Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
27. Apakah Ammo Tertangkap?


__ADS_3

Ammo dan Ana mengendap-endap dalam bayangan malam. Mereka menggunakan kacamata night vision khusus. Ammo melengkapinya dengan berbagai fungsi tambahan canggih.


Keduanya terus bergerak dalam keheningan. Beberapa kali mereka melihat beberapa titik merah bergerak di kejauhan. Itu membuat keduanya menghindar lebih jauh dari titik semula.


"Apa kau mau bergantian menggendongnya?" bisik Ammo.


"Tidak perlu!" tolak Ana.


*


*


Dini hari, saat langit di ufuk menyiratkan cahaya pertamanya. Ana menyadari sekitarnya. Diambilnya pistol dan menodong kepala Ammo yang jadi berhenti seketika.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ammo tenang.


"Ini bukan jalan menuju perbatasan!" ujar Ana marah.


"Memang bukan. Aku tidak bilang akan membawamu ke perbatasan," balas Ammo tenang.


"Kalau begitu kita berpisah di sini!"


Ana mengamati sekitar. Melihat jamnya untuk menentukan arah.


"Kau tak boleh ke sana. Mereka sudah menunggumu di perbatasan." Ammo mencoba menjelaskan.


"Lalu mereka mengirimmu agar aku mengikutinya masuk perangkap heh?"


Ammo menggeleng.


"Kemaren sore mereka mencoba membunuhku. Tapi aku lolos. Mereka mungkin belum tau aku masih hidup."


Ana mengamati Ammo dengan seksama. Mencari sedikit gambaran dusta di wajah pria itu. Tapi dia tak menemukannya.

__ADS_1


"Ada banyak perubahan yang terjadi dalam dua hari ini. Aku akan mengatakannya nanti setelah kita sampai. Sekarang yang penting adalah menghilang dari sini!" ujar Ammo tegas.


Ana masih meragu. Tapi pistol yang tadi ditodongkannya sudah disimpan kembali. Ammo kembali bersiap melanjutkan langkah.


"Aku sudah berusaha menjemputmu. Sekarang terserah padamu, mau percaya padaku atau tidak. Aku tak punya waktu berdebat dengan gadis keras kepala sepertimu!"


Ammo melanjutkan langkah meninggalkan Ana. Sementara gadis itu terdiam dan memandangi punggung Ammo. Dia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.


"Apa aku harus mengikuti kata-katanya?" gumamnya.


"Hei, apa kau punya bukti pengkhiatannya? Atau jangan-jangan itu hanya kecurigaanmu saja!"


Suara di pikiran Ana membantah keraguannya. Ana memejamkan mata. Sebentar lagi langit terang. The Hunters itu bisa menggunakan helikopter untuk memeriksa seluruh hutan. Dia tak boleh menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini.


Ana bergegas melangkah. Mengikuti panas tubuhnya yang masih dapat dilihatnya melalui kacamata.


Menjelang subuh, Ammo berhenti di satu tempat. Ana mendekatinya.


"Turunkan dia. Agar tak menyulitkanmu saat turun." Ammo meminta Maya yang masih tertidur akibat obat semalam.


"Dia tidak menyulitkanku," bantah Ana.


"Ayolah, jangan berdebat sekarang. Kita kehabisan waktu," keluh Ammo. Dia terlihat lelah.


Ana tertegun. Dia menyadarinya sekarang. Pria di depannya itu tak pernah mendebatnya. Dia selalu mengalah. Diturunkannya Maya dari punggungnya.


Ammo membantu memasang tandu portabel dan memasang belt untuk menahan tubuh Maya tetap aman saat diturunkan ke tebing.


Ammo melempar tali pada dahan pohon besar di tepi tebing. Menjulurkan tangga tali ke arah bawah.


"Ana, kau turunlah lebih dulu. Ada gua di bawah sana. Maya akan ku turunkan kemudian."


Ana membeku, heran. Bagaimana pria ini tau nama aslinya? Umumnya rekan kerjanya hanya memanggilnya Angel.

__ADS_1


"Bagaimana kau tau namaku?" selidiknya.


"Haruskah ku jawab sekarang? Sebentar lagi langit terang. Dan mereka akan segera menemukan kita!" Suara Ammo meninggi.


Ana diam sejenak.


"Aku turun," katanya.


"Hemmm."


Ammo mengangguk.


Dia masih sibuk mengikat tali temali untuk menurunkan tandu Maya.


Sekarang tandu itu sudah sangat aman. Maya takkan meluncur jatuh meskipun tandu sedikit miring. Ammo melihat ke bawah tebing. Ana baru saja berpindah ke gua.


"Aku turunkan Maya!" seru Ammo dengan nada rendah. Ana mengacungkan jempolnya.


Perlahan-lahan tandu itu turun. Posisi tali ditahan oleh dahan pohon yang besar di pinggir tebing. Ana mendongak melihat tandu itu turun. Dia menunggu dan siap meraih tandu agar masuk ke dalam gua.


Ana meraih Maya dan meletakkannya di lantai gua. Gua ini tidak cukup tinggi. Jadi dia hanya bisa membungkuk di situ. Di dorongnya tandu Maya lebih jauh ke dalam. Gadis itu berpindah ke tepi gua dan melihat ke atas. Dia terkejut melihat tangga tali yang tadi dinaikinya meluncur jatuh. Ana menangkap dan menariknya masuk gua.


"Ammo!"


Wajah Ana memucat. Dia melihat tangga tali di tangannya dengan pandangan beku. Apakah Ammo tertangkap? itu sebabnya dia memotong tali agar Ana punya waktu untuk pergi?


"Baiklah. Aku takkan menyia-nyiakan usahamu!" gumam Ana menguatkan tekad.


Dia membungkuk masuk ke dalam gua sambil menyeret tandu Maya.


"Sekarang kita berdua lagi, Maya," ujar Ana sambil terus merangkak masuk gua.


******

__ADS_1


__ADS_2