Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
54. Kompetisi Sepuluh Ribu Dollar


__ADS_3

Ammo segera masuk ke ruang kerjanya. Mengenakan pakaian lain di atas suit khususnya. Kemudian memencet tombol untuk mengembalikan pelindung rumah itu ke tempatnya semula.


Ammo mengambil radio, menghubungi Smith.


"POLISI," katanya singkat, lalu memutuskan sambungan.


Dia menyimpan berbagai peralatan canggih di lacinya ke dalam ruang lain tepat di bawah meja kerjanya yang besar. Sebelum keluar, dia menggeser posisi lampu dinding. Maka lab bengkelnya berubah jadi lemari dinding penuh buku. Lalu dia keluar sambil menenteng senapan berburu.


Di bawah, Theo sudah menunggu.


"Tuan, seorang inspektur polisi memaksa masuk ke halaman.


Ammo berjalan dengan santai ke ruang duduk. Smith muncul dan mengangguk. Ammo menoleh pada Theo.


"Ijinkan hanya inspektur itu yang masuk!" ujarnya.


Smith memberitahu penjaga gerbang perintah Ammo. Sementara Theo, berbicara melalui alat komunikasi yang dipasang pada tembok gerbang depan.


Di depan gerbang, sebuah camera cctv mengarah kepada seorang petugas berseragam polisi. Dia menunggu dengan tak sabar. Kemudian terdengar sedikit bunyi kresek sebelum suara Theo terdengar di speaker.


"Tuan Oswald hanya mengijinkan inspektur yang masuk!"


"Ya!" jawab orang di depan kamera cctv.


Dia kembali ke mobil dan berbicara dengan seseorang di dalam situ. Orang itu kemudian masuk mobil, dan seorang yang lain, turun dan memencet tombol di pintu.


Theo membuka pintu gerbang sedikit, sekiranya inspektur itu dapat masuk. Kemudian dengan cepat ditutupnya lagi pintu gerbang yang kokoh itu.


Seorang penjaga security rumah Ammo, mencegat dan memeriksanya. Dia nampak keberatan, dan mengacungkan pistolnya ke kepala security tersebut.


Sebuah tembok batu tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan mengurung tempat itu. Tiga buah senapan laras panjang mengarah pada dua orang tersebut.


"Anda bisa pergi jika keberatan!" terdengar suara dingin Theo dari speaker.


Inspektur itu menurunkan senjata dan menyerahkannya pada security. Security masih terus memeriksa tubuh polisi yang sudah jengkel itu.


Setelah dia mengangkat jempolnya, tanda aman, baru pagar kedua yang dari tembok itu kembali masuk ke dalam tanah.


Di balik tembok telah tersedia sebuah kendaraan listrik kecil untuk dinaikinya. Polisi itu duduk dan kendaraan mulai berjalan otomatis, menyusuri jalan masuk sejauh 300 meter.


Polisi itu mengamati, sda taman yang tertata rapi di kiri kanan jalan. Lampu penerang serta camera pengawas menyorot dari atas tembok tinggi yang mengikuti jalur jalan itu. Di balik tembok hanya terlihat bayangan hitam pucuk-pucuk pepohonan.


"Bahkan meski sudah masuk ke halaman, rumahnya tetap tidak kelihatan." Polisi itu merasa sedikit iri.


Setelah 200 meter dan berbelok ke kiri, kediaman megah itu mulai terlihat. Tepat di ujung jalan itu, ada gerbang dari besi yang diukir dengan elegan. Di atasnya ada pergola yang dipenuhi bunga rambat. Sayangnya, lampu taman tak cukup untuk bisa menikmati keindahan pergola itu.


Kendaraan berhenti di depan pagar besi setinggi satu meter. Seorang security lain membuka pagar itu. Polisi itu masuk dan berjalan ke halaman depan rumah Ammo.


Ada air mancur di kolam bulat, tepat di depan rumah. Jadi jalan masuk ke teras adalah lewat sisi kiri dan kanan kolam.


"Orang super kaya, tak sayang membuat taman penyambutan yang mungkin seharga apartemenku," lirihnya kecut.


Dia terus berjalan dan naik ke teras. Di situ, Theo sudah menunggu.


"Ya, ada apa anda datang ke sini, Tuan Inspektur," sapa Theo datar.

__ADS_1


Inspektur itu mencibir. "Tak usah basa-basi. Kami dapat laporan dari lingkungan ini, bahwa di kediaman ini terjadi tembak menembak dan ledakan kecil!" katanya pedas.


"Oh, itu—"


Ucapan Theo dipotongnya. "Saya harus memeriksa semuanya!" ujarnya tegas.


Saat mereka berbincang itu, tiba-tiba terdengar suara rentetan senapan dari arah belakang. Polisi itu segera berlari ke arah dalam rumah, untuk kemudian kebingungan.


Theo akhirnya dapat mengejarnya. Setelah sedikit mengatur nafas, Theo berkata, "Tuan, jika suara itu yang anda cari, saya bisa mengantar anda ke sana," ujarnya.


"Tunjukkan jalan!" balas inspektur polisi itu.


Theo membawanya jalan memutari ruangan besar, ruangan santai dengan grand piano dan ruang makan. Barulah kemudian mereka sampai di pintu belakang rumah.


"Apa kau tidak pernah tersesat, di sini?" tanya polisi itu usil.


"Hahahaha ... pernah Tuan. Seminggu pertama saya bekerja di sini, saya gunakan untuk menghafal ruang dan jalannya," sahut Theo tersenyum lebar.


