
"Apa ayah menyimpan ponselku?" tanya Ana, setelah menyadari kalau dirinya mengenakan pakaian rumah sakit.
"Ini." Ivan menyerahkan ponsel itu pada pengawal yang terus siaga di ruangan.
Ana memilih untuk mengirim pesan, ketimbang menelepon Ammo. Dadanya masih merasakan nyeri hebat, saat berbicara.
"Bisakah Nathalie dipindahkan ke sini? Aku melihat ayah semakin lemah setelah kejadian kemarin." Ana mengirimkan pesan itu pada Ammo. Setelah itu dia beristirahat.
*
*
Ammo baru tiba di rumah saat pesan Ana masuk. Dia langsung naik ke lantai atas. Ammo membust panggilan telepon.
"Ya, Bos," sahut suara di seberang.
"Bisakah kau mengantar Nathalie ke sini?" tanya Ammo.
"Bisa, Bos. Kapan?" tanyanya lagi.
"Besok pagi. Kalian akan dikawal. Tapi, tetaplah berhati-hati!" pesan Ammo.
"Siap, Bos." sambungan telepon kemudian diputus.
Ammo masih melakukan panggilan telepon lain pada pengurus basecamp. Memintanya melakukan pengawalan pada Blake dan Nathalie.
Satu urusan selesai.
Pukul sepuluh malam, Ammo turun. Theo telah mendesaknya untuk makan malam, walau sedikit. Dia menikmati krim sup kepiting hangat buatan Theo. Sudah terlalu malam untuk makan besar. Semangkuk krim sup hangat, cukup untuk mengisi perutnya agar dapat tidur nyenyak malam ini.
Ariel muncul untuk menonton televisi. Dia mencari acara berita malam.
"Bagaimana tugasmu?" tanya Ammo pada Ariel. Dan di mana Lindsay serta Brandy? Rasanya aku juga tak melihat mereka kemarin.
"Rasanya aku lupa mengatakan bahwa mereka dipanggil oleh Kakek Wilson. Jadi mereka pergi. Lindsay bilang, kakeknya hanya rindu. Nanti dia akan kembali lagi ke mari!" jelas Ariel.
"Dengan siapa mereka pergi? tanya Ammo khawatir.
"Kemungkinan naik kereta!" sahut Ariel setelah berpikir lama.
"Kereta?" batin Ammo.
"Apa mereka mengatakan sendiri padamu kalau akan pergi?" tanya Ammo memastikan.
"Tidak! Mereka mengirimkan pesan saat sedang berbelanja keluar!" jawab Ariel.
Melihat mata Ammo yang melotot, Ariel akhirnya menyadari sesuatu. "Apakah...?" Dia tak berani melanjutkan ucapannya sendiri.
Ammo sedang mencoba menelepon kakek Wilson. Panggilan itu tersambung. Tapi tidak juga diangkat. Ammo mencoba menelepon hingga lima kali. Tapi masih tak diangkat!
__ADS_1
"Theo, minta Sawyer bersiap. Panggil Smith dan dua pengawal dari Alexei untuk ikut denganku!" perintah Ammo sambil berlari naik ke lantai dua.
Theo langsung keluar dan melakukan perintah. Ariel terbengong. "Sial! Kenapa aku tidak curiga saat pesan itu masuk? Harusnya dua gadis itu melapor pada Ammo juga kan?"
Ammo sudah turun. Ditangannya ada laptop, yang kemudian diserahkan pada Ariel. "Jadilah mataku, dan laporkan semua yang kau lihat! Cari jejak Lindsay dan Brandy. Itu tanggung jawabmu!" tegas Ammo.
"Iyya!" sahut Ariel gugup. Dia ingat pernah menggunakan laptop Ammo, ketika dia sedang dalam bahaya saat menjemput Carl.
Kapten Smith dan dua pengawal sudah siap. Mereka membawa senapan dan juga pistol.
"Smith, jaga rumah saat aku tak ada. Aku khawatir ini penculikan untuk mengalihkan perhatianku dan menyerang kediaman. Jadi kalian harus selalu siaga!" perintah Ammo.
"Siap, Bos!" sahut Kapten Smith.
"Kalian berdua ikut aku!" Ammo berjalan menuju helipad. Sawyer telah menyalakannya dan siap untuk berangkat.
Theo dan Kapten Smith memperhatikan hingga heli itu menghilang dari pandangan. Kemudian keduanya bergegas melakukan tugas yang diberikan.
"Ya, Tuhan ... kapan rumah ini akan tenang?" batin Theo. Dilihatnya Ariel mengetik di laptop Ammo. Jika keadaan tidak genting, laptop itu takkan keluar dari ruang kerja Ammo.
