Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
178. Akhirnya Mati Juga


__ADS_3

Ana melompati patung taman dan menjangkau dahan pohon terdekat. Dia melangkah hati-hati menuju lobang besar yang ada di tembok. Dengan dua pistol di kedua tangannya, gadis itu melompat ke lantai dua, di mana lubang itu menganga lebar.


Kehadirannya segera disambut dengan suara tembakan beruntun. Gadis itu mengelak dengan bergulingan di lantai, menuju satu titik yang menurutnya bisa melindunginya dari hujan peluru.


Setelah cukup dekat dengan penyekat meja marmer besar, Ana berbalik dan balas menembaki orang yang masih terus memuntahkan peluru mereka.


"Aahhh!" satu jeritan terdengar, dan suara tembakan berkurang. dia kembali berbalik untuk berlindung. Menggunakan jam tangannya, Hanna mencari tahu posisi orang-orang yng ada di situ. Dia berpindah ke arah kanan agar lebih mudah untuk melakukan eksekusi.


Setelah memeriksa peluru di kedua pistolnya, Ana menggenggamnya kuat sambil bersandar ke kaki meja marmer itu. Batu marmer yang cukup besar untuk bisa menyangga beban meja baju yang berat. Dimanfaatkan Ana sebagai tempat perlindungan.


Dia menghitung waktu, kapan orang-orang itu akan berhenti sejenak untuk mengisi ulang senjata mereka. Kemudian bangkit dan menelungkup di atas meja. Dua pistolnya menyalak ke segala arah. membalas orang-orang yang tadi menembak. Terdengar beberapa teriakan nyaring. Sebelum ruangan itu dengan cepat menjadi sunyi.


Hanna melompat ke luar ruangan. tubuhnya hampir saja tersambar api yang sudah mencapai lantai dua. Dia mengelak dan melompat ke sisi lain bangunan, menuju tangga ke lantai tiga. Kemudian merapat ke sisi tangga sebelum menapakinya.


Mustahil orang-orang itu tidak menyiapkan penjaga di lantai tiga, seperti halnya di lantai dua. Dengan pemikiran itulah dia bersikap hati-hati.


Pimpinan biro ini tadi ada di jendela lantai tiga. Bisa jadi dia sekarang lari ke lantai empat, atau menunggu jemputan di heli pad di atas atap! Ana harus menghentikan hal itu. Kesempatannya hanya sekali ini, jadi mereka harus berhasil. atau akan berubah jadi bencana baginya, bagi Ammo dan juga Klan Khaan yang pasti akan segera terseret.


Ana menaiki tangga hingga setengah tinggi tangga ketika dia disambut dengan hujan peluru dari lantai tiga. Ana membalas tembakan itu beruntun sebelum mencari tempat perlindungan, tepat di balik dinding samping tangga.


"Gan, minta Khouk untuk naik ke atap dan hentikan siapapun yang ingin lari dengan helikopter atau apapun!" perintah Ana.


"Baik!" sahut Gan.


Musuh di balik tembok pasti dapat mendengar suara Ana saat menghubungi Gan tadi. Dia menembaki tembok di mana gadis itu berlindung.

__ADS_1


Ana merunduk dan dengan cepat menembak ke arah orang itu sambil mendorong tubuhnya meluncur di lantai, menjauhi pinggir tangga. Terdengar teriakan keras dan suara tubuh yang jatuh berdebum.


Orang yang lain menembaki lagi ke arahnya. Ana membalas ke arah tanda merah yang ditunjukkan oleh radar di jam tangannya. Seorang pria berseragam jatuh terjungkal dari atas tangga. Teriakannya terdengar dramatis.


Ana berhasil sampai ke lantai tiga. Para penghalangnya tadi sudah tak lagi bernyawa di tempat perlindungan mereka.


"Keluar Kau!" teriak Ana. Sebagai pimpinan kau harusnya melindungi agenmu. Tapi tindakanmu justru mengorbankan banyak agen rahasia yang telah dibina selama bertahun-tahun!" teriak Ana marah.


