Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
68. Pengepungan Bawah Laut


__ADS_3

Wajah Kapten Lance menegang. Bawahannya juga tegang, menunggu rudal meluluh lantakkan tempat itu.


"Balas!" perintah kapten Lance.


"Luncurkan anti rudal!" teriak wakil kapten.


"Pos satu bersiap meluncurkan anti rudal." Terdengar jawaban dari pos satu.


Semua menatap layar. Melihat jarak rudal yang datang, serta posisi anti rudal yang mereka miliki.


Bunyi detak-detik pada layar besar di depan meja kapten, seakan suara detakan jantung para tentara bayaran yang ada di situ. Segitulah kerasnya suara degup jantung mereka jika didekatkan pada mikrophone.


Terdengar bunyi nyaring di layar saat perhitungan keberhasilan muncul. Anti rudal mereka segera meluncur, keluar dari permukaan air dan mengangkasa menyongsong rudal yang dikirim pihak musuh.


"Balas!" teriak kapten.


"Serangan balasan!" teriak wakil kapten.


"Post dua bersiap meluncurkan serangan!" ujar petugas pos dua.


Tak butuh waktu lama, satu rudal lain meluncur cepat. Dua derajat di belakang anti rudal mereka yang sekejap kemudian meledakkan rudal yang datang menyerang.


Ledakan besar terjadi di angkasa. Tapi rudal kapten Lance terus melewati gumpalan ledakan itu tanpa kendala.


"Mereka meluncurkan anti rudal!" Teriak pengawas.


"Kirimkan lagi!"


"Kirim lagi!" teriak wakil kapten, mengulangi.


"Post tiga bersiap!" jawab petugasnya. Kemudian satu rudal lagi terbang mengikuti rudal pertama yang dihadang penangkal. Rudal kedua itu sukses melewati ledakan anti rudal. Pihak musuh tak sempat lagi mengirim penangkal, karena sudah terlalu dekat.


"Lagi!" teriak kapten.


"Lagi!" lanjut wakil kapten.


"Pos dua meluncur!" respon petugasnya.


"Mereka mengirimkan penangkal!" teriak pengawas.


"Lagi!" perintah kapten.


"Lagi!" sambung wakil kapten.


"Pos tiga, meluncur!"


"Ada yang melewati perimeter B?arat, Kapten!" lapor pengawas sensor.


Siapkan pos empat, lima dan enam!" perintah kapten Lance.


"Pos empat, lima, enam, bersiap!" ulang wakil kapten.


Kapten Lance menarik layar sensor lain, untuk melihat keadaan di bagian belakan mereka.


"Ini pengepungan. Bersiaplah!" perintahnya.


"Darurat. Pengepungan. Bersiap!" ulang wakil kapten.


Semua penjaga yang ada di situ, berlarian mengambil senjata masing-masing. Lalu menuju satu tempat utama. Mereka berkumpul di situ, sebagai benteng terakhir pertahanan tempat itu.


"Situasi?"


Kapten Lance membaca pesan masuk di ponselnya.


"Pengepungan! Serangan rudal!" balasnya dengan voice note! Dia tak sempat lagi mengetik pesan.

__ADS_1


Teleponnya kemudian berdering. Kapten menyalakan speaker, agar didengar oleh semua orang.


"Pergi dari sana! Keselamatan kalian lebih penting dari tempat itu!"


"Lab ini rumah kami, Bos. Kami akan mempertahankannya!" jawab kapten Lance lugas.


Seluruh bawahannya, mendengar jawaban itu. Wajah mereka menunjukkan tekad membara.


"Ada torpedo dari Barat, Kapten!" pengawas radar mengingatkan.


"Mereka menyerang dari dalam laut. Lokasi kita sudah ketahuan. Habisi!" perintah kapten.


"Habisi kapal selam itu!" ulang wakil kapten.


"Pos empat mengirim anti rudal!


"Pos lima bersiap!"


"Pos enam bersiap!"


Ruangan itu penuh dengan ketegangan. Beberapa kali mereka mendengar ledakan di luar sana.


"Aku menemukannya, kapten!" ujar salah satu petugas yang sejak tadi tak mempedulikan kebisingan.


"Tunjukkan!" perintah kapten.


Dua titik kordinat beserta tanda merah, masuk ke layar besar di depan kapten.


"Serang langsung ke dua titik itu!" perintah kapten geram.


Wakil kapten segera memberikan perintah penyerangan pada kordinat yang dimaksud.


"Kapten, ada yang saling menyerang di perimeter Selatan!" ujar pengawas radar.


Kapten Lance jelas terkejut. Dia tidak meminta bantuan pada siapapun. Tak ada yang tau tentang pengepungan ini, kecuali...."


