Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
9. Minggu Pagi


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah di bulan pertama musim semi. Matahari bersinar. Pohon camelia di halaman tetangganya mulai semarak dengan bunga-bunga pink nya yang indah. Di planter box trotoar, bunga iris kuning juga mulai memamerkan kecantikannya.


Angin meniup lembut dedaunan di ranting-ranting pohon yang berjejer rapi di sepanjang jalanan kompleks. Namun udara tidak terlalu panas. Sisa-sisa dinginnya udara musim dingin masih terasa menyejukkan. Banyak warga kota yang memanfaatkan cuaca ini untuk beraktifitas di luar rumah.


Biasanya Ana menghabiskan akhir pekannya membawa Mimi piknik di taman disamping danau buatan dekat kompleks perumahan itu. Dengan cuaca yang cantik seperti sekarang, dia akan betah berlama-lama duduk atau tiduran di taman. Menggelar tas kain kecil untuk berbaring. Mengeluarkan novel yang belum selesai-selesai dibacanya. Sembari ngemil biskuit buatan nyonya Maiden yang terkenal dari toko kue di ujung jalan.


Tapi hari ini dia harus mengambil peralatan barunya. Jadi dia dengan sengaja bangun lebih pagi. Lalu joging bersama warga lain keliling kompleks 2 putaran. Kemudian memandikan Mimi lebih dulu sebelum membersihkan diri.


Jam 10 pagi, Ana sudah siap. Dia memasang rantai cantik di kalung Mimi. Kucing manja itu tau dia akan dibawa jalan-jalan, setelah dipakaikan baju yang cantik. Mimi tak henti berputar mengikuti kemanapun kaki Ana melangkah.


Ana keluar rumah dengan pakaian rapi berpotongan sederhana. Blus polka putih dengan warna dasar baby blue. Dipadu rok span hitam sebetis dengan belahan di belakang. Scraft sutra motif bunga warna kelabu dipasang manis di lehernya.


Rambut pirang keemasannya masih dikuncir kuda. Namun dengan tatanan yang sedikit berbeda dari biasa. Lebih tinggi dan mengembang indah di puncak kepalanya. Kakinya yang putih jenjang mengenakan sepatu boot semata kaki warna hitam bahan suede dengan hak 5cm.


Penampilannya disempurnakan dengan clutch kulit hitam dan kacamata warna senada berujung runcing. Keseluruhan tampilan Ana hari itu memberi kesan klasik dan elegan.


Sambil memegang rantai Mimi, Ana melangkah dengan anggun.


"Hai Shasha. Kau cantik sekali pagi ini," sapa tetangganya.


"Lama tak jumpa Shirley. Kau juga terlihat 10 tahun lebih muda dengan dress itu," Ana membalas sapaannya ramah sambil melambaikan tangan.


Dia bisa mendengar tawa bahagia nenek tua itu saat berlalu.


"Shasha! Aku tak percaya ini kau, jika tak melihat Mimi...!"

__ADS_1


Ana tersenyum ramah pada wanita paruh baya yang menyapanya.


"Kau cantik sekali Mimi...."


Wanita itu mengangkat Mimi. Dia melihat baju yang dikenakan Mimi selaras dengan setelan Ana.


"Apa kau mau ikut kontes kecantikan kucing, huh? Kau sangat wangi dan cantik pagi ini."


Wanita itu menciumi bulu halus Mimi tanpa ragu. Senyum di bibir Ana langsung lenyap. Dia tak suka kucingnya dipeluk dan dicium orang lain.


"Sorry Alex. Aku terburu-buru."


Ana segera mengambil alih kucingnya dari tangan Alexa. Dia memaksakan sebuah senyuman sopan sebelum berlalu.


"Berhati-hatilah di jalan!" seru Alexa.


Ana melambaikan tangannya pada Alexa. Tangan lainnya memeluk Mimi erat.


"Apa kau sangat suka dipeluk orang lain, huh?!"


Ana mengusap-usap kepala Mimi dengan selembar tissue basah. Dia jadi harus memandikan kucing ini lagi saat pulang nanti. Ana tak suka mencium bau orang lain menempel padanya ataupun pada barang miliknya.


Kali ini Ana menyetop sebuah taxi. Dia menyebutkan alamat tujuannya. Sopir taxi meliriknya sebentar melalui cermin di atas kepalanya. Ternyata Ana menyadari dan balas menatapnya dengan tajam.


Sang sopir yang tak mengira mendapat respon begitu, segera mengalihkan pandangan ke depan. Jika tatapan dapat membunuh, maka dia pasti sudah mati saat ini.

__ADS_1


Sopir menjalankan mobil dengan hati-hati. Fokus mengemudi dan memperhatikan jalan. Atau akan mendapat tatapan mematikan lagi dari penumpang di belakang.


'Masa sudah harus mati dua kali pagi ini saja?' pikirnya.


Dia menggelengkan kepala pelan. Membuang bayangan mengerikan dari kepalanya.


"Ada apa? Apa kau tau jalan yang ku tuju?" tanya Ana yang terus mengawasinya sejak tadi.


"Hah?!"


"Apa?!"


Sopir itu terkejut mendengar penumpangnya tiba-tiba bertanya.


Ana mengerutkan keningnya meliat reaksi itu.


"Apa kau melamun saat menyetir? Kau mau kita mati? bentak Ana marah.


Sopir itu gugup dan berkeringat dingin. Kehadiran Ana benar-benar mengintimidasinya.


"Tidak nyonya.... Saya akan mengantar anda dengan hati-hati. Selamat sampai tujuan."


Ana mendengus. "Perhatikan jalan!"


Mobil itu kini hening. Hening yang mencekam. Sopir itu entah mengapa, merasa takut pada Ana. Dia baru kali ini membawa Ana di mobilnya. Tapi dia merasakan ketakutan yang amat sangat dan tak bisa dijelaskan. Tengkuknya terasa dingin tanpa alasan.

__ADS_1


******


__ADS_2