Tak terdengar jawaban apapun. Tak ada juga tembakan balasan. Beberapa orang dilihat Ana tergeletak bersimbah darah di latai. Lubang besar akibat serangan dari di mobilnya tadi, ternyata merenggut banyak nyawa. Mereka mungkin tak sempat menghindar dari serangan.


Ana memeriksa setiap ruangan yang ada di sana. Semua ruangan itu kosong. Maka hanya tinggal satu tempat bagi pria pengecut itu. Lantai empat, kemudian menuju roof top di mana mungkin telah menunggu sebuah heli penyelamat.


Dengan cepat dia menaiki tangga ke lantai empat. Tak ada satupun tembakan di sana. Lantai itu sangat sunyi. Ana merasakan ada keanehan.


Muntahan peluru kembali diterimanya saat dia keluar di atap. dua pria berdiri di depan seorang pria yang diyakini Ana sebagai pimpinan biro tersebut. Mereka menembaki Ana dengan pistol sambil terus mundur untuk melindungi orang nomor satu di sana.


Gadis itu berlindung di balik mesin pengatur udara. Mesin besar itu cukup untuk melindungi tubuhnya dari peluru yang tak bermata.


Saat suara tembakan mereda, Ana berbalik dan mulai balas menembak, sambil mengejar ketiga orang yang berlari menuju helipad.


Ana bisa mendengar suara helikopter mendekat. Dia harus membereskan ketiganya sebelum pesawat itu membawa mereka pergi.


Dengan cepat dia melompati undakan menuju heli pad. Dan menembak kaki salah seorang penjaga yang sedang berlari. Orang itu langsung jatuh terjerembab dan menembaki Ana.


Tapi kemudian terdengar tembakan dari arah lain. Itu suara senapan. Ana menoleh ke arah kiri. Khouk sedang membidik heli yang datang mendekat.

__ADS_1


"Ini kesempatanku!" gumamnya. Dia mengejar tiga orang yang masih terus berlari dengan lambat, karena harus sambil membantu pengawal lain yang tertembak.


Tiba-tiba terdengar tembakan, disusul oleh ledakan besar, Api menyambar dari heli yang meledak di udara, kemudian jatuh tak terkendali ke tanah.


Ana dan terutama tiga orang pelarian itu terkejut setengah mati. Kesempatan mereka melarikan diri lenyap sudah. Ana mengambil kesempatan tersebut untuk menembaki ketiganya yang masih berdiri terpaku.


Ketiga orang itu jatuh dan ambruk di heli pad. Ana dan Khouk mendekat. Dia tak mau mengambil resiko. Ditembaknya dua orang berseragam yang terluka itu. Untuk memastikan bahwa mereka tak kan bisa lagi menembak diam-diam.


Pria yang seorang lagi juga sudah terluka di bagian bahu. Dia mundur sambil menahan agar darah tidak mengucur deras dari luka tembaknya.


"Menyerahlah!" perintah Ana. Disimpannya kedua pistol di pinggang lalu mengambil pisau kembarnya.


"Bukankah kau sangat hebat? Kita bisa bertanding satu lawan satu," tawar Ana sambil memutar-mutar pisaunya yang berkilat tajam.


Tapi orang itu terus mundur. "Kau akan menerima konsekwensi untuk semua pengkhianatanmu ini!" ancamnya.


"Aku sungguh tidak tahu apa kesalahanku. Bisakah kau katakan kesalahan besar apa yang kulakukan hingga kalian memburuku? Bukan cuma aku, bahkan semua bawahanku kau buru!" Kau manusia paling keji yang pernah kukenal! Menjadikan manusia percobaan yang tak manusiawi!" cercanya murka.


"Kau takkan mendengar apapun dariku. Aku akan membawa rahasia itu sampai mati.


"Kalau begitu, mati saja lah!" Ana langsung menyimpan pisau dan mencabut pistol lalu menembaknya tanpa ragu. Pria itu tak sempat untuk membalas. Tubuhnya terdorong mundur hingga ke tepi heli pad. Tubuhnya yang penuh lubang peluru, limbung sebelum terjun bebas ke arah parkiran di bawah.


"Akhirnya kau mati juga!" lirih Ana. Dia meludah ke lantai. Merasa jijik melihat sifat pengecut orang itu.


************

__ADS_1


__ADS_2