Theo pergi ke dapur. Dia harus membuatkan Ariel kopi dan sedikit penganan untuk melewati malam yang panjang.
Di atas helikopter, Ammo terus berusaha menghubungi nomor telepon Kakek Wilson.
"Apa kau sudah menemukan mereka?" tanya Ammo pada Ariel melalui headset.
"Belum!" jawab Ariel.
"Baik!"
Di dalam helikopter, suasana menjadi tegang. Pandangan dua pengawal itu terlihat waspada. Dengan perangkat kepala mutakhir yang disediakan Ammo, mereka bisa melihat dalam gelap dengan lebih jelas lagi.
"Rasanya ada yang mendekat dari belakang!" Sawyer menperingatkan.
Ammo dan dua pengawal itu bersiaga. Ammo mengaktifkan baju pelindungnya. Matanya dapat melihat dengan jelas ke arah helikopter di belakang.
"Itu seperti helikopter kepolisian!" kata Ammo.
Benar saja, helikopter itu melewati heli Ammo dengan cepat, dan terus terbang ke arah luar kota.
"Mereka terlihat buru-buru. Mungkinkah terjadi sesuatu?" tanya Sawyer.
"Mungkin saja. Coba ikuti mereka!" perintah Ammo. Sawyer menuruti keinginan Bos-nya. Dua helikopter itu beriringan menuju luar kota.
"Ada lagi yang menyusul di belakang!" lapor Sawyer.
Ammo melihat ke belakang. "Itu heli tim rescue! Ada kejadian apa sebenarnya?" gumamnya. Heli itu melewati Ammo dengan cepat.
"Ini mengarah ke gunung. Mungkin ada kecelakaan atau terjatuh ke jurang?" Sawyer mengira-ngira.
__ADS_1
"Kalau begitu, harusnya ada ambulans terbang juga kan?" celetuk salah seorang pengawal.
"Mungkin yang menyusul di belakang kita itu ambulans!" kata Sawyer.
Benar saja! Tak lama kemudian ambulans terbang itu melewati helikopter yang dibawa Sawyer.
"Apakah kita akan tetap mengikuti mereka? Ini tidak sejalur dengan kediaman Kakek Wilson!" Sawyer meminta petunjuk.
"Aku tak berharap yang mengalami kecelakaan adalah Lindsay dan Brandy. Tapi kita harus tetap ke sana untuk memastikannya!" jawab Ammo.
"Baik!" Sawyer melanjutkan pekerjaannya.
"Kau tidak menuju kediaman Kakek Wilson!" suara Ariel terdengar di telinga Ammo.
"Ya! Kami sedang ingin memeriksa di area gunung sebentar. Coba kau cari tahu, apa yang sedang dicari polisi dan tim rescue!" perintah Ammo.
"Oke!" sahut Ariel.
"Bagaimana situasi di tempat Kakek Wilson? Apa kau sudah mengamatinya?" tanya Ammo lagi.
"Tempat itu sepi. Tak ada satupun hal mencurigakan di situ!" jawab Ariel.
"Lalu, di mana Kakek Wilson? Apa kau sudah memeriksa rumah kebunnya?" tanya Ammo dengan nada heran.
"Rumah itu juga kosong!" sahut Ariel. "Kurasa, aku tahu penyebabnya!" nada suara itu membuat Ammo cemas.
"Katakan ada apa!" seru Ammo tak sabar.
"Tempat yang kalian tuju. Di kaki bukit, aku melihat mobil humvee Kakek Wilson!" katanya.
"Apa!" Ammo benar-benar terkejut.
Bagaimana bisa orang tua itu berada di sana? Tempat itu berlawanan arah dengan tempat tinggal dan usahanya. Itu juga terlalu jauh. Tak mungkin pesawat pupuk Kakek Wilson disewa oleh orang di gunung itu.
"Cepat!" seru Ammo pada Sawyer.
"Siap!" hanya itu yang bisa dikatakan Sawyer
Tiga ratus meter dari lokasi, jalanan sudah penuh dengan kendaraan yang macet parah. Jalanan sedikit terganggu oleh jejeran ambulans, mobil polisi, serta tim rescue.
"Saya akan cari tempat terdekat, Bos!" kata Sawyer untuk menenangkan Ammo yang terlihat tidak sabaran.
Berikan lampu sorot sekali lagi. Aku ingin melihat sekitarnya!" ujar Ammo.
"Oke!" Sawyer membuat helikopternya memutari lokasi nobil itu terguling sembari menyorotkan cahaya terang dari bawah heli.
"Apa kau melihat ada orang di sana?" tanya Ammo pada dua pengawalnya.
"Tidak ada, Bos!" sahut salah seorang pengawal itu.
__ADS_1
"Daratkan burung besimu!" perintah Ammo.
*****"