Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
166. Mematangkan Rencana


__ADS_3

Alexei mengatur beberapa hal di situ bersama polisi. Termasuk kematian wanita yang ternyata istri Si Bisu. Seorang penerjemah bahasa isyarat, didatangkan untuk meminta keterangan pria itu.


Wanita itu disandera di dalam sana. Dan dengan kekhawatiran besar, Si Bisu terpaksa bersandiwara di luar, agar istrinya selamat di dalam. Tak disangkanya wanita itu dilecehkan dan dibunuh setelahnya.


Ana mengambil foto dua orang yang telah tewas itu, untuk diperiksa di data base-nya.


*


****


"Mereka orang Biro!" ujar Ana pada Ammo yang menyusulnya ke rumah. Gadis itu menunjukkan data yang dimilikinya pada Ammo.


"Artinya mereka tidak bersedia menyerah dalam mengejarmu. Peringatanku tidak mereka gubris sama sekali!" geram Ammo.


"Bagaimana persiapan kita?" tanya Ana. DIa juga sudah tak sabar untuk membalas dan menjatuhkan para penjahat di Biro Klandestine!


"Delapan puluh persen!" jawab Ammo.


"Tinggal peersediaan senjata yang belum mencukupi. Aku sedang mempercepat produksinya, agar tenggat waktu kita tak meleset," janji Ammo.


"Akhir bulan ini! Akhir bulan ini, kita sudah harus bergerak!" putus Ana.


"Berarti sepuluh hari lagi!" sambut Ammo.


"Jadikan sembilan hari!" desak Ana tak sabar.


"Baik. Akan ku upayakan!" Ammo mengangguk.


"Bagaimana latihan mereka?" tanya Ana pada Alexei.


"Mereka sudah bisa terjun ke lapangan. Tinggal membuat mereka terbiasa saja," sahut Alexei.


"Bagus! Dan jangan sampai jatuh banyak korban. Jadi baju pelindung itu harus dimiliki oleh setiap orang yang turun ke lapangan," ujar Ana mengingatkan.


"Baju pelindung sudah siap untuk didistribusikan akhir pekan ini. Sekarang sedang menuju uji kualitas!" Ammo menjelaskan perkembangan di pabriknya.

__ADS_1


"Kendaraan bagaimana?" tanya Ana.


"Aku sudah mengeluarkan semua stok kendaraan yang sudah diproduksi sejak lama di gudang. Bagian pengujian juga sudah mengecek ulang, dan siap untuk digunakan pada hari H!" jawab Ammo yakin.


"Bagus! Sekarang mari kita bicarakan lagi detail rencana kita."


Sikap Ana sangat natural. Dia memang terlahir untuk menjadi pemimpin. Gadis itu sama sekali tidak merasa canggung dan tahu apa yang harus dikerjakannya.


Sekarang ketiga orang itu duduk bersama. Ammo mengeluarkan tabletnya dan menunjukkan peta rencana yang sudah mereka susun jauh-jauh hari.


"Kita mulai serempak di sini dan juga di Slovstadt. DI sana orang-orangku sudah bersiap. Di sini juga sudah kita persiapkan. Kita harus merebut kantor biro di negara ini. Bersamaan dengan itu, kantor pusat juga harus ditahan dan direbut, agar tidak mengirim bantuan ataupun perintah dukungan dari sana!" jelas Ammo.


"Apa kau tak butuh tambahan orang di sana?" tanya Alexei.


"Tidak! Mereka sudah tak sabar untuk bergerak. Pabrik mobilku yang menjadi sumber penghidupan mereka sudah ditutup pemerintah sejak dua bulan yang lalu. Itu tindakan bodoh yang hanya memantik api kemarahan." Ammo menjelaskan keadaan orang-orangnya di sana.


"Kau mau mengerahkan pekerja pabrik untuk menghadapi orang-orang biro?" tanya Ana tak percaya.


Ammo tertawa. "tentu saja tidak. Itu tindakan bodoh," ujarnya.


"Mereka adalah orang-orang rekrutan ayahku sejak lama. Pabrik mobil itu didirikan terutama untuk menjadi sumber penghidupan mereka. Jika mereka diberi pekerjaan, maka ayahku tak perlu memberi mereka makan di saat tak ada tugas khusus. Dan tujuan lain adalah, mereka jadi lebih mudah bergaul dengan masyarakat dan mendapatkan informasi lebih banyak dengan mudah, ketimbang hanya menjadi informan!" beber Ammo.


"Kurasa, orang-orang ayahmu yang di sanalah yang menyelamatkanku saat itu," kenang Alexei.


"Bisa jadi. Karena posisimu saat itu ada di negara itu, maka lebih mungkin jika amggota di sana yang lebih dulu menemukan dan menyelamatkanmu." Ammo mengangguk setuju dengan pemikiran Alexei.


