
"Bawa kapal selam itu. Yang lain, periksa lagi sekitar!" Terdengar perintah kapten memecah kebingungan.
"Siap, Kapten!"
"Hai Kapt! Bisakah kau buka pintu masuk untuk kami?"
Suara itu mengejutkan orang-orang yang sedang cemas.
"Bos!" teriak kapten. Daking terkejutnya, dia terlonjak dari kursi.
"Bukakan pintu masuk dermaga! Cepat!" perintah kapten.
"Buka pintu dermaga untuk Bos!" wakil kapten meneriakkan perintah di pengeras suara.
"Siapkan para medis di dermaga untuk merawat orang-orang!" Kali ini, suara kapten sudah lebih tenang. Semua orang juga lega, karena para petugas yang dikirim, bisa dievakuasi dan Bos selamat.
"Kau, ambil alih!" seru kapten pada wakilnya.
"Siap, Kapten!" jawab wakil kapten.
"Kerja bagus, Kevin," Kapten memuji engineer muda itu.
Dengan bantuannya, tiga kapal selam bisa ditemukan. Serta para petugasnya dapat ditemukan dalam kondisi selamat, meskipun mengalami cedera. Kapten Lance langsung berdiri dan bergegas keluar ruangan. Dia harus melihat keadaan Ammo sekarang.
"Terima kasih, Kapten," jawab Kevin tenang.
"Periksa perimeter!" perintah wakil kapten. Para petugas di situ kembali ke rutinitas pekerjaan mereka. Peringatan darurat juga dicabut. Segala sesuatunya kembali normal. Orang-orang sipil dapat keluar dari persembunyian mereka.
*
*
"Ada apa itu tadi?" tanya Ana pada seorang perawat dan penjaga yang bersamanya.
"Anda kan kami berada di sini, Nona. Bagaimana kami bisa tahu?" elak penjaga tersebut.
"Huh!"
Ana merasa sebal mendapat jawaban seperti itu. Dia merasa ada sesuatu yang gawat yang sedang terjadi di tempat itu.
"Apa hal seperti ini sering terjadi?" tanya Ana lagi.
"Dua kali sebulan, kami dilatih untuk berlindung jika ada hal-hal darurat," jawab perawat itu.
"Apakah hari ini, waktunya latihan evakuasi?" selidik Ana.
__ADS_1
"Waktunya terserah Kapten, Nona. Tidak ada jadwal pastinya!"
Kali ini suara perawat itu terdengar jutek. Tampaknya dia tak terlalu suka sikap Ana yang sedang menyelidiki tempat itu.
"Di mana Profesor Stone?" tanya Ana lagi.
"Tidak tau. Setiap orang sipil, punya tempat perlindungannya sendiri!" kali ini petugas itu yang menjawab dengan suara tak kalah ketus dari si perawat.
Ana masih mau bicara, ketika petugas pengawal itu mengangkat tangan, memintanya tutup mulut.
"Anda dibawa ke sini untuk dirawat, oleh Bos sendiri. Jika ada pertanyaan, Anda bisa tanyakan padanya!"
Ana akhirnya diam. Tiga orang itu duduk di kursi masing-masing, menunggu peringatan darurat ditarik. Hal itu sungguh membuat Ana mati kebosanan.
"Harusnya, tempat evakuasi memiliki bekal makanan. Bisakah aku mendapatkan sesuatu?" tanya Ana menganggu ketenangan kedua orang yang bersamanya itu.
"Itu persediaan untuk keadaan darurat!" tolak petugas pengawal.
"Bukankah sekarang kita dalam keadaan darurat?" bantah Ana.
"Tapi—"
"Aku lapar. Please?" Mata Ana terlihat begitu polos saat memohon.
"Kau, ambilkan Nona ini makanan dan minuman yang pertama!" perintah penjaga itu para si perawat.
Di depannya, penjaga itu sedang bertarung melawan Ana. Dia harusnya bisa membalas Ana, tapi tampaknya posisi Ana membuatnya ragu dan khawatir akan menyakiti. Hingga akhirnya dia harus menerima pukulan keras yang membuatnya jatuh berdebum di lantai metal.
Perawat itu terpaku dengan mata melotot ke lantai. Pengawal itu tak bergerak di depan sana.
"A-apa di-dia ma-ti?" lirihnya tak percaya. Tubuh perawat itu jatuh terduduk di lantai. Matanya menyiratkan ketakutan. Jiwanya terguncang melihat pembunuhan di depan mata.