"Ya! Jangan ganggu aku saat sibuk. Lakukan saja pekerjaanmu!" Terdengar suara jawaban, bercampur suara ledakan dari seberang.


"Bos menyusul kita!" ujar yang lain, tegang.


"Fokus dengan posmu!" tegur kapten Lance.


"Kordinat satu terkunci!" seru seseorang.


"Luncurkan My Baby untuk mereka!" kapten Lance tersenyum jahat.


"Luncurkan rudal balistik 05," ulang wakil kapten.


"My Baby meluncur!" jawab petugas posnya.


"Habisi juga yang di Barat itu!" ujar kapten Lance geram.


Kordinat dua terkunci!" ujar petugasnya. Siap menunggu perintah.


"Kirimkan si Hitam gendut itu untuk menyapa mereka!" Kapten Lance berkata dengan nada dingin.


"Luncurkan torpedo 13!" perintah wakil kapten.


"Meluncur!" jawab petugas pos.


Sekarang mereka melihat ke depan layar besar. Menunggu bunyi ledakan dan kembang api yang naik ke angkasa.


"Bagaimana posisi Bos?" tanya kapten.


"Sengit, Kapten!" jawab pengamat sensor.

__ADS_1


"Kirim dua kapal selam kecil untuk melindunginya di selatan!" perintah kapten.


"Kapal selam satu dan dua, bersiap. Lindungi Bos di Selatan!" wakil kapten langsung mengirim lokasi pertempuran bawah laut yang sengit itu.


"Benturan!" teriak pengamat radar.


Terlihat gambaran ledakan yang gelombang airnya menyebar di seluruh lautan itu. Membuat dua kapal selam di Selatan itu, bergeser dari posisinya semula. Titik kordinat dua, hilang dari layar.


"Bos, Anda memakai kapal selam yang mana!" tanya kapten Lance.


"Angel One!" jawab suara di sana.


"Kami mengirimkan bantuan dua kapal selam ke sana!" ujar kapten Lance.


"Kau pikir, aku tidak mampu?" suara itu terdengar kesal.


"Bos, saya sudah berjanji pada Ayah Anda." Kapten Lance tak mau berdebat.


"Huh!" hanya itu yang terdengar di pengeras suara.


"Berangkat!" perintah kapten Lance.


Dua kapal selam kecil yang masing-masing berisi tiga orang, meluncur keluar dari tempatnya. mereka menuju titik kordinat yang ditunjukkan.


"Kiriman sampai!" ujar pengamat radar sedikit gembira.


Yang lain melihat ke layar, bagaimana awan berbentuk jamur kecil, membumbung tinggi ke angkasa. Bersamaan dengan itu, titik kordinat 1 lenyap dari layar.


"Horreeee!" teriak mereka gembira.


"Bagaimana kalian bisa bahagia sementara Bos masih di luar sana menghadapi musuh secara langsung!" hardik kapten Lance.


Semuanya langsung diam dan kembali duduk di postnya. Mengamati layar radar. Sekarang ada empat kapal selam di sana. Tiga kapal selam itu menyerang kapal musuh bersama-sama. Kapal musuh itu akhirnya merubah haluan dan berusaha kabur.


"Pergi dari sana!" perintah kapten.


"Bos, kau harus kembali bersama pasukan!" ujar kapten Lance.


"Ya!" balas suara di sana.


"Jangan sisakan satu musuhpun! Kurimkan si Gendut Hitam itu untuk mereka!" perintah kapten.


"Luncurkan torpedo 13!" ulang wakil kapten. Dikirimkannya titik kordinat kapal selam sasaran.


"Kordinat tiga, terkunci!"


Mereka menunggu, di layar, masih ada tiga kapal selam milik mereka yang berada dalam jalur tembak.


"Bersihkan jalur!" teriak kapten Lance. Dua kapal selam petugas, menggiring kapal selam bos untuk menyingkir dari jalur tempak torpedo.


"Luncurkan!" perintah kapten.


"Luncurkan!" ulang wakil kapten.


"Meluncur!" ujar petugas pos.


"Bawa Bos masuk sebelum benturan!" teriak Kapten lagi.


"Cepat masuk, sebelum benturan!" wakil kapten ikut panik.


Yang lain menegang, melihat tiga titik yang begitu dekatnya dengan basecamp bawah laut mereka. Itu bisa berbahaya, jika terdorong oleh gelombang air dahsyat akibat ledakan kapal selam, di bawah air.


"Menuju benturan!" ujar pengamat radar.


Bunyi detak-detik di layar radar itu, membekukan seisi ruangan. Tiga titik kapal selam yang berisi orang sendiri itu, masih berada jauh dari pintu masuk, dermaga kapal selam!

__ADS_1


*******


__ADS_2