Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
14. Misteri Ana & Ammo


__ADS_3

"Heh! Akhirnya aku menemukan ularnya!" ujar Ana pedas.


"Kau salah paham. Ssshhhh!"


Ammo mendesis kala mata pisau yg tajam itu menggores kulit lehernya.


"Diam kalau tak mau mati!" Ana menekan kata-katanya.


Ammo langsung diam. Dia sangat kenal Ana. Jika gadis itu bicara begitu, artinya dia memang bermaksud membunuh Ammo.


Ana menindih Ammo lebih kuat dengan kuncian kaki serta tangannya. Satu tangannya yang lain mencari sesuatu dalan tas kecil.


"Di balik tembok itu ada penjaga yang bersembunyi. Kau cari bagian tembok lain kalau mau lompat."


Ammo mengambil kesempatan bicara sebelum terlambat.


"Apa kau pikir aku masih mempercayaimu? Aku sudah mencurigaimu dari lama! Penguntit tadi siang juga pasti orang-orangmu!" tuduh Ana pedas.


Hati Ammo sakit mendengarnya. Tapi dia mengabaikan hal itu.


"Ambil jam di tanganku. Dengan itu kau bisa melihat keadaan dibalik tembok." ujar Ammo pasrah.


Kening Ana mengerut. Dicarinya jam tangan Ammo. Dia merasa curiga alat itu hanya jebakan untuk balik melumpuhkannya.


'Tidak! Tadi aku bahkan sudah menekannya. Dan tak terjadi apapun' batin Ana.


Dengan keyakinan itu, dilepasnya jam tangan itu dengan kasar.


"Ouchh! Kau kasar sekali!" bisik Ammo lembut. Dia bshkan tak marah sedikutpun.


Mereka sudah sering sekali bertarung dan bergelut seperti ini. Dan entah kenapa Ammo menyukainya. Dia selalu mengalah, hanya agar bisa berada lebih dekat dengan gadis itu.


Melihat raut wajah lembut tapi galak itu dalam jarak sedekat ini, adalah keintiman yang mahal. Matanya mulai memancarkan cahaya cinta yang tersimpan di kalbunya. Lembut dan menenangkan.

__ADS_1


"Bagaimana cara pakainya?" Ana mulai gusar. Dia tak bisa menyetel jam itu sama sekali.


"Sini... ku beri tau," sahut Ammo.


Ana melepaskan kuncian kaki dan tangannya. Ammo sedikit kecewa. Dia tak lagi bisa merasakan deru nafas dan detak jantung gadis itu. Tapi dia tetap duduk dan mengambil alih jam tangan dari Ana.


"Pencet ini, lalu ini."


Lalu sebuah layar transparan bercahaya putih muncul di atas jam. Ammo mengarahkannya ke tembok rumah sakit Sentral.


"Kau lihat bayangan merah ini? Ini makhluk hidup. Apa menurutmu ada kucing setinggi ini?"


Ammo menunjukkan hasil pemeriksaan jam tangan itu.


"Ini jam pemindai panas tubuh. Kenapa jamku tak ada fungsi itu?" protes Ana.


Ammo merasa tak berdaya.


"Kalau begitu, biar ini ku ambil dulu sebagai jaminan!"


Ana tak peduli. Dia tak merasa canggung sedikitpun merebut milik Ammo. Dia tak merasa aneh memakai dua jam tangan di kiri dan kanan tangannya.


Ammo merasa Ana sangat imut dan lucu saat itu. Dia begitu ingin memeluknya. Tapi itu tak boleh. Dan dia hanya bisa tersenyum pasrah. Ammo mengangguk membiarkan Ana melakukan apapun.


"Aku tak bisa ikut masuk. Kau tau aku dilarang membahayakan kepentingan yang lebih besar dengan terjun ke lapangan." Bisik Ammo.


"Hemm... pergilah!" ujar Ana.


Ana mengerti posisi yang dipegang Ammo. Jika dia terlibat di lapangan, maka seluruh jaringan biro di negara ini akan lumpuh. Ammo memasok dana dan peralatan bagi para agen di lapangan. Dia tak boleh terekspos dengan agen manapun. Karena bisa menarik seluruh jaringan mereka runtuh dan akhirnya merugikan negara mereka.


"Berhati-hatilah!" Suara khawatir Ammo tak dapat dia sembunyikan.


Ana hanya mengangguk.

__ADS_1


Perhatiannya sudah tertuju pada layar di jam tangan itu. Dia mencari celah yang mungkin bisa dilaluinya.


"Banyak sekali penjaga," gumamnya lirih.


Saat tak ada yang menimpali ucapannya, Ana melihat ke sekitar. Pria tampan tadi sudah menghilang tanpa diketahuinya. Dia bahkan tak mendengar jejak langkahnya sama sekali.


Ana kembali berfokus pada jam tangan itu. Dan mencari celah dengan mengendap-endap berkeliling tembok.


'Apakah di situ?' fikirnya ragu.


Di layar tak ada jejak panas tubuh yang terdeteksi. Tapi justru bayang-bayang biru yang luas.


"Apa itu danau? Kolam buatan di taman? Atau pengolahan limbah cair rumah sakit?"


Ana membuka jaringan internet dan mencari tau tentang rumah sakit ini.


"Ternyata kau hanya kolam rekreasi. Baiklah. Tunggu kedatanganku."


Ana bersiap. Ada sebatang pohon tak jauh dari lokasi itu. Dia memutuskan untuk menaiki pohon itu lebih dulu dan mengamati situasi di halaman rumah sakit.


Ana mengambil ancang-ancang. Berlari tiga langkah dan mendorong tubuhnya naik pada langkah ketiga.


Hup!


Ana berhasil menjangkau dahan terendah pohon itu. Dia bergerak dengan gesit naik ke atas rimbunan pohon dan menuju cabang yang paling dekat dengan tembok.


******



Ilustrasi Ammo.


Pic from Pin

__ADS_1


__ADS_2