Ana jongkok dengan santai dan memeriksa denyut nadi di leher si penjaga.
"Dia cuma pingsan!" jawab Ana santai. "Mana makananku?" pintanya lagi.
"Oh, a-kan ku-ambil-kan," sahut perawat itu ketakutan.
Terlihat jelas dia takut berdua saja dengan Ana di ruangan itu. Dia merasa Ana adalah orang yang berbahaya. Perawat itu tak menyangka jika pasien wanita itu mampu menjatuhkan seorang penjaga yang terlatih.
"Jangan bertindak macam-macam!" ancam Ana yang melihat perawat itu termangu dengan tubuh gemetar.
Perawat itu berbalik dan membawakan sebungkus biskuit dan sebotol kecil air mineral. Semua itu diletakkannya di meja. Kemudian dia menjauh dari Ana, untuk memeriksa keadaan penjaga yang masih tergeletak di lantai.
Ana membiarkan perawat itu memeriksa si penjaga. Dia mengunyah biskuit tawar itu dengan santai dan tak peduli.
__ADS_1
Setengah jam berlalu. Ana merasa sudah sangat bosan. Perawat itu telah memberikan tiga bungkus biskuit untuknya.
"Hei, apa kau hanya akan duduk seperti itu? Kau tidak bosan?" tanya Ana.
Perawat itu menggeleng. Masih tersisa ketakutan di hatinya berada di dekat Ana. Jadi ditariknya kursi ke dekat penjaga yang pingsan, lalu duduk dengan tegang di situ.
"Terserah kaulah!" ketus Ana.
Dia bangkit dari duduk dan berjalan mondar mandir dengan gerakan dan tekanan langkah yang sama. Seperti orang yang sedang berjalan cepat. Kemudian dia jongkok, lalu memposisikan dirinya menelungkup di lantai, bertumpu pada dua tangan dan ujung kakinya.
"Dia push up seperti itu hal yang mudah," pikir si perawat saat melihat gerakan Ana.
"Apa dia juga anggota yang terlatih?" Perawat itu baru menyadarinya. Matanya melebar, mengingat bagaimana si penjaga itu dapat dijatuhkan dengan mudah.
"Dia lebih berpengalaman!" simpulnya dalam hati.
Ditolehnya penjaga yang masih belum sadar dari pingsan itu. "Pantas saja kau kalah!" cibirnya ke arah si penjaga.
Sekonyong-konyong tempat itu sedikit bergoyang. Lalu semua lampu mati.
"Apa yang terjadi?" suara perawat itu panik. "Ini bukan latihan," gumamnya bergetar.
Kemudian lampu kembali menyala berkedap-kedip. Ana sedang menempelkan telinganya pada pintu. Dia tak mendengar apapun. Namun Ana ingat, saat mereka masuk ke tempat itu, ada dua penjaga yang ditinggalkan di luar sana. Keduanya bertugas melindungi pintu masuk persembunyiannya.
Brak brak brak!
Ana menggebrak pintu metal itu dengan keras. "Apa yang terjadi di luar?" teriak Ana.
Tapi tak ada jawaban apapun dari balik pintu. "Tak mungkin mereka tak mendengar teriakan dan pukulanku," gumam Ana kesal. Ana masih memukuli pintu itu beberapa kali lagi hingga tangannya memerah.
"Jangan lakukan itu!" cegah si perawat.
"Kami ditugaskan menjaga Anda. Kurasa ini bukan latihan. Jadi anda harus diam. Jangan membongkar tempat persembunyian ini!" terang gadis perawat itu sewot.
"Aku hanya ingin membantu, jika nemang ini keadaan darurat." Ana membela diri.
"Anda akan sangat membantu, jika duduk dengan tenang di sini!" sahutnya ketus.
"Baiklah kalau begitu."
Ana memilih duduk di lantai dan kembali berolahraga dengan tenang.
Gadis perawat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. "Keadaan sedang tegang, tapi dia justru menikmati olah raganya. Sungguh bermental kuat," batinnya.
Waktu kembali berlalu hingga hampir satu jam, ketika terdengar bunyi pintu yang akan dibuka. Ana mundur dan berdiri di depan gadis perawat itu.
__ADS_1
Sikapnya yang waspada dan melindungi, mengagetkan si perawat. Dia tak menyangka Ana akan bersikap begitu. Prasangka buruknya tadi, langsung hilang. Keduanya menatap cemas ke arah pintu yang akan segera terbuka.
*******