"Menjatuhkan kantor biro di sana tidak sesimpel menjatuhkan kantor pusatnya. terutama jika tak ada dukungan dari pemerintah. Jadi apa rencanamu cadanganmu?" Ana menatap Ammo tajam.


Ammo merasa tak berdaya. Resikonya mencintai gadis yang teramat cerdas ini. "Ku kira bisa menyimpan hal ini lebih lama, tapi kau sangat jeli. Rasanya aku takkan bisa menyimpan apapun darimu," keluh Ammo sambil tersenyum mesra.


"Katakan!" Ana tak membiarkan pehatiannya dialihkan pria itu.


"Sebenarnya, sebelum kau membuat rencana besar ini, aku juga sudah akan bergerak sendiri. Tentu saja, ada pihak yang mendukungku. Dan bersamaan dengan itu, juga ada pihak lain yang sedang ingin menjatuhkan rezim. Aku hanya mendompleng agenda kegiatan mereka. Saat kekacauan, kita masuk dan menyelesaikan urusan kita," ujarnya.


"Ternyata seperti itu ...."

__ADS_1


Ana berpikir cukup lama. Kau yakin mereka pihak yang lebih baik dari yang sekarang?" tanya Ana.


Ammo mengangkat bahunya. "Mereka belum diberi kesempatan untuk membuktikan baik buruknya. Tapi Slovstadt memang butuh perubahan. Rakyat sudah sangat menderita," ujarnya.


"Jika memang baik, maka aku akan meminta Klan mengirim dukungan pada kelompok itu nanti," kata Ana.


"Itu kewenanganmu sebagai Pemimpin Klan. Aku hanya akan memeriksa seberapa pantas mereka mendapatkan dukunganmu," janji Ammo.


Hingga pukul sembilan malam, Ammo masih di rumah itu. Mereka mematangkan rencana dan mempelajari ulang, untuk meminimalisir celah yang akan berakibat kegagalan.


"Ini harus berhasil. Karena taruhannya besar. Kita akan dijadikan pemberontak diburu ke seluruh dunia. Bahkan tanah klan yang suci, belum tentu bisa melindungi kita!" ujar Ana mengingatkan.


Ammo dan Alexei mengangguk.


"Paman tidak perlu ikut serta. Mulai dari saat orang-orangku selesai pelatihan, paman pergilah ke tempat yang jauh, agar ada alibi jika terjadi hal buruk," pesan Ana.


"Apa maksudmu? Kau pikir aku akan membiarkanmu berjuang sendiri? Kalau ada yang mencoba membunuh anggota keluargaku, maka aku akan membalasnya! Bukan hanya kau, jika Yuri mengalami hal serupa, akupun akan membalasnya!" sentak Alexei. Dia menolak keras ide Ana menyuruhnya pergi.


"Paman, kau salah paham. Aku melakukan ini, justru untuk melindungi paman Yuri yang tak tahu apa-apa. Jika terjadi sesuatu pada kita, apa paman pikir mereka tidak akan menghabisi paman Yuri dan keluarganya?" Ana menjelaskan pemikirannya.


"Ana ada benarnya. Keluarga kalian tinggal Yuri yang meneruskan garis keturunan. Kau belum menikah. Kau tak tahu rasanya menjaga keluarga seperti seorang suami." Ammo mendukung pertimbangan Ana.


"Kau bicara begitu, seakan sudah menikah saja!" ejek Alexei. Ammo meringis mendapat balasan kata seperti itu.


"Lebih baik paman di luar dan menjadi mata kami. Beri tahukan pada kami pergerakan lain yang mungkin luput dari pengawasan dan antisipasi kita," bujuk Ana.


Alexei diam dan menimbang saran Ana. Dia ingin sekali melindungi gadis itu. Tapi Ana juga benar. Adiknya Yuri juga harus dilindunginya. Dialah yang meneruskan garis keturunan keluarga mereka. Jadi anak-anaknya harus aman.


"Baiklah. Aku akan jadi mata kalian dan melindungi dari jauh." Alexei akhirnya menerima saran Ana.


"Aku senang mendengarnya." Ana tersenyum lebar. Hatinya merasa lega sekarang.


"Baiklah. Mulai sekarang kalian juga berhati-hatilah. Kurasa kita sudah dalam pengawasan mereka. Jangan tunjukkan pergerakan yang mungkin bisa membongkar rencana kita," pesan Ana.


"Tentu," angguk Ammo.

__ADS_1


"Oh ya, satu lagi. Kurasa penyamaranku sebagai wanita tua, sudah terbongkar. Apa kalian ada saran lain?" tanya Ana.


***********


__ADS_2