
Keduanya kini berada di kapal selam mini yang sebelumnya dibawa Ammo. Ana tidak bertanya apapun tentang itu. Perhatiannya berfokus pada keadaan sekitar yang terus bergetar.
Ammo sudah menyalakan mesin, kapal selam itu kini turun perlahan ke dalam air. Air didermaga itu bergolak. Bukan cuma karena gerakan turun kapal yang mereka tumpangi, tapi karena guncangan yang diterima dinding pelindung serta batu-batu karang yang menjadi fondasi kastil tersebut.
Kapal selam itu tak bisa dipaksa turun lebih cepat. Selain karena lorong buatan yang berukuran pas dan tegak lurus ke dalam bumi, Memaksakan turun dengan cepat hanya akan membuat air makin bergolak tak karuan.
Lima menit yang menegangkan akhirnya terlewati. Di depan sudah terlihat lorong terbuka. Ammo mengalihkan fungsi mesin untuk berjalan maju.
"Apakah batu-batu karang ini kuat menerima hantaman rudal?" tanya Ana khawatir.
"Hemm ...."
Ammo hanya berdehem. Dia sedang berkonsentrasi mengemudikan kapal selam itu keluar dari terowongan.
"Kau lebih baik kendalikan ini agar dia juga bisa keluar dengan selamat." Ammo menyerahkan perangkat kendali.
"Ini seperti kendali kendaraan RC!" celetuk Ana. Alat itu sungguh tidak meyakinkan.
Ammo tak menanggapi ejekan Ana.
"Apa yang sedang aku kendalikan ini?" tanya Ana. Di layar alat kendali berbentuk tuas itu, ada layar. Yang terlihat disitu adalah satu benda putih.
"Kapal selam di belakang? Maksudmu, kapal selam yang kita naiki waktu itu?" tanya Anna
"Hemmm ..."
Ammo kembali berdehem.
"Untuk apa kita membawanya keluar?" tanya Ana asal.
"Ya untuk menyelamatkannya. Apa kau tau berapa harga alat itu?" jawab Ammo ketus.
Kali ini Ana yang tidak menanggapi.
"Ammo!" panggil Ana.
"Mmn?"
Ammo menggumam singkat. Matanya sibuk mengelakkan bebatuan karang yang mulai berjatuhan di jalur keluar. Jika kapal selam itu terkena hantaman salah satu batu, lalu menjatuhkan kendaraan ini, maka mereka akan terkubur di sini selamanya.
__ADS_1
"Beritahu aku, siapa aku sebenarnya," pinta Ana.
"Ana!" jawab Ammo singkat.
"Yang lainnya!" desak Ana.
"Tak ada yang lainnya kalau kita tak keluar dari sini secepatnya!" ujar Ammo tegas.
"Perhatikan alatmu!" perintahnya.
"Aahhhh! Hampir saja!"
Kapal yang dikendalikannya hampir menabrak dinding karang karena mengelakkan runtuhan batu. Sekarang Ana ikut berkonsentrasi.
"Pintu keluar ada di depan," ujar Ammo senang.
Ana juga ikut bersemangat. Dia harus menghindari banyak batu yang berjatuhan dari langit-langit lorong bawah tanah.
Makin dekat ke luar, gejolak air makin besar. Kapal selam itu makin sulit dikendalikan. Keduanya harus menstabilkan kendaraan air ini. Jika terus terombang ambing, mereka bisa menabrak batu-batu karang di dinding lorong.
Ammo bahkan kesulitan untuk membuat posisi kendaraannya tetap berada di tengah. Begitu pula Ana.
Terdengar bunyi asing di bagian atap kapal selam. Sebuah batu tampaknya jatuh menimpa saat keluar.
"Lolos!" seru Ammo tertahan.
Namun rasa khawatirnya belumlah hilang. Kapal yang dikendalikan Ana, sedikit lebih besar dari pada yang dikendarai Ammo. Dan itu berarti lebih dulu untuk lolos.
Ana berkonsentrasi. Dia harus segera lolos, agar mereka bisa kabur dari situ secepatnya. Pelan-pelan dia membawa kapal itu maju.
"Cepat! Kita ini sudah berada di luar. Mereka akan mudah menemukan kita!" ujar Ammo mengingatkan.
"Diam! Kau cerewet!" ujar Ana gusar.
Ammo terdiam. Tapi pria itu sama sekali tak marah. Sebaliknya, bibirnya mengulas kan senyum rahasia.
"Ayo ... kau pasti bisa!"
Ana menahan nafas. Kapal selam di belakang sedang melewati lubang jarum di pintu keluar.
__ADS_1
"Selesai?" tanya Ammo.
"Apa ini sudah selesai?"
Ana yang tidak mengerti, menunjukkan alat kendali itu pada Ammo.
"Itu selesai. Sekarang kita setel arah tujuannya secara otomatis."
Jari-jari Ammo dengan lincah menekan beberapa tombol yang ada di bagian bawah layar. Memasukkan koordinat yang Ana tak tau itu ke arah mana. Lalu alat itu diletakkan di sisi Ammo. Ammo melihat radar di jam tangannya. Ada banyak titik di dalam area yang ditandainya. Bibirnya menyeringai kejam.
" I got you!" gumamnya halus.
"Pasang seatbelt-mu," ujar Ammo dingin.
Ana memasang seatbelt ketika melihat Ammo juga melakukannya.
"Apa dia mau ngebut? Bagaimana cara ngebut di dalam air?" batinnya.
Ammo segera menggerakkan kapal menjauhi area kastil. Riak gelombang air makin kuat. Tapi kapal selam mereka juga melaju makin kencang.
"Ammo, aku masih mau hidup! Ini lautan. Kau bisa saja menabrak karang di dalam kegelapan. Atau menabrak kapal nelayan. Atau ikan paus!" Kata Ana dengan suara bergetar.
Suaranya bergetar bukan cuma karena takut, tapi juga karena guncangan yang tercipta akibat daya dorong yang kuat saat membelah air.
Tiba-tiba, kapal selam itu seperti dilontarkan. Kapal itu berputar-putar di dalam air yang bergoyang keras. Ammo berusaha menguasai kendaraannya. Beberapa kali mereka masih terdorong. Wajah Ammo membeku. Tapi meskipun sangat marah, dia tetap menjalankan kendaraan itu dan pergi dari sana secepatnya.
"Apa itu tadi?" tanya Ana heran.
"Kastil milik mama, meledak!" jawab Ammo dengan suara sedingin es.
"Oh, tidak! Mereka pasti akan dihabisi Ammo!" pikir Ana.
"Ya Tuhan! Koleksi baju jutaan dollar itu!" seru Ana seketika.
Wajahnya memucat. Satu lemari koleksi gaun couture dan perhiasannya serta parfum mahalnya! Belum lagi kastil megah yang tak bisa Ana hitung berapa nilainya. Tak terbayangkan berapa besar kerugian yang diderita Ammo demi melindunginya.
"Apakah dia bagian dari masa laluku? Apakah dia penting untukku? Kenapa aku tak bisa mengingatnya?" batin Ana resah.
*******
__ADS_1