
"Kenapa kau menyesal?" tanya Ammo heran.
"Sebelumnya tempat itu aman, bukan? Seperti juga lab bawah lautmu yang diserang pihak lain, Rumah sakit itu juga akhirnya diketahui musuh setelah kedatanganku."
"Kurasa, masih ada alat pelacak di tubuhku. Kemungkinan dari situ mereka mengetahui tempat-tempat rahasiamu." Ana mengutarakan pikirannya.
"Hemm ... kita akan lakukan pemeriksaan menyeluruh untukmu di Rumah Sakit Besar saja. Mereka tak mungkin nekad menyerang tempat umum di negara lain, kan?" usul Ammo.
"Kurasa ... kurasa, aku harus menjauh dari kalian semua sampai kita membungkam mereka," elak Ana.
"Apa maksudmu menjauh?" nada suara Ammo meninggi. Dia tak ingin kehilangan gadis itu lagi.
"Ini demi kebaikan semuanya!" tekad gadis itu.
"Tidak! Justru itulah yang mereka mau. Menjauhkanmu dari aku dan memojokkan hingga tak punya tempat berlindung lagi. Mereka ingin membungkammu, Ana!" tegas Ammo.
"Mereka sudah tak bisa membungkamku. Aku sudah buka suara. Kau, uruslah yang perlu. Aku akan menyibukkan mereka untuk sementara waktu," ujar Ana dengan suara tegas.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Ammo panik.
"Bernyanyi dengan suara nyaring!" sahut Ana sebelum mematikan telepon.
"Ana!" teriak Ammo tercengang.
"Apa yang dilakukan gadis bodoh ini. Bernyanyi? Apa dia membocorkan rahasia biro? Ya Tuhan!"
Ammo panik. Matanya bergerak liar, memikirkan nerbagai kemungkinan. Sejak mengenal Ana, hidupnya tidak lagi tenang. Dan menjadi semakin rumit setelah memutuskan untuk mengikuti Ana. Ammo memilih masuk ke biro sebagai perusahaan yang menyediakan peralatan pendukung.
"Apa yang dibocorkan Ana? Pada siapa dia mengirim informasi rahasia tersebut?" Ammo berpikir keras.
"Jika itu yang kau lakukan, maka yang mengejarmu tidak hanya Biro. Tetapi juga intelijen negara ini! Dasar gadis bodoh!" rutuk Ammo kesal.
Pria itu menjadi lebih kesal lagi, karena saat ini konsentrasinya terpecah. Dia sudah akan berangkat sore ini bersama Bibi Harriet untuk memeriksa tentang kematian Carl.
Tadi pagi, setelah penyerangan, lokasi medis rahasia itu telah ditutup oleh pemerintah setempat. Dokter Armstrong sebagai kepala Rumah Sakit itu, ditahan dan dimintai keterangan.
Pasien-pasien yang ada di sana adalah para staf perusahaan Ammo dan para penjaga yang butuh perawatan khusus. Takkan mudah untuk membereskan hal ini, setelah penyerangan yang menarik perhatian pemerintah negara itu, terutama dengan banyaknya penjaga yang ditempatkan.
__ADS_1
Beruntung Nathalie, Sanders, Oscar dan Dokter Sarah berhasil kabur lebih dulu. Empat orang itu, hanya dilindungi oleh dua puluh tentara bayaran, termasuk Blake. Itu membahayakan! Dan Ammo belum menerima kabar, apakah mereka telah sampai di tempat tujuan! Ini membuatnya cemas.
Dengan perhatian luas yang diarahkan pemerintah, tak mudah bagi para tentara untuk kabur dalam rombongan besar. Padahal, jika mereka terpisah, justru akan lebih membahayakan lagi.
Sejak pagi Ammo sudah pusing mengawasi bawahannya yang melarikan diri. Ditambah tindakan Ana yang tanpa pemberitahuan. Mana yang harus diutamakan? Keselamatan Ana, atau empat orang lainnya? Ammo tak bisa memilihnya. Dia merasa menyesal mengijinkan gadis itu pulang kemarin.
*
******
Ana menyalakan televisi. Dia ingin melihat, apakah infomasi anonimnya akan segera disiarkan. Kemudian mengeluarkan dua buah baterai lithium dan memasang pengisi daya.
Kemudian Ana duduk menghadapi televisi. Membawa satu kantong keripik serta segelas minuman dingin. Mencari berita terpanas hari ini. Dia mengikuti channel berita dan memencet tombol bergantian untuk mengikuti setiap berita.
Pikirannya mengembara, jalan hidupnya sudah sulit sejak kecil. Dan sekarang menjadi semakin sulit. Kehadiran Nathalie menjadi beban tersendiri baginya. Dia tak boleh menjadi penyebab gadis lugu itu mengalami kesulitan.
Ana sangat tahu bahwa resiko besar setelah identitasnya terkuak, adalah perburuan besar-besaran terhadap dirinya, oleh berbagai pihak. Tak hanya The Hunters yang menjadi pemburu di Biro, tapi juga intel lokal akan diturunkan. Dia pasti dianggap berbahaya karena mumgkin mengetahui banyak rahasia negara ini.
Tak ada hal baik jika tertangkap oleh pihak manapun. Jika menyerah pada para Hunters, maka dia akan mati mengenaskan.
Jika tertangkap intel lokal, dia juga akan dijatuhi hukuman pidana karena melakukan pelanggaran dengan menyelidiki negara ini dan mencuri berbagai informasi rahasia negara. Hubungan bilateral dua negara akan goncang. Presiden negara asalnya mungkin akan langsung balik badan dan tidak mengakuinya.