Inspektur polisi itu membelalakkan matanya tak percaya.


"Really?"


"Ya, saya baru 10 tahun saat itu." Theo tersenyum penuh kemenangan, bisa mengerjai polisi arogan itu.


"Heh ...." Polisi itu mencibir.


Theo membuka pintu ke teras belakang. Seorang security lain, sedang lewat. Theo menghentikannya. "Di mana Tuan?"


"Berkumpul di belakang," jawabnya.


Security itu meminta pendapat Theo. Setelah Theo mengangguk, barulah security itu membawa Inspektur polisi ke arah hutan kecil di bagian belakang rumah.


Theo mengangkat telponnya. "Polisi dalam perjalanan ke belakang, Tuan," lapornya.


"Hemmm!"


Telepon terputus.


*


*


Sepanjang jalan menuju hutan kecil, inspektur itu berkali-kali bertanya pada security yang menyandang senapan berburu di punggungnya.


"Kalian sedang berburu?" tanyanya.


Security itu hanya tersenyum, tanpa menjawab.


Sesekali masih terdengar tembakan dan teriakan dari arah depan mereka.


"Ayo cepat! Aku ingin lihat, apa yang terjadi.


Keduanya akhirnya berlari menuju hutan kecil itu.


Lamat-lamat terdengar teriakan diselingi suara tawa banyak orang. Lalu tampak cahaya api unggun yang berkobar di tengah-tengah kerumunan.

__ADS_1


"Stop! Apa yang terjadi di sini!" teriak Inspektur Polisi itu sambil berlari.


Orang-orang yang di sana langsung menoleh heran. Siapa yang berani lancang melarang Tuan Oswald di kediamannya? Mereka lalu diam. Ingin melihat apa yang akan terjadi.


"Siapa kau?" tanya Smith dingin. Senapan berburu itu diacungkan pada Inspektur Polisi. Yang lain mengikuti.


Polisi itu terkejut, tak menyangka akan ditodong senjata berburu sebanyak itu. Tapi dia mencoba mengembalikan ketenangannya. "Aku Inspektur Polisi Rolland Bennet," jawabnya percaya diri.


Kapten Smith mengangkat sebelah alisnya, lalu melihatnya dari kepala hingga kaki. Tak lama, ekspresinya yang garang tadi berubah datar. Senapan diturunkannya, tapi yang lain masih tetap membidik.


"Sudah!" Ammo mengibaskan tangannya. Dan dengan segera semua moncong senapan itu diturunkan.


Polisi itu merasa lega. Para security itu sudah kembali ke aktifitas mereka, dipimpin kapten Smith.


"Perburuan malam ini selesai. Bawa kemari semua hasilnya!" teriakannya lantang.


"Ada apa Anda datang ke sini?" tanya Ammo datar. Dia asik melihat orang-orangnya berlarian ke arah hutan.


"Kepolisian mendapat laporan bahwa ada suara sirine keras, lalu tembakan dan ledakan dari kediaman anda. Jadi, saya memeriksanya." Polisi itu berusaha bersikap berwibawa di depan Ammo.


"Oh, itu. Mereka sedang latihan dan berkompetisi. Anda bisa melihatnya sendiri," jawab Ammo tenang.


"Latihan apa yang butuh senjata dan peledak? Itu melanggar aturan, Tuan Oswald!" suaranya meninggi.


Ammo langsung menoleh dan memandangnya tajam. Dia tak suka ada yang bicara dengan nada tinggi di depannya.


Polisi itu merasakan sedikit kegugupan saat merasakan tekanan aura yang dikeluarkan Ammo saat marah.


"Cepat!" teriakan Smith terdengar dari dekat api unggun. Beberapa orang datang sambil membawa sesuatu di tangan kanan dan kiri.


"Anda lihat saja kegiatan mereka di sana!" ujar Ammo dingin.


Inspektur Polisi itu segera berjalan mendekati tempat itu. Makin banyak petugas security yang datang dan membawa sesuatu. Mereka saling tertawa gembira.


Di dekat Smith, seorang security menghitung dan yang lain, mencatat. Lalu semua itu dilemparkan ke dalam api unggun yang berkobar-kobar. Dengan cepat, bau daging terpanggang menyebar.


"Tunggu, apa yang kalian bawa?" tanyanya menahan salah satu security yang berlari.


"Ini, hasil buruanku!" Security itu menunjukkan bawaan di tangan Kanan dan kirinya.


"Tikus?" tanya Inspektur Polisi Rollsnd Bennet tak percaya.


"Kau pikir apa? Dengan berkompetisi, hama tikus di sini bisa dihilangkan dengan cepat!" jawabnya gembira, kemudian berlari menyusul teman-temannya.


Inspektur Polisi itu tidak ingin mendekati api unggun. Bau daging tikus terbakar segitu banyaknya, telah membuat perutnya mual. Dia hanya mengawasi dari kejauhan hingga kegiatan itu selesai.


"Bagaimana di sana?" Sebuah suara dari radio di sakunya, terdengar.


"Nanti ku ceritakan. Kau tak kan mempercayainya.


Di depan sana, terdengar sorak sorai. Kemudian keramaian itu bubar. Pemenang pertama kompetisi berburu tikus itu mendapat hadiah $10.000.


"Luar biasa cara orang kaya menghamburkan uang," pikir Inspektur Polisi itu sambil menggelengkan kepala.


*******

__ADS_1


__ADS_2