Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
148. Mengajak Ana Tinggal di Kediaman Ammo


__ADS_3

Blake yang belum diatur kepindahannya oleh Ammo, terkejut melihat bosnya tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan.


"Bos!" Blake berlari menyambut Ammo. Dua pengawal lain dari Basecamp ikut berlari di belakang Blake.


"Bagaimana Ana?" tanya Ammo.


"Saya pikir, harusnya sedang beristirahat, Bos," jawab Blake.


Ammo berhenti melangkah. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya. Masih jam sembilan malam lewat sepuluh menit.


"Tak mungkin dia sudah tidur!"


Dengan keyakinan itu, Ammo melanjutkan langkahnya di teras ruang rawat. Teras itu sedikit remang-remang. Posisi lampu terlalu jauh, menciptakan sedikit bagian gelap diantara pendaran cahaya.


"Yang mana kamarnya?" tanya Ammo pada Blake.


"Di depan!" Blake memandu.


Tak lama mereka berdiri di depan pintu kamar Ana. Ammo melarang Blake mengetuk pintu untuknya. Dia akan melakukannya sendiri.


Setelah menghembuskan napas untuk mengusir kegugupannya, Ammo mengetuk pintu. "Ana," ini aku!" ujarnya.


Kemudian membuka pintu tanpa menunggu sahutan dari dalam. Kakinya baru masuk satu langkah melewati pintu, saat sebilah pisau pendek melengkung, diarahkan le perutnya.


Ammo terkejut, membuatnya refleks memukul keras tangan itu hingga pisau itu terlepas dari tangan penodongnya. Ammo berteriak. "Blake, ada penyusup!"


Sambil menghindar, Ammo menyikut pinggang penyerangnya, kemudian menyambar cepat pisau yang tadi jatuh di lantai dan mengavungkannya pada pria yang berada di depan pintu.


Blake dan dua temannya masuk dengan panik sambil menodongkan senjata masing-masing. "Mana penyusupnya, Bos?"


Tiga orang itu mengarahkan pistol mereka ke kanan kiri dan tidak melihat musuh yang dimaksud Ammo. Tapi kemudian menyadari kalau Ammo mengarahkan pisau pada srorang pria berambut kelabu panjang tak terurus.


Blake memiringkan kepalanya sedikit, kemudian menurunkan pistolnya.


"Kau lagi apa?" tegur Ana yang terbangun akibat kegaduhan yang ditimbulkan Ammo.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ammo khawatir. Didekatinya Ana dan mengarahkan pisau itu pada pria berambut panjang.


"Amankan penyusup itu!" perintahnya.


Blake dan dua temannya, saling pandang. Orang yang dimaksud Ammo hanya terkekeh geli.


"Bos, dia bukan penyusup!" jelas Blake.


"Dia orangku!" Ana menjawab pertanyaan di mata Ammo.


"Oh? Baiklah ... kalian bisa keluar sekarang!" perintah Ammo pada Blake dan dua pengawal lain.


"Ini pisaumu. Lain kali hati-hati menggunakannya!" tegur Ammo. Khouk mengambil kembali pisau miliknya dan menyimpan dengan rapi di pinggang.


"Kau boleh menunggu di luar!" kata Ana pada Khouk.

__ADS_1


"Baik." Khouk keluar dan menutup pintu kamar.


"Siapa dia?" tanya Ammo.


"Bukankah sudah kubilang kalau dia orangku!" ujar Ana ketus.


"Ya, maksudku, siapa namanya. Kau kenal dia di mana? Apakah orang biro juga?" Ammo memberondong Ana dengan berbagai pertanyaan.


"Namanya Khouk. Bukan bagian dari agensi," sahut Ana.


"Sekarang katakan ada apa kau kemari malam-malam dan mengganggu tidurku!" ketus Ana.


"Kau sedang tidur?" tanya Ammo tak percaya.


"Ya! Kegaduhan yang kau buatlah yang membangunkan tidurku!" ketus Ana lagi.


Ammo terdiam. "Ternyata dia sama sekali tidak terganggu dengan pesan-pesanku," batin Ammo kecewa.


"Hei! Katakan ada perlu apa kau, sampai menggangguku!" tanya Ana jengkel.


"Tidak ada. Hanya ingin mengganggumu saja!" sahut Ammo datar.


"Kau sangat tidak masuk akal!" cela Ana. Ammo hanya mengedikkan bahunya tak peduli.


Ammo tiba-tiba mendapat ide brilliant. "Besok kau pindah saja ke rumahku. Biar Theo yang merawatmu. Kau pasti cepat sembuh di sana!" ujarnya santai.


"Hah? Apa kau salah makan obat hari ini?" Ana tak habis pikir. Ide macam apa itu?


"Jika aku sudah diijinkan pulang, aku akan pulang ke rumahku sendiri. Untuk apa aku ke rumahmu?" tanyanya heran.


