
Kendaraan itu bergerak perlahan meninggalkan Ammo yang termangu dengan pandangan khawatir.
"Khouk, dimana posisimu sekarang?" tanya Ana sambil menyetir.
"Kami sudah diposisi sejak semalam!" jawab Khouk dengan nada rendah.
"Apakah ada apergerakan yang mnencurigakan di sana?" tanya Ana.
"Tidak ada. Kami sudah membereskan dua puluh orang lagi yang terlihat ingin memasuki dan keluar dari sana!" tambahnya.
Dalam waktu sempit befini, kalian sembunyikan di mana mereka?" tanya Ana heran.
"Tempat yang sangat aman!" sahut Khouk berahasia. Ana mendesah mengeluarkan sedikit rasa gundah, karena dari Khouk, dia tetap tak bisa mendapatkan kepercayaan sepenuhnya. Pria itu sangat suka berahasia.
"Baiklah. Itu harus seaman yang kau katakan. Atau aku akan sangat marah! Terutama kalau ternyata mereka jadi mengganggu rencana kali ini!" Kata Ana tegas.
"Dijamin, Pemimpin!" sahut Khouk tak mau kalah.
"OKe! Kami sudah jalan. Sementara tunggu dan amati, jika ada perubahan yang signifikan di sana. Cermati anak buahmu. Aku mempercayakan mereka padamu. Selanjutnya kau berhubungan dengan Gan!" putus Ana.
"Baik, Pemimpin!" komunikasi itu pun terputus.
"Bagaimana situasi di sana, Paman Alexei?" tanya Ana.
"Tidak banyak gerakan yang terpantau. Baik di dalam maupun di luar gedung. Kurasa ini sangat aneh. Kemarin aku masih bisa memantau suhu tubuh mereka yang ada di dalam gedung. Tetapi sejak tadi malam, semua tiba-tiba blank!"
"Apa benar, Tuan Simon memata-mataiku selama ini? Tak heran setiap gerakanku terbaca. Juga topeng wanita tua itu, apa dia juga yang menginformasikannya pada Biro?" pikir Ana.
"Aku tidak tahu, Paman. Tapi mungkin gerakan kita sedikit bocor, dan mereka mengantisipasi untuk mengeblok pandangan mata dari satelit. Jadi cobalah yang paman bisa dulu. Jika ada seorang ahli IT yang bisa membuka tabir yang mereka buat, itu sangat bagus," saran Ana.
"Baik, biar kucoba. Namti kulaporkan lagi!" jawab Alexei.
__ADS_1
Ana ingat Ariel yang masih berada di rumah dan tertidur sepanjang waktu sarapan. Jadi dia menghubungi Ammo
"Ya, Apa ada masalah? Tak mungkin kau sudah merindukanku!" sahut Ammo riang.
"Apa kau tak tidur semalaman? Suaramu terdengar lelah!" tanya Ana.
"Terima kasih perhatianmu, sayang. Sekarang katakan apa yang kau butuhkan!" desak Ammo.
Ana mengatakan kendala yang dialami Alexei.
"Kenapa dia tak mengatakannya sejak semalam?" gerutu Ammo.
"Beri aku waktu. Akan kulihat apa yang bisa kulakukan untuk membantunya!" komunikasi mereka pun terputus.
Ana menghubungi Kapten Lance. Kapten yang berada di lab bawah air, di kapal selam besar rahasia milik Ammo.
"Hallo Kapten Lance, apa kau masih mengingat suaraku?" tanyanya.
"Tentu saja. Dan aku juga mendapat perintah untuk mengikuti instruksimu hari ini," sahut Kapten Lance.
"Baiklah. Good Luck!" ujar Kapten Lance dari ujung headset.
"Sekarang mari kita fokus menuju ke tempat keramaian!" lirih Ana.
"Gan, apakah kau melihat sesuatu yang ganjil dari mobil di belakang?" tanya Ana.
"Tidak, Pemimpin," jawab gadis itu.
"Sudah berapa lama kau mengikutiku? Kenapa kau tidak mengamati sekitar saat aku menelepon? Bagaimana kalau ada yang menembakkan rudal saat aku menyetir sementara kau tak waspada sama sekali!" tegur Ana.
"Maaf!" ujar Gan.
__ADS_1
"Tugas mengawalku itu bukan melulu melihat wajahku. Justru kau seharusnya lebih banyak melihat sekitar, ketimbang mendengarkanku bicara!" Ana masih belum selesai mengomel.
"Salahku, maaf!" sahut Gan lagi.
"Perhatikan mobil di belakang itu!" perintah Ana.
"Ammo, apakah kau kembali mengirim pengawal rahasia untuk menguntitku?" tanya Ana.
"Tidak ada!" jawab Ammo pasti.
Ana mematikan sambungan komunikasinya dengan Ammo. Kemudian mobil dibelokkan ke arah kanan. Jalanan yang sepi di kompleks industri yang sudah terbengkalai lama.
"Kau bereskan mobil itu!" perintah Ana pada Gan.
"Baik!" Gan segera mengeluarkan senapannya yang besar. diarahkan pada pengemudi di mobil belakang yang terus mengikuti mereka berbelok ke jalanan itu.
Sebuah suara halus terdengar, diikuti kaca belakang mobil pecah ditembus peluru yang melesat cepat ke arah mobil penguntit yang tidak siap ketahuan.
Dalam lima detik, mobil belakang melompat tinggi dan melayang di udara akhibat sopir kehilangan kendali atas kendaraannya.
"Brraaakk!"
Suara benda berat jatuh terhempas disertai pecahan-pecahan kaca terdengar. Mobil Ana melesat secepat kilat meninggalkan lokasi, sebelum sebuah dentuman terdengar di belakang mereka.
Gan menoleh sekilas. Mobil itu telah lenyap dalam tarian api di tengah jalan sunyi.
Mobil besar itu kembali menuju jalur utama. Ana tak kan menyerah semudah itu hanya karena rintangan sekecil tadi. "Aku ingin lihat, berapa banyak barrier yang kalian punya, sampai aku mampu menghancurkan dan menyeret kalian untuk bertanggung jawab, atau menjadi abu!" geramnya marah.
"Perhatikan sekitar, Gan. Yang tadi itu tak kan jadi yang terakhir!" Ana mengingatkan.
"Siap!" Gadis itu kini waspada.
__ADS_1
Dia akhirnya mengerti, bahwa pertarungan telah dimulai. Bahkan saat di jalanan. Musuh tak kan memberi mereka kesempatan mendekat ke panggung utama.
**********