
Ariel kembali bekerja dan berusaha menghubungi Vladimir yang menderita kerugian paling banyak dari dua tim yang turun.
Dia berusaha mengontak radionya, namun tidak berhasil. Ariel juga berusaha memberikan sinyal kode pada jalur darurat. Harusnya itu tak akan mengalami kendala.
Benar saja. Tim itu mengalami kendala radio. Tapi sinyal kode darurat masih bisa tersambung ke lokasi.
"Tempat ini sudah ketahuan. Kami terjebak dalam baku tembak di sini," lapor Vladimir.
Ariel mengatakan informasi yang didapatnya.
"Sial!" geram Ammo. Wajahnya merah padam menahan kemarahan.
"Minta mereka ke bungker perlindungan. Biar aku yang membereskannya!" geram Ammo murka.
Ariel mengirimkan kode pesan Ammo pada Vladimir. Pada layar, bisa dilihatnya anggota yang tersisa itu pergi ke satu titik yang merupakan bungker darurat tempat mereka bisa terlindung dari serangan berat.
Ariel melirik Ammo yang kini sibuk mengetik di laptopnya. Pria itu jadi lebih pendiam sekarang. "Bagaimana situasi mereka sekarang?" tanyanya.
"Mereka sudah berada di bungker!" sahut Ariel. Dilihatnya Ammo mengangguk. Tak lama jari Ammo menyentuh keyboard laptopnya. ariel bisa melihat titik merah berkedip-kedip di layar besar yang menampilkan lokasi Vladimir.
"Semoga semua orang kita selamat," ujar Ariel ngeri.
"Apa kau pikir aku akan mengorbankan dia?" sergah Ammo tajam.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya tak ingin jatuh korban lagi di pihak kita. Bagaimanapun, perjalanan mereka ke tempat aman masih sangat jauh," jelas Ariel.
Ammo tak menjawab. Dia kembali disibukkan dengan tim ketiga yang menjadi rencana cadangan Ammo.
"Bagus! Kalian mendapatkannya. Amankan! Tunjukkan file ini padanya. Jika dia tak setuju, kita akan sebarkan informasi itu pada media!" perintah Ammo.
"Ivan, Apa kau sudah menemukan informasi tambahan itu?" tanyanya.
"Belum!" sahut Ivan. Dia tak mengalihkan pandangannya dari laptopnya sendiri. Terus memeriksa file dengan teliti.
Ammo mengamati lagi kondisi Vladimir. Sekarang, titik merah itu telah membias kemana-mana, tanda senjata yang dikirim Ammo sudah meledak di sana.
"Awasi mereka!" ujar Ammo.
"Baik!" sahut Ariel. Matanya tertuju pada safe house yang sudah tak berbentuk lagi. Semua orang yang semula terlihat menegejar Tim Vladimir, telah lenyap.
__ADS_1
Ariel mengirimkan sinyal kode darurat pada pria itu, untuk mengetahui keadaan mereka di bawah sana.
"Tempat itu sudah diledakkan. Kalian bisa keluar lewat jalur aman dan lanjutkan sesuai rencana!" pesan Ariel.
Kemudian ada pesan masuk dari mata-mata yang ada di kota.
"Ada pergerakan dari partai oposisi. Mereka bergabung dengan gerakan rakyat dan turun berdemo ke jalan."
Ariel menterjemahkan kode yang dikirim dan menuliskannya ke layar besar di tengah ruangan.
"Para oportunis itu!" geram Ammo. "Setelah melihat dan mendapatkan cukup informasi dan keadaan pemerintahan pincang, baru berani bergerak!" cercanya sinis.
Ariel tak berani menanggapi. Ammo sedang emosi sekarang. Bawahannya banyak yang tewas untuk memperjuangkan perubahan, Tapi orang yang didukungnya yang mengaku ingin perubahan, justru tergiur pada penguasa dan hampir tunduk serta mengkhianatinya. Hal itu membuat Ammo sangat pesimis akan menemukan orang baik yang benar-benar bisa membawa angin perubahan bagi negara itu.
"Ada pesan dari Vladimir!" ujar Ariel lagi.
"Bacakan!" ujar Ammo.
"Mereka telah keluar lewat jalur bawah tanah ke titik penjemputan," kata Ariel.
"Bagus! Minta mereka mencatat siapa saja yang tewas dalam aksi ini," perintah Ammo.
Ammo kembali sibuk dengan tim ketiga. "Desak terus dia! Paksa!" tegas Ammo.
"Aku mendapatkan bukti pendukung yang tadi!" seru Ivan girang tidak kepalang.
