Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
6. Kalah


__ADS_3

Tabrakan keras tak terhindarkan. Ana yang baru berbelok tanpa mengurangi kecepatan dan juga sepeda yang sedang meluncur kencang saling bertemu di jarak satu meter dari bilik telepon.


Pria muda pengendara sepeda itu terpental cukup jauh dan jatuh di taman bunga depan Mall. Sementara Ana sendiri tanpa disangka justru terbang menabrak bagian samping bilik telepon.


"Akh... aduh!" desisnya menahan nyeri. Kepalanya terasa sedikit berputar dan berkunang-kunang.


Kriiiiinggg!


Suara dering telepon yang nyaring, membawa kesadarannya kembali. Ana berusaha berdiri. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Dan dengan susah payah berusaha masuk ke bilik telepon.


Kriiiiinggggg!


Sebelum deringan ketiga, Shasha telah menyambar gagang telepon yang tergantung dengan tangan gemetar menahan sakit.


"Ya!" katanya dengan nafas terputus-putus.


"Kau kalah!"


Suara dingin orang di ujung telepon terdengar.


Ana menggertakkan giginya menahan sakit dan amarah.


"Tidak! Aku sampai tepat waktu!" bantahnya tak kalah dingin.


"Jika bukan karena ditabrak sepeda, kau belum akan sampai tepat waktu!" kata suara di seberang, masih sedingin semula.


Ana melirik cctv di bilik telepon. Meski dadanya bergemuruh dan terasa campur aduk, dia berusaha tetap tenang. Dia tau setiap langkahnya dipantau.

__ADS_1


"Apa tugasku?" tanyanya dingin, sambil menatap kamera cctv.


"Tidak ada! Kau telah membuat dua kesalahan. Tugas kali ini akan keserahkan pada Alena!" Kata suara di seberang datar dan kejam.


"Bagaimana bisa jadi dua kesalahan?!" teriaknya tak terima. Emosinya memuncak sudah.


"Kau menabrak warga sipil!" Suara di seberang terdengar setajam sembilu di hati Ana.


Klikk!


Sambungan telepon terputus secara sepihak.


"Sialan!"


Ana menyantelkan gagang telepon itu dengan keras di kotaknya. Dia merasa sangat kesal. Upaya kerasnya gagal gara-gara pengendara sepeda itu.


"Huh! Warga sipil apa? Dia pasti salah satu orangmu!" teriaknya kesal. Tubuhnya jatuh merosot ke lantai bilik telepon.


Ana tak bisa melawan George. Sekuat apapun dia berusaha menentang pria itu, Sekuat itu pula George akan menekannya balik. Dan dia akan selalu jadi pihak yang kalah.


"Nona, apa kau baik-baik saja?"


Pengendara sepeda tadi mengulurkan tangannya ingin membantu. Dia terlihat khawatir saat Ana jatuh merosot ke lantai setelah menerima telepon.


"Huh!"


Ana menyemburkan aura amarah dari hatinya dengan menghembuskan nafas keras-keras.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." jawabnya datar.


Ana bangkit dari duduknya. Mengabaikan sepenuhnya uluran tangan pria itu. Dikibas-kibasnya bagian belakang celananya yang kotor. Diperiksanya dirinya sendiri sejenak. Tak ada rasa nyeri yang keterlaluan. Tampaknya dia berhasil mendarat dengan cukup baik di bilik telepon. Jadi tidak mengalami cedera serius.


Sejurus kemudian sebuah bus entah jurusan mana, berhenti di halte itu. Ana bergegas menaikinya tanpa menoleh lagi.


"Maafkan aku!"


Teriakan pengendara sepeda itu masih mampir di telinga Ana sebelum pintu bus tertutup otomatis. Ana bergeming. Dia sedang dongkol dan sedang ingin makan orang sekarang.


Ana menghempaskan tubuhnya di bangku bus baris paling belakang. Memejamkan mata sejenak. Meredakan amarah dan kekesalan yang ada.


Bayangan Mimi yang lucu dan manja berkelebat di ruang matanya. Perlahan segaris senyuman tipis terlukis di wajah cantiknya. Ekspresinya yang tadi tegang dan kaku, perlahan melembut.


Disentuhnya gagang kacamata. Dan mulai menikmati suasana malam yang penuh lampu warna-warni di kota itu.


Ana mengingat George. George yang berbeda. Matanya dipejamkannya dengan erat. Berusaha mengusir bayangan itu.


******


Pemberitahuan!


Minggu tidak update yaa..



Ilustrasi Anastasia.

__ADS_1


Gambar dr pinterest


__ADS_2