
"Apa-apakah ... terjadi perkelahian? Aku tak mendengar suara apapun tadi malam, atau berapa hari terakhir," ujarnya.
Polisi itu menoleh lagi ke arah sofa dan tivi yang masih menyala.
"Anda tidur di depan tivi yang menyala?" tanyanya.
"Ah, iya. Aku tidur di depan tivi." Ana mengangguk.
"Baiklah. Jika kami butuh informasi lagi, kami akan menemui anda lagi.
"Apakah anda sudah memeriksa rumah yang diujung jalan itu? Aku pernah melihat beberapa orang melintas menuju rumah ujung jalan," ujar Ana memberi informasi. Dia masih penasaran dengan penghuni di sana.
"Terima kasih informasinya, Nyonya. Saya permisi." Polisi itu berjalan pergi dan melihat sekitar.
Halaman rumah Ana memang tak terawat. Tapi juga tidak gelap, karena hanya ditumbuhi rumput dan beberapa pohon pelindung di pinggir lahan. Rumah mungil ini masih terlihat jelas dari pintu pagar, meskipun cukup jauh. Kesan ini menjauhkannya dari kecurigaan sebagai orang jahat.
Ana kembali masuk rumah, setelah polisi itu melewati pintu pagar. Pintu itu langsung dikunci dari dalam rumah.
Ana menyiapkan sarapan dan kopi. Kemudian duduk di depan televisi.
Siaran langsungnya mendapat perhatian dunia. Negara ini dianggap lalai dan terlambat merespon laporan warga. Walikota dan kepolisian mendapat kecaman.
Sebelas pria tewas dan dua wanita kritis setelah malam bejat itu. Juga ditemukan delapan jasad lainnya di lantai atas. Polisi sibuk mendalami pihak-pihak terkait. Semua bergerak besar-besaran mengidentifikasi korban-korban tewas. Rumah itu sudah seperti rumah jagal yang menyeramkan.
Media mengutip pihak berwajib, bahwa ini kemungkinan perseteruan antar geng, karena diketahui bahwa para wanita dan pria itu berasal dari geng yang bermusuhan.
Tapi orang yang memergoki pelecehan dan melakukan pembunuhan disertai siaran langsung itu sedang diburu, dengan tuduhan pembunuhan keji dan tak beradap. Dicurigai sebagai pihak ketiga yang ingin memanaskan situasi dan melemahkan pemerintah.
"Hahahaha...." Ana tertawa terpingkal-pingkal.
Dengan penasaran dibukanya internet dan mencari berita di media sosial. Siaran langsung itu jadi topik panas. Beragam komentar pro dan kontra meramaikan media daring. Tak lupa pula ulasan-ulasan para pakar. Ana tak merasa terganggu sama sekali dengan komentar miring. Dia hanya tersenyum.
Kemudian ponselnya bergetar. Ana melihat angka yang tertera, lalu menjawab telepon.
"Apa yang kau lakukan?" teriakan Ammo terdengar.
"Memangnya apa yang kau dengar?" tanya Ana balik.
Ana membuka video call. "Lihat penampilanku. Aku bahkan tertidur di sofa hingga pagi dengan penampilan begini. Lalu salahku apa?" tanya Ana.
Ammo terkesima. Itu penampilan Ana yang terakhir kali dilihatnya. "Lalu siapa wanita yang ada dalam siaran yang viral itu?" pikirnya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja? Kau butuh sesuatu?" suara Ammo kembali melembut.
"Tidak. Kulkasku masih penuh." Ana berjalan ke dapur dan membuka kulkas yang memang masih terisi setengah. Lagipula, dia punya banyak stok di basement.
"Oke. Baiklah. Aku sedang tak berada di negara ini. Jadi kuharap kau tidak berbuat macam-macam yang membahayakan saat aku tak ada," pesan Ammo.
"Baik, Bos. Urus saja dulu urusan Bibi Harriet," balas Ana.
"Kau benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Ammo sekali lagi.
"Tak pernah lebih baik lagi. Ini hidup yang santai. Lihatlah ... menonton televisi sambil mengunyah keripik. Lalu tertidur kekenyangan." Ana kembali menunjukka meja di samping sofa yang dipenuhi plastuk kemasan kripik yang kosong.
Ammo membelalak melihat itu. "Akan kuminta Theo mengantarkan makanan untukmu?" desak Ammo.
"Tidak! Itu hanya akan membuka penyamaranku!" cegah Ana.
"Kau benar. Baiklah ... jaga dirimu!" Ammo memutuskan sambungan telepon.
Ana menghempaskan tubuh gendutnya di sofa. Dia lega bisa meyakinkan Ammo tentang keadaannya. Matanya terpejam dengan senyum terkembang. Gadis itu sedang menikmati sedikit kemenangan dari Ammo.