"Berikan padaku," kata Ammo. Dia terlihat tak sabar.
Ivan segera mengirimkan file pendukung dari berkas yang dia temukan beberapa waktu lalu.
"Hebat! lanjutkan kerja bagusmu!" puji Ammo.
Ammo segera mengirimkan file itu pada tim ketiga. "Tunjukkan itu padanya. Jika dia masih tidak bersedia, maka sudahi saja. Aku tidak butuh orang yang tak mau bekerja sama!" ujar Ammo tegas.
"Baik!" jawab suara di ujung sana.
Ammo memperhatikan langkah orang-orang tersebut. Dia menjadi tidak sabaran sekarang. Jari jemarinya kembali mengetuk meja dengan berirama. Dia sedang gusar, gugup dan banyak pikiran. Sangat berbeda dengan Ammo yang tenang seperti biasanya.
Donny masuk ruanagn. "Kami menemukan informasi penting!" ujarnya.
__ADS_1
"Tunjukkan padaku!" kata Ammo.
Donny segera mengirimkan info yang didapatnya. "Berikan pada Ariel. Dan sebarkan itu di media. Si brengsek itu tak punya pilihan lain lagi sekarang!" katanya dengan senyum mengerikan di wajahnya.
Ariel bekerja cepat dan mengirimkan informasi yang selama ini ditutup rapat oleh Biro K, kepada media agar rakyat bisa melihat sisi gelap rezim itu.
"Dia bersedia!" lapor ketua tim ketiga!
"Bagus! Lakukan sesuai dengan aturan hukum!" pesan Ammo.
"Baik!" sahut suara di seberang sana.
Ammo menyeringai. "Orang-orang hipokrit itu. Di depan terlihat sangat baik dan tanpa cela. Masih berlagak di depanku. Setelah rahasia besarnya dibongkar, dia tak punya jalan lain!" komentar Ammo pedas.
Ruangan itu kembali hening. Semua berkutat dengan pekerjaannya. Ariel masih menyajikan info-info baru dari para mata-mata yang mereka sebarkan. Tapi Ammo sedikit lega karena para bawahannya berhasil selamat, meskipun itu hanya sebagian. Dia masih akan mencari orang-orang yang ditahan pihak militer,setelah keadaan kondusif.
"Bagaimana dengan kalian? Ada informasi baru apa lagi?" tanya Ammo. Setiap informasi penting, butuh informasi dukungan sebagai bukti dari tindak kejahatan yang selama ini merek sembunyikan rapat-rapat!" pesan Ammo.
"Siap, Bos!" sahut bawahab Kapten Smith. Mereka sudah bisa bekerja sendiri dan selalu melapor pada Donny atau Ivan, jika menemukan informasi baru.
Ammo tak main-main lagi kini. dengan cermat dilemparnya berbagai informasi rahasia ke media atau internet, agar rakyat terbuka matanya. Tapi tentu saja, tidak akan mudah mempengaruhi pikiran rakyat yang sudah dicuci, dengan sajian rezim yang dikesankan bersih dan hebat tanpa cacat cela.
Semua tim Ammo menyadari, bahwa jika mereka kalah, maka hanya ada satu akhir. Kematian! Untuk itulah gerakan ini dilakukan dengan totalitas.
Ponsel rahasia Ammo kembali bergetar. "Kami berhasil menyusup!" ujar seseorang di seberang.
"Akhirnya!" Ammo menghempaskan napasnya seperti menghempaskan beban berat yang ada di pundaknya.
"Lakukan sesuai instruksiku sebelumnya. Tak ada lagi negosiasi. Jika mereka menolak menyerah, habisi saja. Kita sudah kehabisan waktu!" perintah Ammo.
"Siap!" sahut suara di seberang.
Ammo kembali fokus pada layar laptopnya sendiri. Sepertinya ada tim lain yang dikirim Ammo untuk melakukan tugas rahasia. Ariel mendecak kagum. Donny dan Ivan tak menyangka Ammo sudah menyiapkan banyak tim pendukung untuk aksinya.
Pantas saja Romanov langsung mengambil semua file dan mengirimnya tanpa diperiksa. Mereka memang tak boleh lama-lama berada di lokasi. Tujuan Ammo menguasai Biro K adalah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan di sana. Juga menghancurkan pemimpinnya yang keji.
"Donny, kau kembalilah memeriksa orang yang mengancamku dan membuat Ana sakit. Aku harus menemukan orang tersebut dan menghabisinya!" Perintah Ammo setelah Donny membagikan satu lagi informasi penting yang didapatnya.
"Baik!" sahut Donny.
__ADS_1
********