
"Apa kau pernah dengar nama Angel K05? Apa yang kau ketahui tentangnya?" tanya Ana lagi.
"Dia pengkhianat dan pel**ur yang membongkar rahasia negara pada pihak musuh! Hahahaha.... Aku ingin sekali bertemu dan menghabisinya dengan tanganku sendiri! Pasti menyenangkan melihatmu putus asa untuk mengorek rahasiaku. Aku bukan agen rendahan seperti dirinya!"
"Cuih!" Alena meludah ke lantai.
Ana terpana mendengar semua tuduhan itu. Dia merasa aliran darahnya sudah mencapai ubun-ubun. Tapi dicobanya meredakan amarah dengan menarik nafas panjang.
"Kenapa tugasku juga sama denganmu? Siapa atasan yang menyuruhmu?" tanya Ana dengan mimik heran.
"Apa?" Alena mengangkat wajahnya tak percaya. Bagaimana bisa seorang wanita tua juga mendapat tugas yang sama dengannya?
"Kau siapa?" tanyanya tak percaya begitu saja.
Ana terkekeh mengejeknya. Saat ini kau kalah melawanku. Pikirkanlah ... bagaimana bos membenturkan kau dan aku dalam satu tugas yang sama. Hanya saja, aku jauh lebih pintar dan berpengalaman darimu!" ejek Ana.
"Dengan kegagalanmu ini, maka kau tidak akan menjadi kesayangan mereka lagi!" tambah Ana.
"Dan aku sengaja menahanmu, sampai turun perintah untuk mengejar dan membunuhmu dengan tuduhan telah membocorkan rahasia negara! Hahahaaa...."
Tawa Ana berderai di ruangan bawah tanah itu, bergaung dan menyakiti telinga Alena. Wanita itu terperangah mendengar penuturan Ana.
"Apa kau bagian dari The Hunters?" tanyanya dengan nada dan ekspresi ngeri.
"Aku sudah mendapatkan buruanmu! Aku juga mendapatkanmu!" Aku membayangkan bonus besar yang kuterima. Mungkin bisa libur hingga tiga bulan untuk menghabiskannya." ejek Ana
"Hemmpph!" Alena menggeram marah.
"Kau haus?" Ana menunjukkan gelas air pada Alena. Tapi dia tak butuh jawaban.
"Kau sudah mengotori lantai. Jadi air ini untuk membersihkannya!" Ana menuang air di gelas itu ke arah ludah Alena.
Gadis itu memandang sayu ke arah lantai.
"Bersikap baiklah. Atau kau boleh pilih mati pelan-pelan di sini. Aku tak keberatan sama sekali!" Ana keluar dan mengunci pintu ruangan kecil itu lagi.
Ana baru saja akan menaiki tangga, saat mendengar suara teriakan Alena. Dia menggelengkan kepala dengan muram.
Diraihnya satu senapan panjang koleksi Alexei dari dinding. Dia kembali membuka pintu itu. Wajahnya gelap.
"Tampaknya kau tak belajar apapun selama kutahan! Biar kujelaskan ... kau sedang berada di ruang bawah tanah, di tengah hutan. Hanya ada The Hunters di sini. Kau boleh pilih, ingin mati di tangan siapa. Tapi yang lain belum tentu sepertiku yang mungkin memberimu pilihan lain. Tapi sekarang sudah tidak lagi!" ujar Ana dingin.
Diayunkannya gagang senapan ke arah wajah Alena. Pukulan telak itu membuat kursi besi yang didudukinya ikut terdorong ke belakang dan membuatnya jatuh terjengkang.
"Argghhhh sshhhh...."
Alena meringis menahan rasa sakit di tubuh. Sementara kepalanya terasa berputar-putar akibat pukulan gagang senapan yang terbuat dari besi itu.
__ADS_1
Sekarang dia menyadari tingkah konyolnya di hadapan The Hunters yang sudah berpengalaman itu. Ada sesal di hatinya, ada juga rasa marah karena dikalahkan seorang perempuan setengah baya.
Alena berbaring diam, untuk meredakan rasa sakit yang didapatnya. punggungnya yang terluka akibat operasi brutal untuk mencabut pelacak yang dipasang di tubuhnya, sekarang terasa makin berdenyut akibat jatuh terhempas ke belakang dan membentur sandaran kursi dari besi.
Ana memasangkan kembali kain penutup mulut itu. "Lebih baik begini, agar aku tak perlu menghajar kepalamu lagi hingga pecah!" ancamnya galak. Tapi posisi gadis itu tak diperbaikinya. Dibiarkannya tetap tergeletak di lantai dingin.
Ana keluar dan mengunci lagi pintu lagi. Senapan itu diletakkannya lagi di dinding. "Koleksi paman lumayan bagus!" gumamnya.
"Ana!" terdengar sayup-sayup panggilan dari atas. Ana bergegas menaiki tangga. Menutup lagi pintu cermin rahasia di kamar mandi.
"Ya!" sahutnya.
"Ponselmu bergetar terus!" tunjuk Alexei ke arah meja makan.
Ans mendekat dan mengambil ponsel. Melihat panggilan masuk dari Ammo.