Masih belum ada berita yang muncul. Ana makin gelisah. Ini tidak seperti yang diharapkannya. "Jika ini tak berhasil, apa lagi yang harus dilakukan untuk menarik perhatian?" batinnya resah.
"Tuhan, beri aku kekuatan. Dan jagalah Nathalie di sana," lirihnya.
Ana tertidur di sofa, di depan televisi yang menyala. Dia terbangun saat ruangan terasa lebih gelap, karena lampu belum menyala. Cahaya tivi menyilaukan saat matanya terbuka. Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan dirinya dengan keadaan sekitar.
Selain suara tivi yang tidak terlalu besar, suasana sekitar, telah sunyi sepenuhnya. Setelah yakin tak ada yang asing di rumah itu, dia bangkit dari duduk. Berjalan ke arah pintu kamar dan menekan satu tombol. Seluruh dinding rumah kemudian terlapisi dengan pelindung. Barulah dia menyalakan lampu dapur dan lampu meja di samping sofa.
Ana kembali menyiapkan makan malam yang praktis. Lalu duduk di meja makan sambil mengamati rekaman cctv selama dia tertidur tadi. Benar-benar tak ada apapun.
"Bukankah mustahil jika mereka tak mengetahui tempat ini?" pikirnya heran.
"Lalu bagaimana mereka tahu daat Adriana datang untuk membantu Maya? Bagaimana mereka bisa mengetahui rencanaku kabur bersama Maya ke bukit?" Ini benar-benar aneh.
"Apakah perangkat komunikasiku yang mereka sadap?" pikirnya lagi. Tapi Ana cukup lega, karena perangkat komunikasi lamanya telah dia buang saat lari bersama Maya.
__ADS_1
Lalu, perangkat komunikasi siapa yang mungkin disadap? Ammo? Rasanya tak mungkin. Ammo pasti punya satu alat untuk memblok pelacakan pada ponselnya.
Atau ada orang dalam yang berkhianat? Siapa? Ana tak bisa langsung mengatakan hal itu pada Ammo tanpa bukti kuat. Pria itu akan langsung menyingkirkan semua bawahannya, alih-alih mengambil resiko dengan memilah satu-persatu.
Hal itu terbukti dengan ditutupnya seluruh kegiatan di gedung perkantoran itu. Padahal, harusnya itu adalah kantor pusat jaringan bisnis keluarga Oswald.
Industri teknologi yang berkantor di gedung itu yang pertama ditutup. Entah dimana sekarang ratusan pekerjanya. Sejak itu, tak ada lagi pasokan peralatan canggih baru untuk dipakai di lapangan.
"Urusanku, membuatnya nyaris bangkrut," batin Ana sedih. Dan Ana tak habis mengerti, kenapa dulu dia sangat membenci Ammo. Ammo benar, apa kesalahannya hingga dibenci seperti itu.
Dan jika Ammo juga diburu, maka pabrik mobil di negara mereka pasti sudah lebih dulu jadi sasaran pemerintah di sana.
"Apakah pabrik mobil itu juga tutup sekarang? Apa itu sebabnya dia mengirim Lindsay dan Brandy ke sana? Bagaimana kabar dua gadis itu?" Pikiran Ana terlalu penuh, hingga membuatnya sakit kepala.
Hingga malam, berita besar yang ditunggu-tunggu Ana, tak kunjung muncul. Itu membuatnya mati kebosanan. Sudah dua kantong keripik, habis dikunyahnya sambil menencet tombol channel berganti-ganti.
"Hah! Pasti ada yang menyabotase beritaku!" geramnya. Siapa? Apakah ada intel di kantor berita?
"Baiklah ... kutunggu hingga besok pagi. Jika tak kunjung keluar, maka akan kukirimkan ke kantor berita lain. Kalian yang rugi, tak menyiarkan berita panas!" putusnya.
Ana membuka laci di bawah meja tivi. Dikeluarkannya mainan yang sudah lama tak digunakan.
"Kau harus bekerja malam ini."
Ana bicara pada sebuah drone canggih yang diberikan Ammo beberapa tahun lalu, untuk membantu tugasnya.
Ana memasang baterai yang tadi siang sudah diisi penuh. Kemudian memeriksa tiga kamera pada alat terbang itu. Memasang sensor panas yang dicopotnya dari perangkat headset lamanya. Menyambungkan jaringannya ke laptop. Ana mengetes kejernihan lensa kamera dan keakuratan sensor panas tubuh.
"Semoga cukup memadai untuk digunakan malam ini," ocehnya.
Ana menbawa alat itu ke dekat pintu. Dia meletakkan drone di teras dengan hati-hati. Kemudian langsung menutup dan mengunci pintu.
Ana duduk di meja makan. Tivi dudah dimatikan. Ana tak peduli lagi dengan berita panas. Dis mulsi fokus dengan rencananya malam ini.
Perlahan drone di teras melayang naik. kemudian Ana membawanya melewati kolam renang kecil miliknya yang sudah kotor. Drone terus melewati halaman belakang tang ditumbuhi beberapa pohon buah-buahan.
Drone naik makin tinggi dan melewati hamparan tanaman bunga matahari. Ana memilih rute itu, agar tak perlu melintasi rumah sebelah. Dia ingin langsung memeriksa keadaan rumah paling ujung yang berada di samping jalan setapak, tepi hutan.
__ADS_1
*******