Khouk tak bisa menghentikan kebiasaannya bertanya. Dan itu membuat Ana mendengus kesal.


"Ya!, ke sini! Apa harus kujelaskan juga alasannya?" sergahnya.


"Tidak perlu, Pemimpin. Perintah akan segera kulakukan!" Khouk menunduk, lalu berjalan ke luar ruangan.


"Hah, mulutku yang cerewet ini!" Khouk mengumpat sendiri dalam hatinya.


Pria itu dengan segera menghubungi orang-orang klan yang diketahuinya berada di lima kota sekitar. Orang-orang yang memastikan dapat hadir, telah dicatat dan diberinya alamat, agar dapat bersiap.


*


*


Dua hari kemudian.


Ammo menyerahkan hasil kerja kerasnya pada Ana.

__ADS_1


"Pakai ini untuk pertemuan nanti!" permintaan itu, terdengar seperti perintah yang tak busa ditawar.


Ana melihat manekin yang diangkat Ammo ke dalam kamarnya. Dahinya mengerut.


"Kau amat sangat kreatif. Pria lain akan menghadiahkan gaun berkilau untuk seorang gadis. Tapi kau memberiku pakaian ketat yang penuh tombol!" komentar Ana.


"Gaun berkilau tidak akan menyelamatkanmu!" ujar Ammo terus terang.


"Oh ... berarti pakaian ini bisa menyelamatkanku." Ana bangkit dari duduknya dan mulai memperhatikan detail pada pakaian itu.


Ammo pun dengan bersemangat menjelaskan fungsi dan keunggulan pakaian yang dibuatnya itu.


"Kau ingin menjadikanku robot?" selidik Ana setelah mendengarkan penjelasan Ammo tentang beragam fungsi pakaian itu.


"Bukan seperti itu juga. Tapi andai saja pakaian ini selesai lebih awal, kau mungkin tidak akan terluka seperti itu!" sesal Ammo.


"Dan kau juga pasti punya!" tebak Ana.


"Ya! Lihatlah ... aku selalu mengenakannya, untuk meminimalisir kemungkinan cedera parah!"


Ammo mengangkat baju kaos yang dikenakannya. Ana bisa melihat, pria itu memang memakai baju pelindung yang sama.


""Baiklah, akan kukenakan. Sekarang kau keluar, agar aku bisa berganti pakaian!" Ana mendorong tubuh Ammo ke pintu.


"Kau akan jadi istriku, kenapa aku harus menyingkir?" goda Ammo.


"Kau terlalu percaya diri! Jangan lupa, bahwa kau sudah mengusir calon mertuamu. Kesalahanmu itu sulit dimaafkan!" balas Ana.


"Haahhh ... kenapa kau terus mengungkit hal itu? Aku emosi juga karenamu! Karena mereka berlaku kasar padamu dan Maya!" Ammo membela diri.


""Berisik! Keluarlah ... sebentar lagi tamu-tamu datang!" Ana mulai jengkel.


"Baiklah, Nyonya. Hamba akan mendengarkan perintah!" ujar Ammo dengan suara dibuat-buat.


"Konyol!" sembur Ana sebal, lalu menutup pintu.


"Kenapa dia jadi menjengkelkan?" gumam Ana. Dia sudah buru-buru, agar tidak sampai terlambat muncul di depan para anggota klan.


Beberapa menit kemudian.


"Pakaian yang aneh!" Ana memandangi tubuhnya di depan cermin besar.


"Aku mungkin akan berubah jadi robot kalau semua fungsi digunakan!" lirihnya sambil tersenyum miring.


Tak bisa dipungkiri, Ammo memang seorang yang genius, hingga bisa memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Sayang sekali jika orang sepertinya tak bisa kembali ke klan karena alasan yang sereceh persaingan cinta. Itu tak masuk akal sama sekali.


Ana sudah memikirkan pidato yang ingin diucapkannya di depan para tamu.

__ADS_1


*******


__ADS_2