Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
91. Penyamaran Ana


__ADS_3

Di kantor, Ana memperhatikan tata ruang kantor yang sudah sangat berubah. Dan tempat ini sekarang sangat sepi. Tak terlihat satupun karyawan yang berlalu lalang. Tak ada juga si cantik Rosie yang biasa duduk di meja dekat pintu.


"Kenapa kantor ini sangat sepi?" tanya Ana. Dia mengikuti Ammo dan Nick, masuk ke ruang kerja.


"Kantor sudah lama tutup. Beberapa karyawan masih bekerja di lantai bawah. Bagaimanapun, gedung butuh maintenance. Juga ada banyak pengawal yang menjaga. Tapi tak ada lagi aktifitas perkantoran di sini. Tutup!" sahut Ammo datar.


"Apa?" Ana sudah pasti terkejut. Bagaimana gefung kantor setinggi ini jadi tutup? Apa ini imbas dari kasusnya juga?


"Maafkan aku. Aku tak rau kau rugi berapa banyak karena aku." Ana menunduk penuh penyesalan. Sekarang dia mengerti arti perkataan Nick waktu itu.


"Aku membawa pengaruh buruk untukmu. Mungkin lebih baik aku menjauh darimu," lirihnya.


"Percuma saja. Baik kau menjauh atau tidak, aku akan tetap mengejar mereka. Karena mereka tidak hanya memburumu, tapi juga menyasar bisnis dan keluargaku!" dengus Ammo marah.


Dia berhenti sejenak untuk menenangkan emosi. "Bukankah akan lebih baik kalau kita bekerja sama memburu mereka?" tambahnya lagi.


Ana terdiam. Ammo meraih ponsel yang bergetar, membaca isinya lalu menutupnya lagi.


"Kau tau kenapa Bibi Harriet berada di rumahku? Karena putranya ternyata sudah terbunuh di negara lain lima tahun yang lalu. Dan ada pria lain yang berpura-pura menjadi putranya selama ini. Apa aku tidak boleh membuatku marah dan membalas mereka?" geramnya dengan wajah memerah.


Ana benar-benar terkejut mendengar hal itu. Keluarga Ammo telah menjadi korban.


"Kurasa bukan hanya biro yang bermain di sini. Pasti ada pihak lain yang nimbrung untuk mengambil keuntungan dari kekacauan!" Ana menyimpulkan.


"Aku juga berpikir begitu." Ammo mengangguk setuju.


"Dan aku sedang membersihkan jaringanku dari para penyusup dan pengkhianat!" tegas Ammo.


"Jadi, itu sebabnya gedung ini kosong...."


Ana manggut-manggut. Tak menyangka Ammo akan bertindak seberani inj. Dia pasti mengalami kerugian besar karena bisnisnya terhambat.


Terdengar ketukan di pintu. Nick mengantarkan seseorang masuk ke ruangan.


"Ahh ... Tuan Oswald Muda, selamat pagi. Tak kusangka anda masih mengingatku setelah sekian lama," ujar seorang pria tua. Kegagahan masa mudanya masih membekas, meskipun sebuah tongkat kayu berukir menemani langkahnya


"Terima kasih bersedia datang dengan panggilan mendadak, Tuan Hanz," Ammo berdiri dari kursinya dan menyambut pria itu. Membawanya ke arah sofa.


Melihat perlakuan istimewa Ammo, Ana juga bersikap sopan. Dia juga berdiri dari duduk.


"Ini teman masa kecilku, Ana." Ammo memperkenalkan Ana.


"Semoga Anda selalu sehat, Tuan," sapa Ana sopan.


"Terima kasih, Nona Ana," balas pria tua itu lembut. Ammo mempersilakannya duduk. Kemudian Ammo ikut duduk. Baru kemudian Ana ikutan duduk.


Pria tua itu menganggukkan kepalanya dengan wajah puas. "Kalian memang anak muda yang terdidik dengan baik. Sudah sulit menemukan anak muda yang masih menjaga tata krama," ujarnya senang.


"Baik ... aku tau kau sangat sibuk. Jadi katakanlah apa yang bisa kubantu." Matanya menatap Ammo tajam.

__ADS_1


"Aku ingin meminta bantuan anda, membuatkan topeng untuknya. Yang berbeda sama sekali dengan wajahnya yang sekarang. Yang mudah dan fleksibel untuk digunakan. Awet dan tidak mudah rusak. Yang—"


Tusn Hanz mengangkat tangan, menyetop kata-kata Ammo.


"Cukup. Aku tau maksudmu!" ujarnya.


"Dan ksu, Nona cantik. Aku mungkin akan membuat topeng paling jelek untukmu. Apa kau mau?" tanyanya.


"Tidak masalah, Tuan Hanz. Asalkan bisa membuatku bergerak bebas, itu tak jadi masalah!" Ana setuju.


"Baiklah. Mari kita mulai!"


Pria tua itu membuka tas besar yang tadi dibawakan Nick, masuk ke dalam.


"Sekarang? Baiklah. Katakan aku harus apa," ujar Ana pasrah.


"Kau hanya perlu duduk dengan tenang," sahutnya sambil menyusun segala peralatan kerjanya di atas meja.