"Lindsay dan Brandy sudah kembali. Jika kau ingin mendengar informasi yang dibawanya, datanglah ke sini!" kata Ammo.
"Aku tak bisa!" tolak Ana.
"Buat pertemuan daring saja nanti. Atau mungkin lebih aman jika kau informasikan seperti biasanya," saran Ana.
"Baiklah. Aku sedang menunggu mereka datang. Semoga ada titik terang," balas Anmo.
Pria itu baru akan menutup panggilan teleponnya, ketika mendengar suara Ana lagi.
"Akan kuatur tempat pertemuannya. Setelah kejadian terakhir, aku sedikit berhati-hati. Khawatir ada yang mengikuti kita ke tempat mereka," jawab Ammo.
"Oke. Aku tunggu kabar baiknya!" timpal Ana. Setelah itu pamggilan telepon terputus.
Alexei melihat dari arah sofa. "Bagaimana dengan Nathalie?" tanyanya.
Ana menceritakan kejadian terakhir setelah dirinya mengunjungi Nathalie. Jadi Ammo sedikit berhati-hati sekarang. Dia masih mencari-cari, mungkinkah ada pengkhianat atau mata-mata yang terus mengintainya.
Alexei menganggukkan kepala mengerti. "Aku jadi lebih khawatir sekarang," gumamnya.
"Khawatir kenapa, Paman?" tanya Ana heran.
Alexei menceritakan kejadian saat dia mengambil alih tanggung jawab Kapten Smith di kediaman Ammo.
Ana manggut-manggut. "Mungkin dua orang itu hanya takut mempercayai Paman yang baru dikenalnya...."
Ucapan Ana menggantung di udara. Alexei menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman tipis. Dia bisa menduga bahwa lanjutan kalimat itu adalah ... 'Atau'.
"Atau ... dugaan Paman benar adanya," lanjutnya hati-hati. Ana terdiam dan berpikir keras.
"Apakah paman sudah mengatakan hal itu pada Ammo saat dia kembali?" tanya Ana.
__ADS_1
"Aku tidak ingat pernah menceritakannya. Kurasa hanya melaporkan yang penting-penting saja. Sebab dia terburu-buru untuk memeriksa perusahaan dan langsung pergi ke pemakaman." Alexei berusaha mengingat momen laporan tugasnya.
"Jika kita sampaikan hal itu padanya, mungkin akan menimbulkan keretakan dalam pasukan Kapten Smith," paparnya.
Alexei mengangguk menyetujui pemikiran Ana. "Tapi, jika tidak kita beritahu, maka Dia tidak aman! Bagaimana mungkin orang luar bisa mengetahui bahwa rumah dan kantornya kosong? Mereka menyerang secara serentak! Itu sangat mencurigakan!"
"Hemm ... paman benar. Apa Paman mengingat nama mereka?" tanya Ana.
Alexei menggeleng. "Aku hanya mengikat dan menutup mata mereka, agar tidak bisa melihat dan melaporkan kejadian apapun di sana, saat itu. Tapi Theo pasti tau orangnya!" jawab Alexei yakin.
"Itu sudah cukup."
Ana meraih telepon dan mengirim pesan text pada Ammo. Dia menceritakan ulang apa yang dikatakan Alexei barusan. Lama tak ada tanggapan atas pesannya, Ana akhirnya meletakkan ponsel itu di meja.
"Aku ingin meregangkan tubuh sejenak," ujar Ana.
"Mau ke mana?" tanya Alexei melihat Ana keluar rumah.
"Lari sore!" ujarnya santai. Alexei mengunci pintu rumah dan ikut menemani Ana berlari. Dia menbawa gadis itu ke lapangan tempat bawahannya berlatih.
Beberapa dari mereka melihat dengan terkejut. Baru kali ini atasan mereka itu membawa wanita ke tempat itu dan menemaninya berlari.
"Apa menurutmu, itu kekasih Mayor?"
"Apa dia sanggup berlari mengelilingi lintasan?"
Berbagai gosip dan spekulasi mulai terdengar. Dan mereka menjadi lebih bersemangat melihat atasan mereka dan wanita paruh baya itu bersiap bertanding lari di lintasan.
"Ayo Mayor! Jangan mau kalah!" dukung satu kelompok.
"Ayo Nyonya, anda juga harus bisa mengalahkan Mayor Alexei!" teriak kelompok lainnya.
"Mari kita bertaruh, Paman," kata Ana.
"Hemm ... kau ingin yang mana jika menang?" tanya Alexei seakan mengerti maksud Ana.
"Kau memang pamanku!" Ana terkekeh senang.
"Mulai!" teriak penjaga garis.
Dua orang itu melesat cepat, berusaha saling mengungguli satu sama lain. Mereka berlomba dengan gembira dan bahagia.
Ana bahagia, karena merasa seperti anak kecil yang dijanjikan hadiah oleh orang tuanya, jika menang perlombaan. Dia lari dengan bersemangat.
Sementara Alexei bahagia, masih bisa merasakan momen kebersamaan ini dengan Ana. "Valentina, aku akan menjaga putri-putrimu dengan nyawaku. Kau bisa tenang di sana," bisiknya dalam hati.
**********
__ADS_1