Sekonyong-konyong matanya terbuka, saat sebuah berita besar lain muncul ke publik. Itu berita yang dikirimnya kemarin! Akhirnya media itu juga tak dapat menahan informasi lebih lama lagi.
Melihat arah publik yang sedang menyoroti pemerintah, media itu tak berani menyimpan info sensitif lebih lama lagi. Biarkan publik menilai apa yang telah terjadi tanpa sepengetahuan mereka.
Ana tersenyum dan menunggu badai yang akan mendatanginya. Dengan begini, orang-orang dekatnya akan lepas dari bidikan.
Berita lain adalah berita ditemukannya sesosok mayat tak dikenal di jalanan bukit dekat hutan, tak jauh dari tempat itu.
Ana terdiam. Dia mengenali korbannya. Itu Gerry, bawahannya yang lain. Bagaimana dia bisa ada di situ? kapan terjadinya? Kemarin Ana melewati jalan itu dan tak ada apapun. Berarti itu terjadi setelah dia melewatinya.
"Pasti pembunuhnya tak jauh dari sini. Apakah orang yang kemarin terbaring di lantai itu adalah Gerry?"
Wajah Ana memucat. Lalu bagaimana bisa saat malam hari, jumlah mereka masih sama?
"Kecuali ... ada orang lain datang. Jadi ketika Gerry dibuang, jumlah mereka tetap sama!" pikirnya.
Dengan tergopoh-gopoh Ana keluar rumah dan menguncinya dengan seksama. Dia berjalan tergesa menuju pintu pagar.
Di luar sudah banyak warga desa yang berkumpul di luar garis polisi. Ana ikut melihat dengan gaya orang paruh baya nyinyir ingin melihat tempat kejadian perkara. Dia bergeser dan mendekat pelan-pelan. Tongkatnya jadi aksesori ampuh, membuat penonton lain rela memberikan tempatnya untuk Ana.
"Kenapa rumah itu juga diberi garis polisi?" tanya Ana pada seseorang.
__ADS_1
"Ditemukan banyak bercak darah di lantai rumah itu," jawab seorang pria berambut putih.
"Oh...." Ana terpaku.
"Berarti yang kemarin kulihat, benar adanya. Kemungkinan Gerry disiksa di sini. Maafkan aku, Gerry!" lirih Ana di hati.
"Aku harus segera mencari keberadaan yang lainnya, sebelum mereka tertangkap oleh The Hunters," tekad Ana.
Tak lama, orang-orang dari rumah ujung jalan itu dibawa keluar. Mereka digiring menuju mobil polisi yang sudah disediakan.
Ana memperhatikan orang-orang yang lewat itu dengan seksama. Tak ada yang dikenalinya. Mereka menggunakan masker wajah berwarna hitam.
"Untuk apa lagi wajah kalian ditutupi..Biarkan rakyat melihat pelaku kejahatan, agar bisa mewaspadainya saat di jalan!" protes Ana.
"Ya. Wanita ini benar. Biarkan kami melihat wajahnya!" teriak yang lain ikut protes.
"Jaga sikap!" hardik seorang polisi.
Tangannya mendorong balik warga yang melewati garis polisi. Kericuhan sedikit terjadi akibat saling dorong. Dan akibat dorongan entah siapa, Ana terjatuh setelah menabrak salah seorang yang digiring.
"Hei, kalian jangan saling dorong! Ada banyak orang tua di sini. Berbahaya!" bentaknya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya sambil membantu Ana berdiri dengan tegak.
Ana mengibaskan tangannya yang dipenuhi tanah berlumpur. "Baiklah, sepertinya tanganku harus segera dicuci. Terima kasih bantuan Anda," ujar Ana. Dia berjalan perlahan dan sedikit agak terhuyung.
Pria berambut putih itu sedikit khawatir pada langkah Ana yang limbung.
"Biar kubantu kau, Nyonya," ujar pria tua itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja. Aku akan segera menbersihkan ini." Ana menunjukkan tangannya.
"Di mana rumahmu?" tanyanya lagi.
"Aku menyewa rumah itu." Tapi melihat kejadian hari ini, membuatku merasa lingkungan ini tidak aman. Jadi nanti aku pikirkan untuk mencari tempat yang lebih aman" ujar Ana.
Pria itu terpaku. Ternyata wanita paruh baya yang baru dikenalnya, tinggal di area sekitar.
Ana membuka kunci pagar dan masuk ke halaman.
"Selamat Siang," ujarnya sopan, sebelum berpaling dan berjalan cepat menuju rumah.
__ADS_1
"Aku bahkan belum sempat menanyakan namanya," guman pria berambut outih.
*********