"Kalian lanjutkan saja. Aku juga lanjut bekerja," pamit Ammo.


"Silakan Tuan Oswald Muda," sahut pria itu.


Ammo kembali ke mejanya dan membereskan semua pekerjaan yang tertunda.


*


*


"Bagaimana menurut pendapatmu, Tuan Oswald Muda?" tanyanya.


Ammo memperhatikan Ana yang kini benar-benar berubah. Tuan Hanz telah melengkapi perubahan itu dengan rambut palsu yang tepat.


Ammo manggut-manggut. Wajah Ana yang tirus, jadi sedikit lebih lebar dan chubby. Kulitnya yang putih kini sedikit kecoklatan dan berbintik-bintik. Alis matanya terlihat tidak terawat. Bibirnya yang mungil, berubah jadi tebal dan berlipstik merah keunguan.


"Kenapa aku merasa seperti sedang melihat pemeran vampir saat melihat bibirmu?" gumam Ammo.


"Apakah begitu jelek?" tanya Ana.


Tuan Hanz menyodorkan sebuah cermin pada Ana.


"Aahhh!" pekik Ana terkejut. Dia tak percaya bisa dibuat sangat berbeda.


"Bukankah sudah kukatakan akan membuatmu jadi jelek," gerutu Tuan Hanz, melihat reaksi Ana.


"Anda salah sangka. Aku suka ini. Ini sangat berbeda. Menunjukkan struktur wajah yang sama sekali berbeda dengan wajahku. Anda sangat hebat, Tuan Hanz." Ana mengacungkan jempolnya.


"Baiklah. Karena kau suka, maka pekerjaanku selesai. Untuk memasangnya, lakukan seperti petunjukku tadi. Di tas ini sudah kusiapkan semua peralatannya."


Tuan Hanz menunjukkan isi tas kecil yang sudah disiapkannya. Ana mendengarkan dengan seksama penjelasan pak tua itu.

__ADS_1


"Ok. Aku mengerti," ujar Ana.


Pak Tua itu terlihat puas. Dia membereskan tas besarnya. Ammo mendekat dan menyodorkan cek padanya. Tapi pria itu menolak.


"Tidak. Aku pasti jadi orang yang tak tau membalas budi, jika hal sekecil ini pun, masih meminta bayaran," tolaknya.


"Demi pertemananku dengan orang tuamu, biarkan aku membantumu," tuturnya.


"Terima kasih, Tuan Hanz." Ammo memeluk pria itu hangat.


"Terima kasih, Tuan Oswald, telah membesarkan anak seperti ini," balasnya.


"Aku pamit ... dan kau, berhati-hatilah. Meskipun ksu menggunakan topeng, aku tak menjamin kau takkan dikenali oleh musuh-musuhmu," ujarnya memperingatkan.


"Aku akan mengingatnya," sahut Ana. Ammo dan Ana masih berdiri hingga pintu rusngan tertutup.


"Sudah waktunya pulang. Apa kau tetap mau menggunakan itu?" tanya Ammo. Dia sudah membereskan mejanya.


"Aku ingin pulang, dan melihat rumah, ujar Ana.


"Tidak sekarang, Ana," larang Ammo.


"Kapan lagi? Semakin lama kita bergerak, maka musuh kita yang akan melemparkan senjata pada kita!" Ana dan Ammo kembali beradu argumen.


Tapi Ammo akhirnya menyerah. Gagasan yang dijelaskan Ana, terlalu masuk akal untuk dibantah. Ammo tak punya argumen memadai untuk melarang Ana.


"Baiklah. Tapi kau harus terus mengabariku. Dan ingat, setelah kita konfirmasi keberadaan mereka, maka kita lakukan pembersihan bersama-sama!" putus Ammo.


"Baiklah ... aku akan mengabarimu begitu sampai di rumah. "Aku masih punya jam tanganmu!" tunjuk Ana.


Ammo teringat suit yang harusnya untuk Ana, tapi masih belum sempat diperbaikinya.


"Mari kuantar memilih mobil."


Ana mengikuti langkah kaki Ammo. Mereka tiba di parkiran khusus mobil Ammo. Ammo menunjukkan mobil apa pun ada di garasinya. Ana tinggal memilih, sesuai karakternya.


"Apa kau sudah memeriksa semua mobil ini?" selidik Ana.


"Sudah! Ada beberapa penyadap, dipasangkan pada beberapa mobil. Tapi sudah kami bereskan," jelas Ammo.


"Oke. Berarti aku tinggal pergi saja, kan?" Senyum Ana terkembang.


Ana memilih mobil suv biasa. Agar tidak terlalu mencolok. "Alu suka yang ini," ujarnya.


"Baik. Ini kuncinya. Jangan lupa janjimu," desak Ammo.


"Ya ... ya. Aku berjanji akan patuh dan taat pada Tuhan, hormat pada sebaya dan menyangi anak kecil." ujarnya tulus.


Ana masuk mobil, dan segera melaju ke tujuannya. Rumah yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


Ammo melihat mobil itu bergerak menjauh, kemudian menghilang. Ammo juga segera berbalik.


******


__ADS_2