"Apa?" Ana ternganga dan keheranan melihat Ammo yang sedang menutup mulutnya dengan panik.


"Khouk!" teriak Ana lantang.


Pria itu masuk ruangan dengan cepat. "Ada apa, Pemimpin?" tanyanya siaga. Blake juga ikutan masuk, ingin tahu apa yang terjadi.


"Coba kau periksa dia. Kurasa dia bukan Ammo yang asli! Sejak sore dia bertingkah aneh dan tak masuk akal!" perintah Ana serius.


Khouk menoleh pada Ammo dengan ragu. Mengamatinya sejenak. Dia telah bertahun-tahun mengamati pria itu. Khouk yakin itu adalah Ammo yang dikenalnya.


"Kau bicara apa! Aku Ammo! Satu-satunya Ammo dan pasti asli!" kesalnya.


Ammo sangat jengkel pada Ana. Jadi, gadis itu justru mencurigainya palsu gara-gara berkirim pesan lamaran kemudian datang kesini?


"Kau bersikap tidak masuk akal hari ini. Tidak seperti Ammi yang kukenal!" debat Ana.


"Apanya yang tidak masuk akal? Mengajakmu pulang ke rumahku untuk dirawat? Itukan sekalian melindungimu! Lagi pula ada Theo banyak pelayan lain yang bisa mengurusmu dengan baik di sana!" Ammo membeberkan argumennya.


"Itu ide yang bagus!" dukung Khouk.


"Kau lihat! Orangmu sendiri setuju pada pendapatku!" desak Ammo.

__ADS_1


Ana mengerutkan dahinya.


"Kata-katamu bukan cuma itu!" bantah Ana sebal.


"Soal lamaranku? Apanya yang tidak masuk akal jika seorang pria melamar wanita?" tanya Ammo berani.


"Sudah terlanjur diucapkan. Jadi mari hadapi dan selesaikan hingga tuntas saja, biar semua jadi jelas," pikir Ammo.


"Siapa melamar siapa, Bos?" Blake menimpali.


"Aku melamarnya tadi siang. Ingin menjadikannya nyonya rumah kediaman Oswald! Bagian mana yang tidak masuk akal?"


Kata-kata Ammo berhenti setelah sebuah bantal melayang ke arahnya, karena dilemparkan Ana.


"Masuk akal, Bos. Selamat berjuang!" Blake memberikan dukungannya, kemudian memilih untuk keluar dari kamar.


Sesampai pintu, Blake teringat sesuatu. Dia balik lagi dan menarik Khouk keluar dari kamar.


"Ini urusan pribadi mereka. Bawahan tak boleh ikut campur!" nasehat Blake.


Khouk mengikuti Blake keluar. Tapi dia membalikkan badan sebentar. "Tinggal di sana selama pemulihan, adalah ide bagus!" ujar Khouk.


Ammo tersenyum penuh kemenangan. Semua berpihak padanya. Jadi tinggal menunggu keputusan Ana.


"Lamaranmu benar-benar luar biasa. Tapi sayangnya, aku---"


'Tak perlu jawab sekarang. Aku akan memberimu waktu untul berpikir!" Ammo menutup mulut Ana yang akan berbicara.


"Ehmmm ... ehmmm!" Ana protes mulutnya dibekap begitu rupa.


Karena Ammo tak juga melepaskan mulutnya, akhirnya Ana menggigit tangan Ammo yang menutup mulutnya.


"Aakhh ...!" teriak Ammo keras. Gadis itu menggigit dengan serius.


"Sakit, tauk!" gerutu Ammo.


"Salahmu, membekap mulutku. Apa kau tak menyadari kalau aku sedang sakit? Tanganmu itu hampir mengenai bagian yang baru dioperasi!" bentak Ana.


Ammo terkejut. "Maaf ... maaf. Aku tak ada maksud untuk menyakitimu!" ujarnya sedih. Ammo menyesali perbuatannya.


"Tapi yang dikatakan Khouk benar!" ujar Ana setelah menimbang-nimbang.


"Mana yang benar?" tanya Ammo memiliki harapan lagi.


Ana diam sebentar. "Memulihkan diri di tempatmu. Harusnya akan lebih menyenangkan, ketimbang menghabiskan waktu di klinik yang suram ini!" akunya.


"Berarti kau setuju?" Ammo tak percaya dengan pendengarannya.


"Aku setuju untuk memulihkan kondisiku di tempatmu!" sahut Ana lugas.


"Baik!" jawab Ammo senang. "Ini perkembangan yang bagus. Yang lainnya menyusul pelan-pelan," batinnya.

__ADS_1


"Beristirahatlah. Besok kita kembali!" Ammo melangkah ke pintu dengan senyuman.


*****


__ADS_2