Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
161. Siapa Yang Untung


__ADS_3

Kau terlibat dalam hal ini!" Ana menyimpulkannya dengan cepat berdasarkan ekspresi Ammo.


"Hah!" Sekarang kedua alis Ammo ikut terangkat. Menatap gadis itu dengan pandangan takjub. Tapi kemudian dia menggeleng tanpa ragu.


"Tidak!" sahut Ammo.


Ana tak menduga kalau dia salah menyimpulkan. Gadis itu berpikir lagi. "Bagaimana jika info itu nyata? Siapa yang terlibat dan akan diuntungkan dalam hal ini?" pikirnya.


"Jika hubungan Slovstadt dan Giebellinch memanas, pihak mana yang paling diuntungkan?" tanya Ammo.


"Jika Slovstadt yang memulai, maka banyak negara akan mengucilkannya!" ujar Ana.


"Lalu?" desak Ammo.


"Giebellinch yang paling diuntungkan. Setelah semua kegiatan mata-mata kita beberapa tahun belakangan, mereka pasti senang mendapatkan kesempatan membalas secara terbuka!" Ana menganalisa.


"Aku rasa, pasti ada pihak lain lagi yang menangguk keuntungan dari hal ini," ujar Ammo, masih dengan sikap sok misterius yang sama.


"Negara lain?" Ana ingin clue.


Ammo mengangguk. "Negara mana yang paling membenci Slovstadt?" tanya Ammo.


Ana terkejut. Dia tak menyangka Ammo mengarahkan mata ke sana. "Permusuhan itu sudah sangat lama. Sudah berlalu dua generasi. Sangat tak mungkin mereka berani!" Ana menolak pendapat Ammo.


"Mungkin aku hanya terlalu berpikir saja. Lupakan kalau begitu.


"Jika begitu, maka hanya ada kemungkinan lain," ujar Ana.


Ammo menatap mata Ana dan menunggu gadis itu bicara.


"Pendukung rezim sebelumnya!" tebak Ana ragu.

__ADS_1


Ammo manggut-manggut mendengar tebakan Ana itu. "Apa alasanmu menyebut nama mereka?" tanya Ammo ingin tahu.


"Yeah ... tak bisa dipungkiri, rezim ini membuat keadaan Slovstadt memburuk di dalam negri. Dan tindakan intelijent yang yang tak terkontrol di luar negri, merusak hubungan baik dengan negara-negara tetangga!" beber Ana.


"Itu bukan alasan yang kuat!" tolak Ammo.


Ana diam. Dia tak bisa memikirkan apapun sekarang. Otaknya buntu.


"Lupakan saja. Terserah mereka mau apa. Yang jelas, kita akan tetap melanjutkan rencana kita!" putus Ana.


"Bagus. Jangan teralihkan dengan berita luar. Yang penting rencana kita dipersiapkan dengan matang!" imbuh Ammo.


"Waktumu tinggal tiga minggu lagi mempersiapkan perlengkapan di lapangan!" Ana mengingatkan.


"Ammi mengangguk. Aku tahu tugasku, Nyonya," jawabnya menggoda.


Ana hanya mendengus dan membuang muka.


"Hei, baru pagi tadi kau pergi. Sekarang sudah seperti orang asing lagi!" Ammo meraih jemari Ana.


"Makin dekat waktunya, kau akan makin stres," Ammo bangkit dari duduknya. Berjalan ke belakang Ana. Tangannya dengan lembut memijit pelipis gadis itu. Diteruskan ke kepala hingga tengkuknya.


Ana bisa merasakan ketefangannya berkurang. Terutama ketika bahunya yang kaku dipijat lembut. Dia menikmati sentuhan tangan Ammo sambil memejamkan mata.


"Kau cocok juga jadi tukang pijat!" celetuk Ana tanpa sadar.


"Hahahaa ... selama itu bisa membuat Nyonya senang, aku rela ganti profesi!" gelak Ammo geli. "Berapa kau akan menggajiku sebagai pemijat profesional?" goda pria itu.


"Kerjamu ini tak sampai sepuluh menit. Sudah membicarakan gaji?" mata Ana membulat.


"Kalau kau tak menggajiku, bagaimana aku memberimu makan?" mata Ammo memelas.

__ADS_1


Ana mencium pipi Ammo sekilas. "Sudah kubayar!" senyumnya.


"Belum cukup. Itu hanya bayaran satu menit pertama," tawar Ammo.


"Jangan paksakan keberuntunganmu, Tuan Muda!" Ana mendorong wajah Ammo menjauh dari hadapannya.


Pria itu tertawa terkekeh-kekeh. Ana bangkit dari duduknya. Meregangkan tubuhnya sebentar lalu ke pantry.


"Mau ke mana?" cegah Ammo.


"Menyiapkan makanan. Apa kau tak lapar? Setidaknya aku dan Gan sudah lapar," sahut Ana.


"Baiklah. Masak yang lezat, ya," ujar pria itu. "Aku keluar sebentar!" tambahnya lagi.


Ana mengangguk. "Hemm ...."


Dia mulai sibuk di dapur. Tak banyak bahan makanan di kulkas. Jadi dia turun ke basement untuk mengambil persediaan.


Ammo dan Sawyer meninggalkan rumah itu pukul sepuluh malam, setelah diusir Ana.


"Sudah malam, aku ingin tinggal di sini saja!" tolak Ammo.


"Tak ada kamar lain di sini. Gan saja tidur di sofa bed!" Ana tak mengijinkan.


"Itu ada kamar!" tunjuk Ammo je kamar Ana.


"Jika kau ingin tidur di situ, maka aku tidur di teras!" jelas Ana.


"Hah! Kau sangat tidak peka!" gerutu Ammo. Akhirnya dia bangkit dari duduk.


"Sawyer, kita pulang!" ketusnya.

__ADS_1


Gan langsung menutup pintu dan memeriksa semua jendela setelah helikopter itu mengudara.


******


__ADS_2