
Seperti biasa, setelah makan malam, Ammo kembali mendekam di ruang kerjanya. membaca laporan dari semua perusahaan hari itu. Kantor barunya sudah selesai ditata ulang. Sudah waktunya semua staf yang diliburkan di camp dan diseleksi ulang, untuk kembali bekerja.
Pekerjaannya selesai pukul sepuluh dan dia keluar, untuk kembali ke kamarnya. Disaat yang sama, Theo naik tangga dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan."
"Ada apa?
"Penjaga gerbang depan menemukan ini di batang pohon gerbang kedua," lapor Theo.
Mata Ammo membesar. Sebuah anak panah dan selembar kertas yang sudah dibuka. Pasti penjaga gerbang langsung memeriksanya.
"Baik." Ammo mengambil anak panah dan kertas itu dari tangan Theo. Katakan pada Smith untuk memperketat penjagaan. Dan periksa cctv!" perintah Ammo.
"Smith ada di bawah, Tuan. Dia yang membawakan ini ke dalam," jawab Theo.
Ammo langsung turun ke bawah menemui Smith.
"Apa kau sudah memeriksa kamera pengawas?" tanya Ammo.
"Sudah, Tuan."
Smith mengikuti langkah Ammo menuju ruang makan.
"Buatkan kami kopi," perintah Ammo pada Theo.
"Baik, Tuan." Theo pun berlalu.
Di sana, Smith membuka laptopnya di atas meja, lalu diperlihatkan pada Ammo.
Tampak seorang pria dengan jacket panjang dan hoodie, melintas di depan gerbang tiga kali, sejak sore tadi. Tapi, dia tidak tertangkap kamera sebagai orang yang melesatkan anak panah itu.
"Apa kau sudah mencocokkan profilnya dengan penghuni blok ini?" tanya Ammo.
"Sudah, Tuan. Fisiknya tidak ada yang cocok dengan para penghuni blok ini.
"Bagaimana dengan kediaman depan? Yang paling mungkin, panah ini ditembakkan dari properti di depan, kan?" desak Ammo.
"Benar, Tuan. Tuan Elliot serta Tuan Broody telah lama tinggal di luar negri. Dua properti itu sekarang kosong dan hanya dihuni beberapa pelayan serta pekerjanya. Dua penjaga sudah dikirim untuk bertanya ke sana," jawab Smith.
Ammo mengangguk. Dibukanya kertas itu. Tak ada pesan apapun di situ. Kening Ammo mengerut.
Theo masuk membawa kopi.
"Bawan lilin, ke sini," ujar Ammo.
__ADS_1
"Ya, Tuan."
Theo bergegas kembali ke dapur untuk mengambil lilin. Kemudian kembali ke ruang makan, dan meletakkan tempat lilin di meja. Theo segera menyalakannya, lalu mundur menjauh.
Ammo meletakkan kertas itu dekat dengan nyala api. Sebaris tulisan, muncul di kertas, sebelum langsung terbakar.
...HATI-HATI SNIPER...
Smith, dan Ammo terkejut membaca pesan itu. Smith memandang ke arah Ammo. Apakah tuannya tau pengirim pesan ini?
Ammo berpikir keras. Apakah pesan ini ada hubungannya dengan pesan rahasia yang siang tadi dia kirimkan? Bagaimana orang itu bisa tau? Ataukah ini hal lain lagi?
"Perketat pengawasan di sekitar. Jika seseorang bisa menembakkan panah masuk ke dalam gerbang, artinya pengawasan kurang ketat!" tegas Ammo.
"Baik, Tuan.
Smith pergi setelah meminum kopinya.
Ammo menyalakan televisi. Tidak ada informasi baru yang diharapkannya. Hanya ada sekilas info bahwa wanita bernama Nathalie dan kekasihnya itu, belum juga ditemukan.
Ammo meneguk habis kopinya. Dia bangkit dari duduk dan menaiki tangga. Anak panah itu dibawanya serta. Dia kembali masuk ke ruang kerja, dan membuka bengkel dan lab rahasianya.
Ammo memeriksa anak panah itu di bawah kaca pembesar. Mencari petunjuk sekecil apapun, yang mungkin bisa membawanya pada pemilik panah itu. Tapi semua tanda terlihat pada jam tangannya. Dia harus menunda pemeriksaan ini. Anak panah itu telah difoto dari berbagai sisi. Nanti dia akan menelusurinya di internet.
Ammo menyimpan anak panah itu dalam suitcase khusus. Bagaimanapun, dia tidak akan mempercayai begitu saja peringatan dari orang tak dikenal itu, hingga dia menemukan informasi yang bisa dipercaya.
Ammo membacanya sekilas, lalu menutupnya kembali. Dibukanya layar transparan untuk memeriksa laporan dari para staf khususnya. Lalu laporan Stone. Dia menggeleng kecewa.
Perkembangan Ana tak terlalu menggembirakan. Stone tak bisa membuka memori Ana lebih dalam lagi. Yang diingatnya hanya ibunya yang tewas di pelukannya. Dia bahkan tak bisa mengingat seperti apa ayahnya. Apa lagi mengingat tentang saudaranya.
Catatan Stone: Kemungkinan saat kecilnya, dia juga mengalami penghapusan memori. Entah apakah hal itu dilakukannya sendiri sebagai reaksi proteksi diri, ataukah ada pihak lain yang melakukannya. Stone belum bisa menggalinya.
Ammo memijit pelipisnya. Dia tak menyangka proses ini akan memakan waktu lama. Dan Stone akan langsung menghentikan terapi jika Ana mulai mimisan dan kesakitan. Dia tak mau mengulang kejadian pingsannya Ana seperti pertama kali.
Berarti Ammo hanya bisa bergerak sendiri sekarang. Meraba dalan gelap tentang masa lalu gadis itu. Dia yakin, masa lalu Ana kini menariknya masuk ke dalam lingkaran.
Pukul satu malam, baru Ammo selesai memberi beberapa instruksi untuk semua staf khususnya.
*
*
Pukul lima pagi, Ammo sudah bersiap di lab bawah tanahnya. Theo menatapnya cemas.
Ammo mengenakan suit khususnya, lalu mengendarai motor kesayangannya.
__ADS_1
"Hati-hati, Tuan," kata Theo.
"Hemm. Kau tau harus apa, selama aku pergi, kan?" tanya Ammo.
"Ya, Tuan." Theo mengangguk tegas.
Lalu terdengar suara deru motor. Kemudian motor itu melaju dan menghilang di lorong gelap bawah tanah, yang merupakan jalan rahasia buat Ammo.
Theo langsung menutup lorong gelap itu. Seketika dinding lab itu kembali seperti semula. Semua lampu dimatikan dan dia kembali ke lantai atas, dan mengunci lift khusus itu.
Sebuah motor hitam bermotif api emas di bagian belakangnya, melesat membelah jalan yang masih sangat sepi. Jalan itu menuju kota tetangga.
"Kalian di mana?" terdengar suara pria itu.
"Sudah di posisi, Tuan." Terdengar jawaban dari alat di telinganya.
"Oke!"
Motor itu kembali menderu dan melaju kencang. Dia harus melewati hutan kecil sebelum masuk ke kota tetangga. Ammo tau, jika ada yang ingin membunuhnya, maka tempat ini adalah lokasi yang sempurna.
Dan, benar saja. Jam tangannya memberi alarm peringatan, bahwa ada yang masuk dalam perimeternya.
"Penyergapan," batinnya.
Ammo menyalakan perangkat proteksi pada kendaraan itu. Sekarang, seluruh body motor itu tertutup sepenuhnya dengan pelindung khusus berwana hitam. Dan Ammo berada di dalamnya seaman berada di mobil lapis baja.
Sebuah peluru menghantam body motornya, lalu memantul ke arah lain. Di dasboard motor, Ammo bisa melihat banyak titik merah di sekitarnya. Kemudian, satu titik merah mendekat dengar cepat.
Tidak! sekarang sudah ada tiga titik merah yang mengejarnya dengan cepat. Ammo menaikkan kecepatan motornya dan meninggalkan banyak titik merah di kiri dan kanan yang tadi mengurungnya. Beberapa tembakan kembali mengenai motor dan memantulkan pelurunya entah kemana.
"Mereka juga naik motor. Apakah mereka sudah mengetahui jalan rahasiaku?" pikir Ammo.
"Banyak yang mengikutiku di hutan pinggir kota!" ujar Ammondi alat komunikasinya.
"Siap, Tuan!"
Ammo kembali melihat ada titik-titik merah tepat di depan jalan yang akan dilintasinya.
"Hemm ... mereka memblokir jalanku!" gumam Ammo.
Ammo menghentikan motornya pada jarak lima puluh meter dari titik yang dilihatnya. Meski bayangan gelap hutan mengaburkan keberadaan mereka, tapi helmnya bisa melihat jelas bahwa ada tiga motor dan beberapa orang, berdiri di tengah jalan, sedang menantinya.
Kemudian perimeternya kembali memberi peringatan, bahwa dia telah dikepung dari semua sisi.
Ammo bisa melihat bintik-bintik merah laser dari senapan pemburu hinggap di body motornya.
__ADS_1
Ammo menunggu ....
*******